Langit melangkah gontai menuju kamarnya dengan wajah babak belur. Tubuhnya juga seperti remuk karena dihajar oleh Alfi. Pemuda itu perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur, tatapannya lurus mengarah pada langit-langit kamarnya. Pandangannya kabur dengan kepalanya yang kembali terasa pusing. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa bisa berada di satu ranjang yang sama dengan Annita. Terlebih di rumah Alfi–– suaminya Annita. Segila-gilanya ia yang memang menyukai Annita, tapi hanya sebatas itu. Ia tidak ada niat untuk merebut Annita dari Alfi atau pun berusaha membuat perempuan itu suka padanya. Tidak, Langit sama sekali tidak ada keinginan sekotor itu. Lagipula, Annita tidak akan menggubris perasaannya, bahkan perempuan berkerudung itu seakan menaris garis yang tidak bisa Langit lewati.

