Annita duduk termenung di dekat jendela kamarnya, tempat ia dirawat. Masih ada tiang infus yang menjulang tinggi di sampingnya. Ia menatap ke luar jendela dengan memandangi beberapa pasien yang tengah duduk di taman rumah sakit. Didominasi oleh orangtua yang duduk di kursi roda, ada juga beberapa anak kecil yang tengah disuap oleh orangtua mereka. Seorang anak. Annita kembali tersenyum masam, merunduk dalam dengan memandangi perutnya yang rata. Tangannya terulur, mengusap lembut perutnya yang terasa hampa itu. Tidak terasa tetesan air matanya jatuh begitu saja membuat ia langsung menyekanya cepat. Tidak membiarkannya dirinya untuk berlarut dalam kesedihan. Terlebih suaminya telah mengatakan perkataan hangat untuknya, agar ia bisa kembali semangat untuk menjalankan hidupnya. Walau sekar

