“Mau ke mana?!” cegah Reda kepada Ta yang membuat langkah besar menjauhinya. Rasanya ia perlu melakukan perhitungan adil sebagai balasan yang Ta lakukan. Jentikan jari Ta tak sakit di keningnya, tapi Reda suka tiap kali Ta memasang telinga, serius mendengarkannya berbicara. Seolah Reda benar-benar punya seseorang, teman yang peduli. “Ck!” Ta berdecap lidah sebentar. Gara-gara melihat Reda yang menyamarkan diri jadi ubin ia sampai lupa niat semula mengapa menghampiri dapur. “Kau mau makan siang, bukan?” Reda duduk, langsung bangkit merapikan dasternya. “Aku sudah memasak. Kalau mau, segera bisa kuhidangkan.” Ta berbalik, merengut kepada Reda. Masih basah dan lembap pelipis wanita itu oleh keringat, bahkan surainya pun mengumpal jelas sebab titik peluh. “Tadinya aku hanya ingin minum.”

