Bertemu jodoh?

1229 Kata
            Aphrodite memejamkan matanya. Terlalu takut untuk menghadapi kematian yang ada didepan mata. Namun tiba-tiba terdengar suara berdentum keras. Aphrodite memberanikan diri membuka matanya. Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaan. Serigala itu terlempar beberapa meter dari tempatnya. Dan di depannya ada seorang lelaki yang berdiri tenang menghadapi binatang pemangsa itu.             "Kamu melanggar batas Rafe. Ini sudah di daerah kekuasaan kami. Jadi gadis ini… milikku." Kata seseorang yang sedang memunggungi Aphrodite dengan nada dingin tapi juga berkharisma. Werewolf yang di panggil Rafe itu menggeram berbahaya. Tubuhnya menegak siap menerkam lawan di depannya.             "Kamu tidak apa-apa nona?" Tanya seorang pemuda tampan yang entah sejak kapan berada di samping Aphrodite. Sepertinya dia sekelompok dengan pemuda yang sedang menghadapi serigala itu. Aphrodite memandangi orang disisinya, dan... Matanya sedikitpun tak bisa beralih dari wajah sempurna itu.             "Pergilah Rafe, Aku sedang baik hati hari ini. Kamu sendirian sedangkan kami di sini bertujuh. Sudah jelas Kamu akan mati konyol." Pemuda yang berhadapan dengan serigala itu berkata dengan sangat tenang, seakan hewan yang besarnya dua kali lipat dari tubuhnya itu bukanlah ancaman yang berarti untuknya.             Rafe menggeram rendah, tapi sejurus kemudian dia berbalik dan melesat pergi dari sana.             Pemuda yang tadi menghadapi serigala itu kini berbalik dan berjalan menuju Aphrodite. Senyum menawan  terkembang diwajahnya. Aphrodite terpana melihat senyum itu.             Aphrodite berdiri kikuk, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aphrodite terus memandangi pemuda tampan di depannya tanpa berkedip. Sampai tiba-tiba terdengar bunyi berdebum keras dan diikuti sebatang pohon roboh di samping Aphrodite.             Aphrodite shock melihat pria yang tadi berdiri di sampingnya sekarang sudah telempar beberapa meter dan menabrak pohon sampai tumbang.             "Aku menyelamatkan gadis ini bukan untuk menjadi makan malammu Blake." Mata pemuda di depan Aphrodite itu seketika menggelap. Aura kemarahan menyelubungi dirinya.             Meski dari jarak beberapa meter, Aphrodite dapat melihatnya, gigi taring yang memanjang keluar dari mulut pemuda bernama Blake tadi. "Apa mereka ini Vampire? Aku lepas dari Werewolf tapi sekarang harus berhadapan dengan vampire?"             "Dia mate-ku Blake, jadi jangan coba-coba menyentuhnya." Kata pemuda itu.             "Nona, siapa namamu?" Tanya Pemuda di hadapan Aphrodite.             "Aph.. Aphrodite.." Aphrodite menjawab tergagap. Terkejut dengan apa yang dilihatnya.             "Nama yang cantik.”Kata Pemuda itu. “Kamu pasti terkejut kenapa aku bisa bilang kamu adalah mate-ku padahal ini pertama kali kita bertemu?" Pemuda berkata to the point. Sepertinya dia tipe yang tidak suka berbasa-basi. Dia terus memandangi Aphrodite yang ketakutan. Tampaknya dia menikmati setiap kegugupan gadis itu.             "Aku menandai wilayah kekuasaan kami dengan darahku. Dan tadi, saat Kamu melewati batas wilayahku, seketika Aku merasakannya. Getaran aneh yang selama ini ku tunggu." Pemuda itu maju dan menyentuh pipi Aphrodite lembut. Ya, sekarang Aphrodite tahu getaran seperti apa yang dikatakan lelaki di depannya ini. Saat dia menyentuhnya, seluruh darahnya terasa berdesir, dadanya menghangat dan ada getaran "aneh" tetapi sangat nyaman yang menjalar di sekujur tubuhnya.             "Getaran yang hanya akan terjadi saat kita bersentuhan dengan mate kita." Mata mereka berdua bertatapan lama ... sangat lama. Seakan menumpahkan kerinduan yang tiba-tiba saja memenuhi d**a.             Sampai akhirnya Aphrodite bersuara. "A..Apa kamu juga Vampire seperti dia?" Tanya Aphrodite sambil menunjuk pada Blake yang sekarang berdiri tidak jauh dari mereka. Dia terlihat sehat dan tenang, padahal dia baru saja terlempar menghantam pohon.             "Aku Edmund dan ya, Aku memang Vampire, lebih tepatnya Pangeran Vampire.” Pemuda itu tersenyum dengan sangat menawan. Jelas sekali dia senang menebar pesonanya. “Tapi Aku bisa pastikan Aku tidak seperti dia yang cepat lapar." Jawab Edmund sembari tersenyum. Dengan sengaja memperlihatkan gigi taringnya yang runcing.             Aphrodite mundur selangkah ketakutan. "Oh Tuhan.... Kenapa hidupku jadi seperti ini???"             “Apa kamu takut padaku?” Tanya Edmund dengan wajah sedih yang kelihatan sekali sangat dibuat-buat.             “Ahh...” Aphrodite tampak bingung mau  menjawab apa. Karena dia tentu saja sangat ketakutan di kelilingi tujuh Vampire yang terlihat sangat berbahaya itu. Namun, Saat dia melihat Edmund.. Entah bagaimana tapi Aphrodite merasa begitu aman bersamanya. Seakan memang disanalah tempat harusnya dia berada.             