PART 6 : MEMBANDINGKAN

1088 Kata
Pagi ini di kediaman Raihan terdengar suara keributan yang berasal dari sang anak gadis yang lupa menaruh kaos kaki putihnya yang mempunyai lambang sekolah dan juga buku pelajaran IPA nya yang akan di bawanya hari ini ke sekolah. "Aduh! Di mana sih kaos kaki sama bukunya kok gak ada, padahal kan udah aku taruh di tempat biasa" gerutu Davina sambil membongkar lemari baju dan rak bukunya. "Carinya pelan-pelan sayang, kalau kamu kaya gitu nyarinya gak bakal ketemu" ucap Fifi yang sedari tadi juga ikut membantu mencari barang tersebut. "Davina dari tadi udah nyari, Ma, Tapi gak ketemu-ketemu. Gimana dong ini? mau nangis aja rasanya" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Jangan nangis dong, nanti juga bakal ketemu kok" sahut Fifi sambil terus mencari barang yang di cari oleh sang anak. Mata Fifi pun tak sengaja melihat ke arah kaos kaki putih yang tertindih oleh beberapa baju diatasnya. Fifi pun kemudian mengambil kaos kaki tersebut dan melihat ada lambang sekolah sang anak di sana. "Davina, Ini apa?" ucap Fifi sambil mengangkat kaos kaki putih tersebut ke arah sang anak. "ASTAGA! Kok, Mama bisa nemu sih? Davina dari tadi nyari gak ketemu-ketemu loh" sahutnya sambil mengambil kaos kaki tersebut di tangan sang Mama. "Kamu nyarinya aja grasak grusuk gitu, gimana mau ketemu coba" ucap Fifi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Davina yang mendengar ucapan sang Mama pun seketika cemberut. "Namanya juga lagi panik, Ma. Kalau Davina gak make kaos kaki itu nanti di hukum apalagi ini hari senin, pasti bakalan di razia sama pihak sekolah." "Tinggal buku pelajaran kan lagi yang belum ketemu?" tanya Fifi. Davina yang ingat akan buku pelajarannya itu pun di landa panik kembali. "Duh! iya ya, Ma. Bukunya belum ketemu, gimana dong ini?" "Davina, Ini buku pelajaran kamu kok ada di meja kerja Papa?" sahut Raihan dari arah belakang. Baik Fifi maupun Davina langsung berpandangan satu sama lain. Fifi yang melihat itu pun menghela nafasnya, sedangkan Davina dengan cepat menghampiri sang Papa dan mengambil buku tersebut dari tangan lelaki itu. "Oh iya, Davina baru ingat kalau waktu itu pernah ngerjain tugas di meja kerjanya Papa dan Davina kelupaan pernah naruh buku itu di sana" cengirnya menatap ke arah sang Mama. "Makanya sayang, kalau nyari itu harus di ingat-ingat dulu atau nyarinya pelan-pelan gak usah grasak grusuk kaya tadi. Yaudah ayo berangkat sekolah, nanti telat lagi" ucap Fifi. "Ayo, Ma" sahut Davina. "Davina berangkat bareng Papa aja. Davina tunggu di mobil dulu" ucap Raihan pada sang anak. "Oke, Papa" sahut Davina dan berlalu meninggalkan kedua orang yang masih berada di sana. "Tadi kenapa?" tanya Raihan. "Oh itu, Davina lupa naruh kaos kaki sama buku pelajarannya" jawab Fifi dan kemudian meninggalkan lelaki itu. Raihan pun mengikuti Fifi yang ternyata menuju ke depan rumah. "Davina, tadi Mama ada naruh bekal di dalam tas kamu. Jangan lupa di makan ya ..." ucap Fifi. "Siap, Mama" sahut Davina. "Nanti kalau pulangnya biar Mama aja yang jemput" ucap Fifi. "Gak usah, Davina biar sama saya aja" sahut Raihan dari belakang. "Serius?" tanya Fifi. "Iya" jawab Raihan Fifi pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Saya pergi" ucap Raihan. Fifi pun mengulurkan tangannya ke arah Raihan untuk menyalimi suaminya itu. Namun, Raihan justru mengambil beberapa uang di kantong celananya yang membuat Fifi langsung berdecak kesal dan mengambil tangan lelaki itu kemudian menyaliminya. Tindakan Fifi tersebut membuat Raihan seketika terdiam. "Aku bukan mau minta uang. Aku cuman mau salim doang. Hati-hati berangkatnya" ucap Fifi. Raihan pun mencoba berdehem guna menghilangkan rasa gugupnya yang tiba-tiba saja muncul. Dan kemudian melangkahkan kakinya ke arah mobil. Mobil yang di kendarai oleh Raihan itu pun sedikit demi sedikit hilang dari pandangan mata Fifi. Setelahnya perempuan itu pun masuk ke dalam rumah. ***** Raihan yang sedang berada ruangannya pun melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 11.00 wib siang, yang tandanya sang anak sudah pulang sekolah. Lelaki itu pun melepaskan jas Dokter yang di pakainya dan bersiap untuk menjemput sang anak. Namun, belum sempat lelaki itu keluar dari ruangannya, pintu ruangan itu pun di ketuk oleh seseorang dan munculah seorang yang berpakaian perawat masuk ke dalam. "Maaf dok mengganggu, saya hanya ingin menyampaikan jika pasien atas nama Riko di ruang anak 3 harus segera di operasi. Kondisi anak itu semakin parah apalagi anak tersebut terus mengeluh sakit di bagian perutnya" ucap perawat yang bernama Mira tersebut. "Baik, seperti yang kita duga jika keadaan seperti ini akan terjadi. Siapkan ruang operasi segera, saya akan segera ke sana" sahut Raihan. Perawat itu pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Raihan dengan cepat mengirimi pesan kepada Fifi untuk menjemput Davina di sekolahnya dan kemudian bergegas pergi ke ruang operasi. ***** Di sisi lain, Fifi yang sedang menunggu kedatangan Davina di rumah pun menyiapkan makan siang untuk sang anak. Namun, setelah dua setengah jam lamanya perempuan tersebut menunggu kedatangan sang anak, yang di tunggu-tunggu tidak kunjung menampakan diri. "Apa Davina ikut kak Raihan ke rumah sakit ya? Tapi kok rasanya perasaan aku gak enak gini. Hubungin kak Raihan aja kali" gumam Fifi dan setelahnya perempuan itu pun menghubungi lelaki tersebut. Panggilan pertama dari Fifi tidak di angkat oleh Raihan. Bahkan, sampai panggilan yang kelima perempuan itu lakukan panggilan tersebut tak kunjung di angkat lelaki itu. Sampai pada akhirnya terdengar suara deru mobil dari arah luar yang membuat Fifi langsung berlari ke depan. Fifi yang sudah sampai di depan rumah pun mengerutkan keningnya karena melihat lelaki itu hanya datang sendirian. "Davina mana?" Raihan yang sedang berjalan itu pun sontak menghentikan langkahnya dan menatap perempuan di depannya dengan raut wajah bingung. "Bukannya saya tadi nyuruh kamu untuk menjemput Davina di sekolah? Tunggu-tunggu, jangan bilang kalau Davina belum di rumah?" "Davina gak ada di rumah, di ---" "Kamu itu gimana sih ngurus anak kaya Davina aja gak becus. Saya sudah mengirimkan pesan sama kamu untuk menjemput Davina di sekolahnya. Tapi kenapa kamu gak jemput dia, hah! Kamu tau Fi? Kamu itu berbeda sekali dengan Indah. Kamu tidak bisa di andalkan sama sekali, berbeda dengan Indah" potong Raihan dan kemudian dengan cepat memasuki mobilnya kembali untuk pergi ke sekolah sang anak. Setelah kepergian Raihan dari sana, setetes air mata jatuh membasahi wajah cantik milik Fifi. Baru kali ini rasanya perempuan itu merasa di bandingkan oleh seseorang dan kata-kata yang di lontarkan lelaki itu terdengar sangat menyakitkan. Fifi pun segera membuka ponsel miliknya dan memeriksa apakah ada pesan masuk dari Raihan dan ternyata tidak ada sama sekali pesan yang masuk ke ponselnya dari lelaki tersebut. "Ngirim pesan dari mananya, sedangkan di ponsel gue aja gak ada. Kesel banget rasanya. Ini lagi, air mata pake jatuh segala" gumam Fifi dan setelah itu pergi ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN