Ada pembicaraan dengan ayahnya yang membuat Rangga kepikiran. Tadi saat di rumah orang tuanya, ketika dia dan sang ayah mengobrol di teras rumah sambil main catur. Diva membantu ibu tiri Rangga membersihkan meja makan lalu mencucinya sedangkan Alif sudah tertidur karena kekenyangan. "Papa senang kamu bawa calon mantu papa ke rumah. " Rangga hanya menanggapinya dengan senyuman. "Dia cantik, sopan, baik pasti dan yang papa suka dia sayang dengan anak-anak." Hening sesaat. "Kamu sudah besar. Kamu sudah dewasa. Sudah pantas untuk menikah. Bukanya papa menyuruh kamu untuk segera menikah tapi kalau kamu sudah serius mending di resmikan saja. " Rangga masih diam. Melihat papan catur yang ada di hadapannya. "Bukanya papa maksa kamu. Wanita itu butuh kepastian. Papa juga sadar pergaulan j
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


