Diva kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Membuka toko, membuat adonan kue, serta melayani pelanggan. Walaupun terlihat biasa saja sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Patah hati membuat dirinya kacau. Lebih sering melamun, bengong, susah tidur, jarang makan dan kadang masih menangis. Yang ia ingat hanyalah Rangga. Tak ada bedanya dengan Rangga. Setiap hari cowok itu melakukan pekerjaan seperti biasa namun ia terlihat seperti robot. Berangkat kerja - pulang kerja. Tidak ada Rangga yang ramah apalagi canda tawanya. Yang berputar di kepalanya hanya Diva. Dia merindukan gadis itu. "Ada yang nyariin kamu, " Kata Widodo pada Rangga yang sibuk memandang layar komputer. "Siapa? " Tanya Rangga tanpa mengalihkan pandangannya. "Lihat sendiri. " Setelah itu Widodo pergi. Rangga melihat ke

