Langit malam di atas kota terasa berat. Awan kelabu menggantung, menutup sinar bulan yang biasanya menenangkan. Jalanan basah setelah hujan sore tadi, memantulkan lampu jalan yang temaram. Di dalam mobil berwarna hitam itu, suasana lebih muram dari luar.
Aruna duduk di kursi penumpang depan, matanya menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya masih kacau oleh kejadian sore tadi—berkas medis di meja Raka, nama ayahnya tercantum di sana, lalu pertengkaran yang membuat dadanya sesak. Ia menekuk bibir, menahan perasaan campur aduk yang belum sempat ia uraikan.
Di sisi lain, Raka duduk di balik kemudi. Kedua tangannya menggenggam erat setir, otot-otot lengannya tegang, matanya fokus ke jalan. Wajahnya keras, dingin, tanpa sepatah kata pun keluar sejak mereka masuk mobil.
Keheningan itu menyesakkan. Hanya suara mesin yang meraung pelan, menyusuri jalanan sepi menuju arah markas militer.
Aruna akhirnya membuka suara, pelan namun penuh gemetar.
“Kenapa… kau tidak pernah mau jujur?”
Raka tidak menoleh. “Sekarang bukan waktunya membahas itu.”
Jawaban singkat, tajam, menusuk hati Aruna lebih dalam. Ia menggenggam tangannya sendiri, berusaha menahan gejolak yang membakar.
“Mengapa selalu begitu, Raka? Setiap kali aku ingin tahu, kau hanya menyuruhku diam. Apa kau pikir aku ini boneka yang bisa dipindahkan sesuka hati?”
Raka menghela napas berat, tapi tetap tidak menoleh. “Aku hanya menjalankan tugas.”
Kata-kata itu lagi. Kata yang sama, dingin, tanpa ruang untuk diskusi.
Aruna menoleh padanya, matanya berair. “Tugas? Kalau semua hanya tentang tugas, lalu aku ini apa bagimu?”
Hening. Tidak ada jawaban.
Keheningan itu makin menusuk. Sampai tiba-tiba—
DOR!
Suara letusan keras memecah kaca spion samping. Aruna menjerit, tubuhnya refleks menunduk. Raka segera memutar setir, mobil berbelok tajam ke kanan, ban berdecit melawan aspal basah.
“Pegangan!” bentak Raka.
Aruna menempelkan punggung ke kursi, kedua tangannya gemetar memegang dashboard. Jantungnya berdetak kencang, kepalanya menoleh ke belakang. Ia sempat melihat kilatan cahaya dari ujung gang, lalu suara motor meraung, semakin mendekat.
DOR! DOR! Peluru lagi-lagi menghantam bodi mobil, kaca belakang retak.
Raka melajukan mobil sekencang mungkin. Mata tajamnya menyapu spion, menghitung jumlah motor yang membuntuti. Tiga, tidak—empat!
“b******k…” desisnya. Ia menginjak pedal gas lebih dalam.
Aruna terisak. “Mereka… mereka menembaki kita! Siapa mereka?!”
“Diam dan tunduk!” Raka mengeluarkan pistol dari sarung di pinggangnya, satu tangan tetap memegang setir.
Aruna menunduk gemetar, memeluk lutut. Suara peluru terus berdentum, memantul di dalam kepalanya.
Mobil berbelok tajam masuk ke jalan kecil. Lampu jalan lebih redup, bayangan gedung membuat suasana semakin mencekam. Motor-motor itu terus mengejar, suara knalpotnya meraung, disusul kilatan peluru yang menembus udara.
Raka membuka jendela sedikit, mengangkat pistol. Dengan satu tangan, ia menembak ke arah salah satu motor. DOR! Motor itu oleng, pengendaranya jatuh terguling di aspal, teriakan nyaring terdengar.
Tiga motor tersisa. Mereka makin dekat, salah satunya menyalip ke samping, berusaha menembak dari sisi kanan.
Aruna menjerit saat kaca depan retak dihantam peluru. Pecahan kecil berhamburan, melukai pipinya. Ia mengusap darah tipis dengan gemetar.
“Raka!” suaranya tercekat.
Raka menggertakkan gigi, matanya tetap fokus. “Aku bilang tunduk!”
Ia membelokkan mobil lagi, kali ini ke arah jalan yang lebih sepi, nyaris tanpa penerangan. Motor di samping makin dekat, moncong senjatanya terarah tepat ke kursi Aruna.
Aruna melihatnya, matanya membelalak. “Raka! Dia—!”
BRAK!
Raka menghantamkan mobil ke sisi motor itu. Motor terpental, pengendaranya jatuh menghantam dinding bangunan. Suara dentuman keras menggema.
Dua motor tersisa.
Aruna menutup mulutnya, tubuhnya gemetar tak terkendali. “Kita… kita akan mati…”
“Tidak selagi aku ada di sini,” jawab Raka dingin.
Peluh bercucuran di pelipisnya, namun sorot matanya tetap tajam.
Mobil melaju kencang, ban menggilas genangan air. Suara sirene samar terdengar jauh, tapi belum cukup dekat untuk menolong.
Aruna mulai sulit bernapas. Dadanya naik turun, matanya basah. Di antara dentuman senjata, ia merasakan teror yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Raka menoleh sekilas, melihat wajah pucat Aruna. Ada sebersit rasa perih di dadanya, tapi ia tidak boleh goyah.
“Pegangan erat. Ini belum selesai.”
DOR! DOR!
Peluru kembali menghantam, kali ini mengenai ban belakang mobil. Kendaraan oleng, Aruna berteriak panik.
Raka mengendalikan setir sekuat tenaga, matanya fokus. “Jangan lepas sabuk pengamanmu!”
Mobil berbelok liar, hampir menabrak tiang listrik, tapi berhasil kembali lurus. Motor pengejar masih menempel, suaranya meraung ganas.
Aruna mulai terisak tanpa bisa ditahan. Tangannya mencari pegangan, akhirnya meremas lengan Raka yang kokoh. “Aku… aku tidak bisa…”
Raka tidak menjawab, tapi genggaman itu membuatnya semakin bertekad.
Ia melirik spion sekali lagi, menghitung jarak, lalu menginjak rem mendadak.
Motor di belakang tidak siap. Mereka menghantam bagian belakang mobil dengan keras, tubuh pengendara terpental ke udara. Suara berdebam keras mengisi jalan.
Namun masih ada satu motor tersisa. Dan pengendara itu tampak lebih terlatih, gerakannya cepat, senjatanya stabil.
Aruna menjerit lagi saat kaca sampingnya pecah, pecahan kaca beterbangan, melukai lengan. Ia menunduk, tubuhnya kaku.
Raka menembakkan peluru balasan, tapi pengendara itu gesit, menghindar sambil tetap mengejar.
Mobil kini meluncur ke arah jembatan sepi. Lampu jalan di sana sebagian mati, hanya menyisakan bayangan gelap yang panjang.
Aruna merasa tubuhnya kaku seperti batu. Ia berbisik lirih, hampir tak terdengar. “Tolong… hentikan semua ini…”
Raka mendengar, tapi tak sempat merespons. Ia tahu, malam ini belum selesai.
Raka menekan pedal gas sekuat tenaga, mobil melaju kencang di atas jembatan gelap. Satu-satunya motor yang tersisa masih membuntuti, lampu depannya menyilaukan spion, bayangan pengendaranya seperti siluet kematian yang tak mau pergi.
Aruna menempel di kursinya, tubuhnya gemetar hebat. Air matanya sudah bercampur dengan darah tipis di pipi akibat pecahan kaca. Ia hampir tak bisa berpikir jernih, hanya satu yang ada di benaknya: mereka bisa mati malam ini.
