Tujuh

1288 Kata
"Apa? Kita ke Bandung?" tanya Ikfan terkejut. "Iya Fan, ke Bandung. Di sana kita diundang buat acara seminar disuatu SMA untuk sosialisasi-in kampus," jawab Andre—sahabat dekat Ikfan di kuliah. "Harus banget ya gua ikut ke sana?" tanya Ikfan yang kembali berwajah datar. "Ya haruslah Fan, lo 'kan menjabat jadi ketua divisi sosialisasi kampus kali ini," jawab Andre sewot. Memang benar, saat di dunia kuliah Ikfan mengikuti keorganisasian BEM, ia di sana menjabat sebagai anggota advokasi bersama Andre. Ikfan dan Andre menjabat pada divisi sosialisasi hanya sementara karena ada acara untuk kegiatan kampus. Sudah tak aneh lagi jika Ikfan aktif dalam suatu organisasi dalam dunia pendidikannya, sebab saat di SMA dulu pun Ikfan juga pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Pernah ia dipilih untuk mencalonkan diri sebagai ketua BEM. Tapi Ikfan menolaknya, karena baginya sudah cukup dulu ia lelah karena pernah menjabat sebagai ketua OSIS di SMA dan ia tidak ingin menjadi ketua apapun lagi dikemudian hari. Apalagi menjadi ketua BEM di kampus, sudah pasti akan banyak waktu lelah yang terbuang nantinya. Ikfan tak mau itu. Mendengar nama jabatannya disebut, Ikfan membuang nafasnya berat. "Kapan?" tanyanya ambigu. "Kapan apa?" tanya Andre balik. "Seminarnya." "Besok." "Apa?" pekik Ikfan yang kembali terkejut. "Biasa aja kali," ucap Andre santai yang melihat keterkejutan Ikfan. "Lo gila apa, besok 'kan gue ada pertemuan sama dosen. Itu penting." Mendengar itu, Andre berdecak sebal. "Lo tuh ya, urusan dosen mah gampang." "Gampang pale lo." Timpa Ikfan kesal. "Santai Fan, soal dosen biar anggota BEM lainnya yang atur. Lagian pertemuan lo sama dosen itu 'kan cuma buat nambahin nilai lo doang, yang lain aja gak gitu," kata Andre kalem. "Emang buat nilai gue, gue pengen cepet-cepet lulus." Geram Ikfan yang melihat wajah kalem Andre. Rasanya ingin nimpuk pala ni anak. "Cepet-cepet lulus? lo tuh ya, sans ae hidup mah. Masih muda ini, masa pengen cepet lulus," ucap Andre yang membuat Ikfan semakin kesal. Ikfan memang sudah bertekad untuk mendapatkan IPK yang naik dari semester ke semester selanjutnya, agar ia bisa lulus lebih cepat dari jangka waktu yang sudah ditentukan dijenjang S1-nya. "Serah lo." Tegas Ikfan seraya beranjak pergi. "Eh, mau kemana lo?" tanya Andre yang melihat Ikfan melegang pergi. ".." Tak ada jawaban dari Ikfan, ia seolah menulikan pendengarannya. "Fan, tunggu!!" panggil Andre berlari kecil menyusul Ikfan. ▪▪▪▪▪▪ "Jadi tahsinnya dimulai sore ini ya teh?" tanya Alysa pada Nesha yang sedang sibuk mengetik dilaptopnya. "Iya," jawab Nesha tanpa berpaling dari laptopnya. "Kamu yang ngajar bisa, 'kan?" tanyanya yang melihat Alysa terdiam. "Bisa sih teh, tapi jam dua siang nanti aku harus ke kampus dulu, ada tugas yang harus aku kumpulin," jawab Alysa. "Oh yaudah, gak papa." Nesha tersenyum. "Emang sorenya jam berapa teh kelas tahsinnya?" tanya Alysa. "Sekitar ba'da ashar." Alysa hanya memangguk-manggukan kepalanya sebagai tanggapan. "Assalamu'alaikum shalihah," sahut Hanifah yang baru datang ke ruang tamu—setelah dari kamarnya. "Wa'alaikumussalam." Jawab Alysa dan Nesha bersamaan. "Nes, jadwal kajian malam ini di masjid Salman bukan sih?" tanya Hanifah pada Nesha. "Iya mungkin, aku belum liat posternya," jawab Nesha masih tak berpaling dari laptopnya. "Adek tau gak?" tanya Hanifah pada Alysa. "Ngga, teh." Jawab Alysa. "Yah." Hanifah cemberut, "Caca.. Caca," panggilnya kemudian dengan suaranya lantang. Mendengar namanya dipanggil, lantas Caca berjalan terpogoh-pogoh ke ruang tamu setelah dari dapur. "What?" sahut Caca sambil mengatur deru nafasnya—karena telah berlari dari dapur dan terkejut namanya dipanggil dengan suara lantang oleh Hanifah. Takut ada apa-apa. Melihat Caca terpogoh-pogoh, Hanifah menaikkan satu alisnya—heran—namun sedetik kemudian ia tak menghiraukan hal itu. "Adek, tau gak kajian hari ini jadinya dimana?" tanya Hanifah. Merasa sedang dikerjai—padahal tidak begitu—Caca mendengus pelan. Kirain ada apa. "Di Salman," jawab Caca. "Jadi beneran di Salman teh?" tanya Alysa memastikan. "Iya, dek," jawab Caca pada Alysa. "Siapa yang mau ke sana?" tanya Hanifah dengan sorot mata yang berbinar. "Aku." Jawab Alysa antusias. "Yang lain?" tanya Hanifah lagi. "Aku ngga deh kayaknya, ini masih ada yang harus aku selesai-in," jawab Nesha yang masih bergelut dengan laptopnya. "Mmm.. iya deh tau yang lagi sibuk nyusun skripsi," cibir halus Rida yang juga ikut bergabung di ruang tamu. Nesha tersenyum mendengar ucapan Rida. "Iya dong," ucapnya bangga. "Enak ya, masa lelahnya bentar lagi usai," kata Caca. "Belum selesai ko dek, masih ada," timpa Hanifah. "Iya sih, masih. Karena selama kita masih hidup di dunia rasa lelah akan selalu ada." Terang Caca yang paham arah pembicaraan Hanifah. "Na'am, hadzihi dunya," ucap Hanifah dengan menggunakan bahasa arab. Mendengar itu, seketika semua tersenyum. Memang benar, inilah dunia. Kita akan selalu merasa lelah saat kita masih berada di dunia. Karena dunia adalah tempat untuk sibuknya berbuat amalan shalih, bukan untuk istirahat dan apalagi bersantai-santai ria. "Jadi gimana soal kajiannya?" tanya Alysa kembali ke topik awal. "Aku, Rida, sama Tia mau ke sana, dek. Adek bareng aja sama kita." Saran Hanifah. "Teh Caca gak ikut?" tanya Alysa lagi. "Ngga huhu, aku ada tugas numpuk banget dan deadline-nya malam ini," keluh Caca mendrama. Alysa pun memangguk-manggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Yaudah deh, aku bareng teh Hanifah aja." "Fii amanillah ya sayang," ujar Nesha yang kini sudah beralih dari laptopnya. "Iya sayangkuh," balas Hanifah mendrama. Mendengar itu, semua pun terkekeh. ▪▪▪▪▪▪ "Jadi kamu besok mau ke Bandung?" tanya Hata—ayah Ikfan. Saat ini Ikfan sedang meminta izin untuk keberangkatannya menuju Bandung. "Iya, yah." Jawab Ikfan. "Bisa ketemu kak Alysa dong," heboh Nayla iseng. Mendengar itu Ikfan menghela nafasnya. "Apaan sih kamu, dek." Mendapat teguran dari abangnya itu, lantas seketika itu pula Nayla pun memanyunkan bibirnya. "Sama siapa ke sananya?" tanya Hata serius—tanpa mempedulikan ekspresi Nayla. "Sama anggota sosialisasi BEM." Jawab Ikfan. "BEM, BEM, BEM, gak cape tuh sama organisasi mulu." Sahut Arkan yang sudah lulus kuliah dan sudah kerja saat itu. "Berisik lo, mentang-mentang udah lulus," semprot Ikfan sewot. "Ih abang, jangan ejek Ikfan begitu dong. Dulu juga kamu 'kan ketua BEM di kampus, masa sekarang malah ejek adeknya karena ikutan BEM." Nasihat Rita menengahi. Mendegar itu, Arkan terkekeh. "Ya 'kan sekarang Arkan mah udah lulus, bun." Di sisi lain, Ikfan nampak memasang wajar datarnya mendengar celotehan sebal dari kakaknya itu. "Yaudah, ayah izinkan kamu pergi ke Bandung." Putus Hata setelah berpikir matang-matang. Ikfan tak bergeming. "Berapa hari abang di Bandung nanti?" tanya Nayla kepo. "Tiga hari." "Loh, ko lama sih?" Pekik Rita terkejut. "Karena anggota BEM nyewa villa di sana, katanya sekalian liburan di daerah Lembang." Jawab Ikfan santai. "Lembang?" tanya Nayla tak percaya. Ikfan mengangguk. "Ihh abang, Nayla juga pengen." Rengek Nayla. "Ssstttt.. nanti sama abang aja," sargah Arkan. "Bener ya bang?" tanya Nayla dengan mata berbinar menatap Arkan. Pasalnya ia memang sangat menyukai daerah Lembang yang berada di Bandung. Melihat adiknya itu, Arkan pun mengangguk sambil tersenyum. "Bunda gak diajak nih?" tanya Rita yang merasa diabaikan oleh Arkan. Mendengar ucapan bundanya, Arkan terkekeh. "Diajak dong bun." "Ayah lagi bahas apa, kalian malah bahas apa," cibir Hata yang merasa kali ini topik pembicaraannya melenceng. Yang tadinya sedang membahas soal kepergian Ikfan yang akan pergi ke Bandung, kini malah berubah menjadi membahas soal liburan ke Lembang. "Maaf yah, maklum udah lama gak liburan." Rita ngeles kepada suaminya. "Iya, yah. Nayla juga udah lama nih gak liburan," dukung Nayla dengan raut wajah merajuk yang dibuat-buat. Hata hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan istrinya itu. "Kalau tiga hari di Bandung, soal kuliahnya gimana?" tanya Hata lagi pada Ikfan yang sejak tadi tak bergeming. "Udah ketua BEM atur sama dosen, lagian Ikfan ke Bandung juga buat seminar sosialisasi-in kampus, jadi pihak kampus kayak baik hati gitu ngasih jatah libur tiga hari, satu harinya buat seminar dan dua harinya buat liburan." Jawab Ikfan kalem. Hata mengangguk paham. "Yaudah, ayah dan bunda izinkan. Tapi ingat, jangan macem-macem nanti di Bandung. Ingat Allaah." Nasihat Hata. Mendengar itu, Ikfan mengangguk. "Iya, yah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN