25. Perfect Wound

1587 Kata

Dhaffi memasuki ruangannya dengan rahang mengeras. Kemarahannya kali ini bukan disebabkan oleh pegawainya yang melakukan kekacauan di kantor. Tapi karena Senna yang pergi di sela-sela makan siang mereka. Apalagi saat mengetahui alasan gadis itu pergi, walaupun belum pasti Senna pergi karena menemui Arya. Namun tetap saja membuat Dhaffi marah. Dhaffi melempar bokongnya ke kursi kebesaran, pria itu merenggangkan dasinya yang terasa mencekat. Hembusan napas berat pria itu keluarkan, selaras dengan ekspresi mengerasnya yang perlahan luntur. Tangan Dhaffi bergerak, memijat keningnya yang terasa mencekam. Untuk mengalihkan emosinya, dia memilih untuk meraih iPad yang tergeletak di atas meja. Dari pada memikirkan Senna yang membuat hatinya panas, lebih baik Dhaffi mengecek keadaan anaknya. Keni

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN