Laki-laki itu masih terbaring di atas ranjang dengan posisi telentang. Mengerjap-ngerjapkan matanya bosan dengan berulangkali melirik pintu masuk berharap ada yang datang menjenguknya. Ia mendecak kasar, apalagi mengetahui kalau kakeknya pergi dengan Annita tadi. Entah hal apa yang akan mereka bicarakan sampai harus bertemu pagi-pagi di rumah sakit. Dan sekarang mereka pergi tanpa menjelaskan apa-apa pada Alfi. Memang tidak mungkin Annita akan menjelaskan tentang apa yang akan Annita dan kakeknya bicarakan. Bahkan, mengucap pamit pun, tidak. Annita tentu saja masih benci dengannya. Tidak mungkin dalam beberapa hari kemarahan Annita memudar begitu saja hanya karena ucapaan maafnya. Ia menghela napas kasar, bertepatan dengan pintu di depannya terbuka lebar membuat ia sontak menolehkan ke