Edmund mendekat dan menggenggam kedua tangan Aphrodite. Dia memandang gadis itu dengan penuh kasih. “Dengarkan Aku. Sudah ku bilang kan aku ini mate-mu? Aku adalah orang yang akan merasakan sakit jika kamu sakit. Aku adalah orang yang paling bersedih jika kamu sampai menangis. Jadi percayalah padaku. Aku akan selalu melindungimu. Apapun yang terjadi.” Ucap Edmund dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan.             Aphrodite seperti tersihir dengan kata-kata Edmund. Dia sedikitpun tak mampu melepaskan pandangannya dari pemuda yang berwajah sempurna itu. Akhirnya Aphrodite memutuskan untuk percaya dengan pemuda itu. Bagaimanapun juga, dia tidak tahu harus kemana dan bagaimana sekarang ini. Dan satu-satunya yang membuatnya merasa aman adalah Edmund. Pangeran Vampire yang adalah mate-nya...             Edmund yang melihat Aphrodite terlihat lebih tenang akhirnya bernafas lega. Dia senang akhirnya gadis itu menerima kehadirannya. Ikatan mate memang sangatlah kuat bagi makhluk supranatural seperti dirinya. Saat dia bertemu Aphrodite, dia tahu... dia tidak akan bisa hidup lagi jika Aphrodite memilih untuk pergi darinya.             “Baiklah. Sekarang kita harus kembali dulu. Disini masih daerah perbatasan. Tidak aman jika kita terus berada disini.” Ucap salah satu vampire yang ada disana.             Edmund mengangguk mengerti dan menggandeng tangan Aphrodite untuk mengajaknya kembali ke kastil vampire. Tempat tinggal mereka.                                                                                 ******               Langit mulai merekah merah ketika Aphrodite dan Edmund tiba di kastil milik tujuh Vampire itu. Aphrodite tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti Edmund. Setidaknya dia merasa “aman” jika bersama dengannya. Ini masih lebih baik daripada berkeliaran sendirian.             Aphrodite tidak mau dibawa Edmund berlari dengan kecepatan Vampire, dia memilih berjalan kaki dan sang Pangeran Vampire itu mau tak mau harus menemani gadisnya berjalan santai.             "Hahh.. Benar-benar  boros waktu." Pemuda berwajah tampan itu meregangkan tubuhnya lalu duduk di sofa ruang tamu. Dia menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya, memberi isyarat pada Aphrodite untuk duduk di sebelahnya.             Aphrodite duduk di sebelah Edmund, sedikit memberi jarak di antara mereka. Mereka berdiam dalam keadaan canggung yang aneh.             "Kalian lama sekali." Kata seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. Kastil itu lumayan besar, paling tidak ada sepuluh kamar tidur disana. Satu ruang makan super besar, satu ruang tamu yang menyatu dengan ruang santai, sehingga jika ruangan itu di kososngkan, bisa di jadikan tempat untuk pesta dengan tamu undangan seratus orang lebih. belum lagi dapur dan ruangan-ruangan kecil lainnya yang melengkapi kastil itu. Meski dari luar tampak tidak terawat dan sedikit menyeramkan, dari dalam tempat ini sangat nyaman untuk di tinggali.             "Ah Wil, tolong panggilkan yang lainnya, Aku ingin memperkenalkan gadisku." Edmund sedikit menekankan suaranya pada kata terakhir demi menyatakan otoritasnya.             "Mereka sudah mendengarmu Ed." Wiley mengendikkan bahu.             Satu persatu penghuni kastil itu berkumpul di ruang tamu, duduk di tempat yang tersedia dan menunggu Edmund bicara.             Aphrodite menghitung jumlah orang yang ada di ruangan itu. Ada tujuh pemuda, dan dia yakin sekali kalau mereka semua adalah vampire. Aphrodite bergidik ngeri membayangkan dirinya dikelilingi Vampire sebanyak itu. Tenggorokannya seketika terasa kering.             "Kalian sudah berkumpul. Sekarang kuperkenalkan. Ini Aphrodite, mate-ku. Gadis yang selama ini Aku tunggu. Jadi, Jangan sekali-kali melihatnya sebagai 'makanan'. Dia kekasihku jadi kalian harus menjaganya sebaik kalian menjagaku." Edmund memperkenalkan Aphrodite pada yang lainnya.             "Dia benar-benar mate-mu? Bagaimana bisa kamu punya mate seorang manusia?" Kali ini Roussel -adik bungsu Edmund- yang bicara.             "Iya. Mana ku tahu." Kata Edmund dengan tampang tak acuh. "Yang jelas dia mate-ku. MILIKU!"             "Kamu membuatnya kebingungan Ed. Jelaskan padanya siapa kami." Wiley berkomentar dengan memandang Aphrodite tajam.             "Ah, benar. Maafkan Aku Eve." Edmund memandang Aphrodite dengan sayang. Seakan mereka sepasang kekasih yang sudah berpacaran bertahun-tahun.             "Eve?" Aphrodite bertanya heran.             "Iya. Eve. Itu nama panggilan yang ku berikan untukmu, cantik kan? Terlalu panjang kalau harus memanggil Aphrodite secara lengkap." Edmund menjelaskan dengan sinar mata jenaka.             "Tapi kenapa Eve? Itu sangat berbeda dengan namaku." Aphrodite hendak protes pada panggilan Edmund yang sama sekali tidak mirip dengan namanya.             "Tapi Aku suka, sudahlah, pokoknya sekarang panggilanmu adalah Eve, Jangan membantah!" Ucap Edmund tegas. Aphrdoite hanya bisa terperangah mendengar penuturan Edmund. -to be continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN