“Kalau kau pikir aku musuh istrimu, kau benar. Tetapi, kalau kau pikir aku salah, kau salah.” Begitulah ucapan Khumaira yang masih terngiang di kepala Ta. Kalimat yang mengundang tanda tanya bagi Khalid dan Reda. Ta paham maksudnya. Ta sangat tahu dirinya semalam ada di mana, Kastil Abinaya di antara Khumaira dan Reda. Namun, Ta sudah memberi Khumaira jawaban. Ta tidak peduli. Ta benar-benar tak mau tahu apa yang membuat mereka bermusuhan, antara Reda dengan Khumaira. Lebih lagi, Ta juga tak peduli siapa yang benar atau yang salah di antara mereka. Ta hanya menjalankan misinya. Itu saja. Ta pulang dengan senyap kepalanya berisi Khumaira. Seperti hiu yang mencium aroma darah, naluri Ta bangkit tak diminta. Ta tertarik alami kepada Khumaira. Bangun pagi ini Ta masih memikirkan juga wanita

