122

825 Kata

Lara melihatnya dengan jelas, tanpa jeda, tanpa sempat menipu diri sendiri—ketika bibir Niko menyentuh bibir Marinka di bawah sorot lampu yang terang dan sorakan yang meledak di sekeliling mereka. Tepuk tangan bergemuruh, tawa mengalir ringan, seolah itu hanya adegan romantis yang layak dirayakan. Namun bagi Lara, momen itu seperti sesuatu yang pelan-pelan mencabut napasnya sendiri. Tidak ada suara yang keluar darinya, tidak ada reaksi berlebihan—hanya satu rasa yang menekan dari dalam daada, berat, sesak, dan terlalu nyata untuk diabaikan. Ia mundur tanpa sadar, satu langkah, lalu satu lagi, sebelum akhirnya berbalik. Tumitnya menghantam lantai dengan ritme yang semakin cepat, langkahnya memanjang seolah ia harus menjauh sejauh mungkin dari apa yang baru saja ia lihat. Lorong terasa panj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN