Selesai dari urusannya Ta lekas kembali ke restoran tempat ia sejenak meninggalkan Reda. Dari kejauhan Ta memandangi sosok tak tenang wanita itu. Apa pun yang sedang dibacanya dalam ponsel memberi efek kejut bagi Reda. Postur duduknya yang tidak mantap seolah wanita itu akan melesak bangkit segera. Ta pun memikirkan kemungkinan seperti Arthur yang merayunya lagi atau mengirimkan deret kalimat hinaan. Ta berusaha tenang selagi menghampiri Reda kembali. Makin dekat, makin bisa ia mendengar suara ketukan yang dihasilkan jemari Reda di atas meja. Benar-benar ada hal yang tengah mengusik pikirannya. Belum sempat Ta menyapa, Reda benar-benar bangkit dari duduknya. “Kau mau ke mana?” tanya Ta tenang. Bola matanya menunjukkan keraguan. “A---aku ... Arthur ---“ “Duduk!” Sepatah nama itu muncul

