Lima

1312 Kata
Hari ini acara silaturahim dan kajian akbar dengan SMA lain telah diselenggarakan. Dan alhamdulillaah acara kajian itu berjalan dengan lancar. Berkat rahmat dari Allaah Subhanahu wa Ta'ala juga tentunya semua kemudahan itu dapat terjadi. Setelah acara selesai, seluruh anggota rohis dari sekolah Alysa sempat mengadakan evaluasi sebentar, lalu setelahnya penutupan dan pulang. Namun pada saat usai penutupan dan pulang ada yang berbeda dengan Alysa. Bukannya bersegera pulang, tapi dirinya malah masih berdiam diri di SMA itu dimana tempat kajian tadi berlangsung. Bukan maksud berdiam diri dengan sengaja, karena pada kenyataannya Alysa memang ingin segera pulang namun tak bisa karena hujan yang saat itu sedang turun. Jadi mau tak mau ia memutuskan untuk menunggu hujannya sampai reda. Di tempat yang asing itu, Alysa nampak kurang nyaman. Mengingat ia memiliki sifat introvert, jadilah ia hanya bisa diam sambil duduk di bangku yang tersedia di koridor sekolah tersebut. "Balik sama siapa lo, Fan?" sahut seorang lelaki dari jarak yang tidak terlalu jauh dari Alysa yang tengah duduk. Mendengar itu, lantas Alysa menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata di sana ada Adri dan Ikfan yang belum pulang-sama seperti dirinya. "Sendiri, gue bawa motor," jawab Ikfan kalem lalu sedetik kemudian ia menoleh ke arah Alysa yang duduk dijarak yang tak begitu jauh darinya, tepatnya berada di depannya. "Berarti nunggu dulu ya? Hujan soalnya," ucap Adri yang membuat Ikfan kembali menolehnya setelah melihat ke arah Alysa tadi. "Iya." Jawab Ikfan seadanya sebab saat itu entah kenapa tiba-tiba kefokusan Ikfan mulai tertuju pada Alysa. "Gua balik duluan deh kalau gitu," pamit Adri. "Loh, tapi masih hujan ini." "Iya Fan, tapi gue bawa mobil hehe." Adri cengengesan. "Pantesan." "Yaudah, gue balik ya. Assalamu'alaikum," pamit Adri lagi. "Oke, wa'alaikumussalam." Jawab Ikfan. Adri pun melegang pergi meninggalkan Ikfan menuju ke tempat parkiran mobil. Melihat kepergian Adri, Ikfan terlihat begitu kalem dan sosok aura wibawanya sebagai ketua OSIS semakin nampak keluar jelas. Setelah Adri benar-benar hilang dari pandangannya, Ikfan kembali menoleh ke arah Alysa yang masih setia dengan posisinya—duduk di bangku yang tersedia di koridor sekolah yang tak jauh darinya. Entah bagaimana Ikfan mengungkapkan isi hatinya saat ini, namun yang pasti melihat Alysa yang duduk sendirian di tengah hujan yang deras. Ia merasa terenyuh, terbesit dibenaknya ingin segera memiliki gadis tersebut. Memiliki? Ya, tak dapat Ikfan pungkiri lagi. Bahwa dirinya memang memiliki rasa yang tak biasa kepada Alysa. Walaupun belum kenal lama, entahlah, Ikfan begitu sangat yakin bahwa Alysa adalah perempuan yang shalihah. Hingga timbul dalam dirinya ingin menghalalkan gadis tersebut. "Jadi kamu naksir cewe?" tanya Hata—ayah Ikfan. Malam itu setelah dari kamar Arkan, Ikfan pergi menuju kamarnya. Namun siapa sangka, tanpa berpikir terlebih dahulu, Arkan main adu saja kepada kedua orangtuanya soal curhatan Ikfan tadi. Hingga akhirnya Ikfan mengakuinya dan berterus terang kepada ayah dan bundanya saat mereka mengintrogasinya. "Iya," jawab Ikfan kalem. "Tapi kamu masih kelas XI, seriusan udah naksir cewe?" tanya Rita. "Ya gak tau bun, Ikfan juga 'kan masih normal sebagai lelaki." Jawab Ikfan seadanya. Mendengar jawaban Ikfan, lantas Arkan, Hata, Rita, dan Nayla terkekeh. Sedangkan Ikfan hanya duduk dengan wajah datarnya. "Siapa nama perempuan itu?" tanya Hata. "Alysa," jawab Ikfan cepat. Mendengar nama Alysa disebut, alis Arkan terangkat satu. "Alysa," gumam Arkan. "Maksud lo Alysa anak rohis di sekolah lo itu?" sambungnya bertanya. Pasalnya saat masih di SMA dulu, Arkan sangat aktif dengan organisasi rohis di sekolahnya. Jadi tak aneh, jika Arkan mengenal Alysa—mengingat dulu Arkan satu SMA dengan Ikfan. "Lo kenal?" tanya Ikfan tanpa mempedulikan keberadaan ayah, bunda, dan adiknya karena berbicara pada Arkan dengan bahasa yang cukup tak enak di dengar—tidak sopan. "Abang kalau ngomong sama bang Arkan itu sopan sedikit kek, kayak ke temen sohibnya aja ih." Protes Nayla. "Iya Ikfan, jangan gitu." sambung Rita menasihati. "Biasalah, adik yang durhaka." Kata Arkan asal. Mendengar itu, Ikfan tak terima. "Enak aja kalau ngomong! Lo tuh yang ada, kakak durhaka." "Ehhh udah-udah. Ko malah jadi ribut gini sih," lerai Hata menengahi. "Dia tuh yah, yang main semprot aja pake bilang Ikfan adik durhaka. Kayak yang udah bener aja dia jadi kakak," protes Ikfan tak dewasa. "Ikfan..." Rita berujar gemas. Ikfan pun terdiam. "Balik ke inti pembicaraan," tegas Hata. Seketika suasana menjadi hening. "Ikfan, kenalkan kami kepada Alysa." Ucap Hata membuka keheningan. Mendengar itu semua yang berada di sana terkejut. "Ayah, ayah serius?" tanya Rita tak percaya. "Ya habis mau gimana lagi, anak kita udah minta mau nikah ya jangan dicegah. Kasian dia, lagian fitnah wanita dizaman sekarang bisa membahayakan anak kita bun. Ayah khawatir." Jawab Hata tenang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ "Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita." "Apaan yah, Ikfan gak minta mau nikah ko," bantah Ikfan. "Jangan ngeles kamu," timpa Hata. "Ngga yah, lagian Ikfan 'kan cuma cerita." Kali ini Ikfan benar-benar terkesan seperti ngeles. "Tapi yah, Ikfan 'kan masih kecil, baru juga kelas XI. Apa gak nunggu lulus dulu gitu?" Rita terlihat khawatir. "Bunda tenang aja, kita tanya ke anaknya dulu," ujar Hata tenang yang kemudian menatap Ikfan serius. "Jadi gimana Fan, apa kamu mau nikah ketika masih SMA atau sudah lulus SMA?" Hata menawarkan sebuah opsi dengan semudah-mudahnya. Ayah Ikfan melakukan itu bukan tanpa ilmu, sebab ia tidak ingin mengekang anaknya dalam hal pernikahan. Mengingat Ikfan adalah anak lelaki, Hata juga merasa khawatir sendiri sebagai seorang ayah jika membiarkan anaknya terus bergelut dalam syahwatnya. Ikfan terdiam. "Fan," ucap Rita lembut. "Ikfan gak tau yah, bun." Ikfan bingung. Terdengar Hata menghela nafasnya. "Yasudah, pikirkan ini baik-baik. Jika memang sudah mantap keputusannya, katakan itu kepada ayah dan bunda." Hata berujar bijak. Akhirnya sejak malam itu pikiran Ikfan pun terus tertuju pada Alysa dan niatnya. Benarkah dirinya sudah mencintai gadis itu yang baru saja ia kenal? "Belum pulang?" tanya Ikfan yang tiba-tiba berdiri di depan Alysa yang tengah duduk. Menyadari kehadiran Ikfan karena sejak tadi dirinya memang memperhatikan lelaki itu dalam diam, jantung Alysa pun semakin berdetak cepat. "Belum." "Pulang naik apa nanti?" tanya Ikfan walaupun ragu. "Angkot," jawab Alysa cepat. Setelah itu tak ada obrolan lagi di antara keduanya. Saat itu mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. "Alysa," ucap Ikfan memecah keheningan. Mendengar namanya dipanggil, lantas Alysa menyahutinya. "Ya?" Dengan perasaan yang sangat gugup, Ikfan berusaha mengutarakan sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Alysa. "Apa boleh aku mengenal kamu?" tanya Ikfan akhirnya setelah terdiam sesaat. Mendengar itu, jantung Alysa semakin berdetak lebih cepat. Lagi. "Me.. mengenal?" "Iya, boleh?" tanya Ikfan lagi tanpa ragu walau cukup gugup. Tak ada jawaban, saat itu Alysa seketika terdiam. Apa maksud Ikfan? Mengenal untuk apa? Alysa tiba-tiba merasa takut karena ucapan Ikfan yang terdengar ambigu. Pasalnya ia tidak mau terlalu dekat dengan lawan jenis jika bukan berniat untuk ta'aruf lalu menikah. "Untuk apa?" tanya Alysa yang sama ambigu. "Untuk apa?" Ikfan membeo. "Untuk apa, apa maksudnya?" sambungnya tak mengerti maksud pertanyaan Alysa. Berusaha menetralkan perasaannya, Alysa seperti biasa selalu menggigit bibir bawahnya di balik masker yang selalu ia gunakan. "Untuk apa kamu mau mengenal aku?" Terlihat jelas saat itu juga ekspresi wajah Ikfan seketika berubah canggung dan ragu untuk menjawab. Untuk apa pula dia bertanya begitu kepada Alysa? Padahal dirinya sendiri masih ragu dengan perasaannya. "Untuk.. untuk.." Ikfan nampak kebingungan. Dia sendiri saja masih bingung untuk apa dia seperti ini. Matilah kau Ikfan! Melihat gelagat Ikfan seperti itu, dengan memberanikan diri Alysa berkata tegas. "Maafkan aku Ikfan, tapi aku hanya akan berkenalan dengan seorang lelaki yang memiliki niat dan tujuan yang jelas, baik, dan yang Allaah ridhai." Alysa beranjak dari duduknya. "Jika kamu hanya ingin sekedar iseng untuk mengenal seseorang, maaf. Lebih baik kamu cari saja perempuan yang lebih pantas untuk diperlakukan seperti itu, tapi bukan aku." Sambung Alysa bernada ketir seraya bergegas pergi dari hadapan Ikfan—hujan sudah reda—untuk pulang. Mendengar dan melihat perlakukan Alysa, Ikfan membuang nafasnya berat. Sambil menatap punggung Alysa yang mulai menghilang dari pandangannya, ia merasa bingung harus bagaimana. Astaghfirullaah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN