Bab 32 Plak! Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Peter. Di hadapan Peter, kini Aurora sudah mengeraskan rahang dan juga menahan napasnya yang naik turun tidak karuan. "Kamu?" Peter menatap Aurora seraya memegangi pipinya. "Kenapa menamparku?" "Kamu tanya kenapa?" Aurora berseru. "Kamu keterlaluan! Kamu pikir aku apa?" Peter menggerak-gerakkan tulang rahang supaya rasa perih pada pipinya sedikit mereda. Ia kemudian kembali menatap Aurora. "Aku minta maaf, aku tidak bermaksud." Aurora membuang napas ke udara lalu membuang muka. Rasanya kesal, sungguh kesal. Namun, Aurora tidak tahu harus bagaimana. Ia marah, tentu saja. "Aku pergi," kata Aurora kemudian. "Hei, hei!" Peter menghadang langkah Aurora, tapi Aurora tetap berjalan hingga terpaksa Peter berjalan mundur. "Minggir!"

