28

1640 Kata

 Sepanjang malam itu, Mary tertidur dengan sangat nyenyak. Meskipun sempat berbaring gelisah karena gairah yang menguasai tubuhnya, tetapi lama-kelamaan Mary merasa rileks karena tahu ia aman di sini bersama Ben. Ia jatuh tertidur tanpa mimpi buruk yang selalu mengganggunya semenjak hari pernikahannya dengan Gideon dimulai. Bahkan dirinya tidak terbangun tengah malam dengan jerit ketakutan seperti yang selalu ia alami hampir setiap malam. Pagi ini, Mary bahkan juga bisa tersenyum ketika membuka matanya. Dan senyumnya semakin lebar ketika hidungnya mencium sesuatu yang sangat harum. Ben memasak. Jam berapa pria itu bangun dan berbelanja ke tempat Laila? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk pergi berbelanja? Mata Mary menoleh menatap jam mejanya dan membelalak saat melihat angka sembilan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN