Adnan menggerakan mata tidak tenang, memandangi kedua tangannya yang masih gemetaran. Keringat sampai bercucuran pada pelipisnya, padahal ia hanya menggendong Annita sambil berlari memanggil dokter saking paniknya. Tapi, tangannya tidak berhenti gemetaran. Jantungnya pun, bergerumuh kuat tidak tenang. Khawatir juga kalau akan ada yang terjadi pada Annita. Terlebih ia melihat Annita pendarahan separah itu, ia takut kalau kandungan Annita kenapa-napa. Adnan makin panik karena Annita tidak sadarkan diri. Walaupun, begitu, Adnan bisa melihat sendiri kalau perempuan yang pernah singgah di hatinya itu sangat kesakitan. "Walinya Ibu Annita?" Adnan sontak berdiri dengan meneguk ludah pahit, menatap seorang suster di depannya yang memakai masker. Sesaat suster menurunkan masker dengan menat