“Dia tidak akan berhenti,” suara Raka rendah, penuh tekanan.
Aruna mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Kenapa mereka memburu kita?! Aku bahkan tidak tahu siapa mereka!”
“Dan kau tak perlu tahu,” jawab Raka singkat. Tapi nada suaranya goyah, ada sesuatu yang ia sembunyikan.
DOR!
Peluru melesat lagi, menembus pintu samping dekat Aruna. Ia menjerit, spontan merunduk hingga nyaris bersembunyi di bawah dashboard. Tubuhnya gemetar hebat.
Raka mendengus, matanya tajam menatap ke depan. Ia tahu mobil tak akan bertahan lama. Ban sudah terkoyak, bodi berlubang. Ia hanya punya satu pilihan: menghabisi pengejar itu, atau mereka berdua yang tamat.
Ia meraih radio komunikasi yang terpasang di dashboard, mencoba memanggil markas. “Eagle-07 memanggil, posisi jembatan timur, butuh back-up segera. Over!”
Hanya suara statis. Sinyal rusak.
“b******k,” gumamnya.
Motor itu semakin dekat, suara mesinnya meraung, seakan menantang. Pengendaranya mengangkat senjata, kali ini mengincar kepala Raka.
Aruna melihatnya, matanya melebar. “Raka! Awas!”
DOR!
Peluru melesat, hanya terlewat beberapa inci dari kepala Raka. Kaca depan pecah semakin parah, serpihannya menghujani wajah. Darah menetes dari pelipis Raka, tapi ia tidak goyah.
Dengan cepat ia membanting setir, membuat mobil oleng ke sisi kanan. Motor itu ikut berbelok, tetap menempel seperti bayangan.
Aruna sudah tak sanggup menahan tangis. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar. “Aku tidak mau mati… aku tidak mau mati…”
Raka melirik sekilas, melihat ketakutan murni di wajah Aruna. Sesuatu dalam dadanya bergetar. Ia tak boleh membiarkan gadis itu hancur malam ini.
Ia menarik napas panjang, lalu memutar mobil tajam ke jalur menurun yang menuju gudang kosong di ujung jembatan. Ban berdecit, asap tipis mengepul. Motor itu masih mengejar.
Mereka memasuki area gudang tua yang sepi, hanya diterangi beberapa lampu merkuri redup. Dinding besi berkarat memantulkan gema suara mesin.
Raka menghentikan mobil mendadak, lalu berteriak, “Keluar!”
Aruna terpaku. “A-apa?!”
“Keluar, Aruna! Sekarang!”
Tanpa menunggu, ia menarik tangan Aruna, menyeretnya keluar dari pintu yang kaca sampingnya sudah hancur. Aruna hampir tersungkur, tapi Raka menahannya.
Motor itu berhenti beberapa meter dari mereka. Pengendaranya turun, langkahnya mantap, senjata laras panjang terangkat. Wajahnya tertutup masker hitam, sorot matanya dingin.
Aruna terisak, tubuhnya gemetar tak terkendali. “Raka… kita… kita tidak akan selamat…”
Raka berdiri di depannya, tubuhnya jadi perisai. Senjatanya terangkat, tatapannya tajam. “Selama aku berdiri, tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Ketegangan menjerat udara.
Pengendara itu melepaskan tembakan pertama. DOR! DOR!
Raka mendorong Aruna agar merunduk di balik mobil, lalu membalas tembakan. Suara dentuman memekakkan telinga, memantul di dinding gudang kosong.
Aruna menutup telinga, tubuhnya meringkuk. Ia tak pernah berada di tengah baku tembak sebelumnya. Bau mesiu menusuk hidung, suara peluru menghantam besi membuat dadanya nyaris pecah.
Raka melompat ke samping, berguling, lalu menembak lagi. DOR! Pelurunya nyaris mengenai bahu lawan, tapi orang itu gesit, bersembunyi di balik tiang besi.
Pertempuran berlangsung cepat, penuh ketegangan.
Aruna, dengan gemetar, mengintip dari balik pintu mobil. Ia melihat Raka bergerak seperti bayangan—fokus, tegas, penuh keberanian. Tapi juga melihat darah yang mengalir dari pelipisnya, kemeja yang sudah robek terkena serpihan.
Hatinyanya bergetar hebat.
DOR!
Peluru lawan nyaris menghantam Raka, tapi ia sempat berlindung. Nafasnya memburu. Ia tahu pelurunya tersisa hanya dua.
Ia menoleh sekilas ke arah Aruna. Gadis itu menatapnya dengan wajah pucat, air mata bercucuran.
Ada sesuatu yang ia ucapkan tanpa suara, hanya gerakan bibir: Percayalah padaku.
Aruna mengangguk kecil, meski tubuhnya masih gemetar.
Raka lalu menarik napas panjang, menunggu momen. Saat lawan keluar dari balik tiang untuk menembak, Raka melesat cepat, berguling ke samping, lalu melepaskan dua peluru terakhir.
DOR! DOR!
Satu peluru menghantam bahu lawan, yang lain menembus kakinya. Pria itu terhuyung, senjatanya terlepas, lalu jatuh berlutut dengan erangan berat.
Suasana tiba-tiba hening, hanya terdengar suara napas memburu.
Raka berdiri tegak, pistolnya kosong, tapi tetap terarah ke lawan. Langkahnya mantap mendekat, siap jika orang itu masih melawan.
Aruna berlari mendekat, meski kakinya goyah. “Raka!”
Ia memeluk lengan Raka dari samping, tubuhnya masih bergetar. “Sudah… sudah cukup… jangan…”
Raka menatap tajam ke lawan yang kini tak berdaya, lalu menurunkan senjatanya. Ia tahu, prioritasnya bukan membunuh, tapi melindungi gadis di sampingnya.
Beberapa detik kemudian, suara sirene terdengar mendekat. Mobil patroli militer memasuki area gudang, lampu merah-biru berputar. Pasukan bersenjata turun, segera mengamankan lokasi dan menangkap pria bertopeng itu.
Akhirnya, malam mencekam itu usai.
Aruna langsung terduduk di lantai, tubuhnya lemas. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tangisnya pecah.
Raka berjongkok di sampingnya, tangannya ragu-ragu terulur. Ia ingin menghapus air mata itu, tapi tangan berdarahnya hanya bisa menggenggam bahunya pelan.
“Aruna…” suaranya parau.
Aruna menoleh, matanya merah, wajahnya penuh luka kecil. “Kenapa… kenapa semua ini harus terjadi? Aku bahkan tidak tahu apa-apa, tapi aku hampir mati…”
Tangisnya pecah lagi, kali ini lebih dalam, penuh ketakutan yang tertahan sejak awal.
Tanpa pikir panjang, Raka menariknya ke dalam pelukan. Lengan kokohnya melingkari tubuh rapuh itu, menariknya erat ke d**a.
Aruna terisak di bahunya, suaranya pecah-pecah. “Aku takut… aku benar-benar takut…”
Raka menutup mata, menahan gejolak di dadanya. Ia membiarkan bahunya basah oleh air mata Aruna, membiarkan gadis itu menumpahkan semua ketakutannya.
Untuk pertama kalinya, topeng dinginnya runtuh sedikit. Ia membisikkan kata-kata lirih, hampir tak terdengar. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Tidak akan pernah.”
Aruna meremas seragamnya, menangis semakin keras. Tapi di balik tangisan itu, ada secercah rasa aman bahwa di bahu lelaki ini, meski dunia penuh peluru, ia masih bisa merasa terlindungi.
Malam itu, di bawah langit gelap dan sirene yang memudar, dua hati yang berbeda akhirnya bertemu dalam luka dan ketakutan yang sama.