Sebenarnya Mark tak sabar menunggu, ia ingin berdua saja dengan Erlita, untuk saat ini. Tiba-tiba, pintu kamar rawat diketuk, dan masuklah Ardi. Seorang pria asing bagi Mark, yang berdiri sambil tersenyum lebar melihat Erlita, membawa kantong plastik berisi makanan rumahan yang hangat. "Er, maaf aku terlambat. Jalanan macet parah. Aku bawakan soto ayam kesukaan Ibumu," kata Ardi riang, sebelum matanya menangkap sosok Mark yang berdiri seperti patung kekuasaan di samping Erlita. Senyum Ardi segera memudar. Mark dan Ardi saling berpandangan. Kekosongan di meja kerjanya hari ini, kebasahan di mobilnya semalam, rasa cemburu yang membakar di dadanya—semua berpusat pada kehadiran pria lugu yang membawa soto ayam ini. Ardi mendekat, mencoba bersikap ramah meskipun ia mengenali pria berjas m

