Tiga Puluh Lima

1269 Kata
Ikfan kembali menghela nafasnya sebelum menjawab. "Dalilnya ada pada Al-Qur'an dalam surat Thaha ayat ke lima," jawabnya tanpa ragu. Haris terus tersenyum mendengar jawaban Ikfan. "Bunyinya?" Ikfan melirik Arkan sejenak sebelum kembali menjawab pertanyaan Haris. Bukan karena Ikfan tidak bisa menjawab dengan melirik Arkan, melainkan ia hanya iseng ingin melihat ekspresi kakaknya itu tatkala ia sedang diuji dengan pertanyaan mengenai aqidah dan manhaj oleh Haris. Sudah dikatakan bukan, bahwa Ikfan ini sangat sensitif jika berurusan tentang agama. Begitu juga dengan Arkan. Arkan justru lebih sensitif lagi jika berurusan tentang agama. "Arrahmanu 'alal 'arsyistawa," jawab Ikfan membacakan bunyi Al-Qur'an dalam surat Thaha ayat ke lima. Sifat istiwa' adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh: ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ Artinya: “Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى Artinya: “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya: Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي “Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Mendengar jawaban Ikfan, semua yang berada di ruang tamu tersenyum. "Pertanyaan selanjutnya," Haris kembali akan memberi Ikfan pertanyaan. "Bagaimana tentang takdir yang telah Allaah tetapkan?" Ikfan mengercitkan keningnya bingung mencerna pertanyaan Haris. "Takdir? Apa yang dimaksud mengenai beriman kepada takdir?" tanya Ikfan memastikan karena pertanyaan Haris ini terkesan ambigu menurutnya. Haris mengangguk. "Iya." Ikfan terdiam sesaat kemudian ia menjawab, "sesungguhnya takdir itu telah ditetapkan oleh Allaah sampai hari kiamat." "Dalilnya?" tanya Haris. "Wa 'indahụ mafātiul-gaibi lā ya'lamuhā illā huw, wa ya'lamu mā fil-barri wal-bar, wa mā tasquu miw waraqatin illā ya'lamuhā wa lā abbatin fī ulumātil-ari wa lā rabiw wa lā yābisin illā fī kitābim mubīn," jawab Ikfan dengan membacakan Al-Qur'an dalam surat Al-An'am ayat 59. Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui dengan ilmunya yang azali dan abadi tentang segala sesuatu yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala. Mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat. Dalil kedua prinsip di atas terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70). “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al An’am:59). Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa salam, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” "Maa syaa Allaah," lirih Frida kagum kepada Ikfan yang membaca ayat Al-Qur'an dengan fasih dan benar. Sementara yang lainnya hanya tersenyum menyaksikan itu. "Baiklah.. pertanyaan terakhir," kata Haris. Ikfan menghela nafasnya guna untuk melawan rasa gugupnya. "Silahkan om," Haris tersenyum. "Ada berapa macam tauhid, sebutkan apa saja dan coba jelaskan kepada saya macam-macam tauhid tersebut sesuai kemampuan yang kamu miliki?" Ikfan terdiam mencerna pertanyaan pertanyaan Haris. Jujur, menurutnya calon mertuanya ini sangat cocok untuk menjadi seorang dosen di kampusnya. "Huhh.." Ikfan membuang nafasnya pelan sebelum kembali menjawab pertanyaan Haris. Sementara Frida, Rita, Hata, Rusdi, Arkan, dan Raka, mereka terus menunggu setiap jawaban yang akan Ikfan ucapkan dengan harap-harap cemas. Ikfan menatap Haris dengan serius. "Tauhid terbagi menjadi tiga macam," Ikfan menjeda ucapannya. "Pertama tauhid Ar-Rububiyyah, kedua tauhid Al-Uluhiyyah, dan ketiga tauhid Asma wa Sifat," jawab Ikfan tanpa ragu. "Tauhid Ar-Rububiyyah adalah penetapan bahwa Allaah Ta'ala adalah pencipta, pemberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan. Maknanya tauhid ini mengakui perbuatan Allaah kepada makhlukNya." "Tauhid Al-Uluhiyyah?" tanya Haris yang merasa cukup senang dengan jawaban