Langit malam itu gelap, seakan ikut merunduk setelah kegaduhan di rumah sakit. Sirene ambulans masih terngiang di telinga Aruna ketika mobil dinas hijau tua berhenti di depan sebuah gerbang megah dengan kawat berduri yang menjulang tinggi.
Kompleks Militer Wiratama.
Markas besar tempat kakeknya, Jenderal Wiratmaja, mengatur strategi dan memimpin ribuan pasukan.
Aruna turun dengan langkah berat. Bau tanah lembap bercampur dengan aroma besi senjata. Lampu sorot menyorot ke arah mereka, membuat bayangan tubuhnya panjang di tanah. Ia menengadah, menatap gerbang kokoh yang terasa seperti mulut penjara.
“Aku tidak akan tinggal di sini,” desisnya, berusaha menahan gemetar di bibir. Dirinya masih tak terima ia datang kembali kesini.
Raka, yang berdiri di sampingnya, hanya menoleh sekilas. “Keputusan Jenderal. Bukan pilihanku. Bukan pilihanmu.”
Nada datarnya membuat darah Aruna mendidih. “Aku bukan tahanan, Kapten! Aku punya rumah bahkan aku baru membelinya dengan gajiku, aku punya hidup. Kau tidak bisa seenaknya menyeretku ke sini.”
Raka tidak bereaksi. Ia memberi kode pada prajurit jaga, dan gerbang besi perlahan terbuka. Suara gesekannya seperti jeruji yang menutup kebebasan.
Aruna ingin berbalik, kabur, lari sejauh mungkin. Tapi tatapan dingin Raka seperti rantai tak kasat mata. Ia tahu percuma melawan malam itu.
Mereka dibawa ke gedung perwira. Interiornya kaku, dinding penuh foto perang, bendera, dan peta strategi. Cahaya lampu redup membuat suasana semakin menekan.
Jenderal Wiratmaja sudah menunggu di ruang tamu. Rambut putihnya tersisir rapi, wajahnya keras seperti batu karang.
“Aruna.” Suaranya berat, menggetarkan ruangan. “Mulai malam ini kau tinggal di markas ini. Tidak ada bantahan. Tidak ada penolakan.”
Aruna mengepalkan tangan. “Kakek, aku bukan anak kecil. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak bisa mengekangku begini. Lagian aku sudah dewasa dan berpenghasilan sendiri.”
Jenderal menatapnya, sorot matanya tajam tapi juga lelah. “Ledakan tadi bukan main-main. Itu peringatan. Mereka bisa mencarimu kapan saja. Aku tidak akan ambil risiko.”
“Tapi—”
“Cukup!” suara Jenderal memotong seperti pedang. Kesabarannya memang tak setebal itu. “Raka akan jadi pengawal pribadimu. Dia bertanggung jawab penuh atas keselamatanmu.”
Aruna terperangah. “Apa?!” Ia menoleh ke arah Raka yang berdiri tegak tanpa ekspresi. “Aku sudah cukup muak dengan dia menempeliku di mana-mana! Sekarang… sekarang dia harus tinggal atau bahkan sekamar denganku juga?!”
“Bukan sekamar,” Jenderal menegaskan dingin. “Satu gedung, satu pengawasan. Mulai detik ini, kau mengikuti aturan markas. Jam malam pukul sembilan. Tidak ada keluar tanpa izin. Titik.”
Aruna ingin menjerit. Dunia seakan menutup ruang geraknya. Namun, tatapan kakeknya terlalu tegas untuk dilawan malam itu.
Kamar yang disediakan untuk Aruna ternyata cukup luas, dengan ranjang kayu, meja belajar, dan jendela kecil berjeruji. Namun, semua itu tetap terasa seperti sel penjara baginya.
Ia melempar tasnya ke ranjang, lalu menjatuhkan diri dengan kasar. “Astaga… ini gila,” gumamnya.
Belum sempat ia menenangkan diri, pintu terbuka. Raka masuk begitu saja.
“Hei!” Aruna bangkit, matanya membelalak. “Apa kau tidak tahu arti privasi?!”
Raka menutup pintu, tetap tenang. “Saya harus pastikan ruangan aman. Peraturan markas, bukan kemauanku Nona.”
Aruna mendengus, melipat tangan di d**a. “Peraturan markas? Atau peraturanmu sendiri? Kau suka sekali memperlakukan aku seperti boneka, ya?”
Raka mendekat, sorot matanya dingin menusuk. “Kalau aku memperlakukanmu seperti boneka, Nona, kau sudah retak sejak lama. Dunia ini jauh lebih kejam daripada egomu itu.”
Aruna terdiam sejenak. Kata-kata itu menusuk, tapi ia tidak mau kalah. “Kau pikir aku akan patuh hanya karena ancaman murahanmu?”
“Bukan ancaman,” Raka menurunkan suara, nyaris seperti bisikan. “Peringatan.”
Hening sesaat. Suara detak jam di dinding terdengar jelas.
Aruna menghela napas kasar, lalu berjalan ke lemari pakaian. Ia mengeluarkan kaos longgar dan celana pendek. “Kalau kau memang pengawal, keluarlah. Aku mau ganti baju.”
Namun Raka tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak bergeser.
Aruna menoleh cepat, wajahnya merah padam. “Kau gila?! Aku bilang keluar!”
Akhirnya Raka bergeming. Ia membuka pintu perlahan. Sebelum menutupnya, ia sempat berucap datar,
“Pintu ini akan tetap terkunci dari luar. Demi keamananmu.”
Brak. Pintu tertutup rapat.
Aruna terpaku, tubuhnya gemetar karena marah bercampur putus asa. Air matanya menetes tanpa ia sadari. “Aku bukan tawanan…” bisiknya getir.
Malam makin larut. Di luar, suara langkah prajurit berpatroli bergema ritmis. Dari balik jendela, Aruna menatap ke arah langit yang gelap tanpa bintang. Ia merasa terkepung, bukan hanya oleh dinding markas, tapi juga oleh sosok dingin bernama Raka yang kini jadi bayang-bayangnya.
Namun di balik amarahnya, ada sesuatu yang tak bisa ia pungkiri, rasa ingin tahu. Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa kakeknya mempercayakan hidupnya hanya pada satu orang?
Sekitar pukul dua dini hari, Aruna terbangun. Ada suara samar di luar jendela. Desiran seperti langkah kaki, tetapi bukan patroli biasa.
Ia menahan napas, tubuhnya menegang. Bayangan bergerak cepat di halaman. Hitam, menyelinap di antara tembok. Aruna menggigit bibir. Rasa takut dan penasaran bertarung dalam dadanya.
Dan saat ia hendak berteriak memanggil Raka, akan tetapi ...
Tuk! Sebuah benda kecil menghantam kaca jendela yang terbuka sedikit, karena sengaja ia buka untuk mendapatkan udara segar tadi.
Aruna tersentak mundur. Benda itu jatuh ke lantai kamarnya. Sebuah kertas terlipat, dengan bau mesiu tipis yang masih melekat.
Tangannya bergetar saat membuka lipatan itu.
Tulisan tangan kasar tergores jelas.
'Kau tidak akan aman, bahkan di markas sekalipun Aruna.'