Mary mundur selangkah saat Gideon bergerak mendekat padanya. Pria itu bergerak dengan anggun seperti seekor harimau yang menemukan mangsa lemah sementara Mary mundur dengan lebih cepat. Sayangnya, dinding menghalangi Mary untuk semakin menjauh dari pria yang menatapnya dengan senyum bengis itu. Ternyata ingatan Mary salah. Pria itu jauh lebih keji daripada yang terakhir kali Mary ingat. Wajahnya yang dingin dan tatapannya yang kosong, tampak seribu kali lebih menyeramkan. Mengingatkan Mary bahwa Gideon bukanlah pria waras. Gideon bukanlah manusia. Pria ini monster dalam balutan wajah tampan dan setelan mewah. Seharusnya Mary segera berlari menjauh atau berteriak meminta tolong. Akan tetapi, kakinya tidak bisa bergerak. Bibirnya terasa kelu. Lehernya juga terasa sakit menahan air mata