Ikfan. "Tauhid Al-Uluhiyyah adalah meyakini bahwa hanya Allaah Ta'ala yang merupakan sesembahan yang haq dan mengesakan Allaah Ta'ala dengan perbuatan-perbuatan hambaNya, dengan mendekatkan diri kepadaNya sesuai dengan syari'atNya," Ikfan kembali menjeda ucapannya dengan menghela nafas. "Dan tauhid Asma wa Sifat adalah mentauhidkan Allaah Ta'ala dalam penetapan nama dan sifat Allaah, yaitu dengan yang ia tetapkan bagi diriNya dalam Al-Qur'an dan Hadist Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam," jawab Ikfan lagi dengan penuh keyakinan. Setelah Ikfan usai menjawab pertanyaan tersebut. Tanpa permisi, semua yang berada di sana tersenyum senang. Terutama Hata, Rita, dan Rusdi. Mereka merasa cukup bangga pada Ikfan yang bisa menjawab pertanyaan Haris dengan penuh keberanian dan keyakinan, tanpa keraguan sama sekali walaupun raut wajahnya masih terbilang cukup gugup saat itu. Haris tersenyum hangat menatap Ikfan yang duduk di hadapannya. "Maa syaa Allaah, saya harap setelah pertemuan ini jangan lama-lama ke akadnya, karena saya tidak mau menyerahkan anak perempuan saya kepada seorang yang aqidah dan manhaj-nya rusak," ujarnya sarat menggoda Ikfan. Terdengar kekehan ringan mulai menggema di ruang tamu setelah mendengar ucapan Haris, sedangkan Ikfan hanya terdiam tanpa ekspresi—kelewat gugup. "Fan.. saya merestui dan sangat setuju bila Alysa akan menikah dengan kamu. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan Alysa," ucap Haris seraya menepuk pundak Ikfan pelan. "Ini proposal ta'aruf-nya," Haris menyerahkan proposal ta'aruf milik Alysa kepada Ikfan. Ikfan pun tersenyum menerima proposal tersebut seraya ditatapnya dengan serius. "Di dalam sana terdapat biodata dan kepribadian Alysa lainnya," ucap Haris. "Ini proposal ta'aruf saya om, tolong berikan ini juga kepada Alysa," ucap Ikfan terkesan lirih seraya memberikan proposalnya sendiri kepada Haris. Haris menerima proposal ta'aruf milik Ikfan, yang berarti kedua belah pihak telah saling bertukar biodata. "Iya, akan saya berikan ini kepada Alysa." kata Haris. Ikfan kembali tersenyum mendengar itu. "Sesuai kesepakatan yang telah kita bicarakan di grup w******p bersama keluarga kamu, saya akan berikan waktu dua hari untuk kamu dan Alysa, agar kalian bisa lebih saling memahami isi proposal yang telah kalian terima. Dan dihari setelah itu, jika kalian sudah merasa cocok dan yakin, kami akan segerakan untuk ke proses selanjutnya, yakni menikahkan kalian berdua," tutur Haris yang membuat detak jantung Ikfan semakin berdetak kencang. "Namun jika merasa sebaliknya, maka proses ta'aruf ini hanya berhenti sampai di sini saja," Ikfan mengangguk paham. "Baik pak, saya setuju dengan hal itu," kata Hata. "Saya juga," sambung Rusdi. Haris tersenyum lalu kembali menatap Ikfan yang kini terlihat sedang menatap intens proposal ta'aruf milik Alysa yang berada di tangannya. "Kamu siap Ikfan?" tanya Haris ambigu yang membuat Ikfan sedikit terkejut—karena terlalu fokus pada proposal ta'aruf. Ikfan menatap Haris penuh tanya. "Siap.. untuk apa om?" tanyanya ragu. Haris tersenyum. "Melihat sesuatu yang akan mendorong kamu untuk menikahi anak saya," jawabnya yang membuat jantung Ikfan semakin meletup-letup. Rita menyentuh telapak tangan Ikfan—duduk di sebelahnya—yang terasa cukup dingin. "Kita melakukan nazhor sayang," lirihnya tepat di telinga Ikfan. Ikfan menatap Rita dengan tatapan terkejut. "Nazhor? Sekarang?" tanya Ikfan lirih. Rita mengangguk seraya mesem menatap putranya yang sedang gugup dan terkejut secara bersamaan. Ikfan pun kembali menatap Haris—setelah menatap Rita. "Bagaimana?" tanya Haris. Ikfan menghela nafas guna menetralkan detak jantungnya yang semakin menjadi, "insyaa Allaah, saya siap."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN