Bab 7

1548 Kata
Daripada harus bersama Red selama satu harian, lebih baik Shea merelakan jatah liburnya yang akan segera habis dalam beberapa jam dengan berjalan-jalan di luar. Meski kakinya terlalu malas melangkah keluar apartemen, Shea tetap memaksanya. Udara Las Vegas di malam ini tidak terlalu dingin sehingga tak masalah bagi Shea bila hanya mengenakan celana jeans pendek yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang. Tak lupa ia membawa tote bag sebagai tempat penyimpanan barang seperti dompet dan ponsel. Sedang kedua kakinya hanya dibalut sandal biasa. Penampilannya malam ini sangat sederhana karena ia hanya ingin bersantai—ah tidak, lebih tepatnya kabur dari Red yang sore tadi pamit untuk membersihkan diri sejenak. Tujuan Shea kali ini adalah Fremont Street. Suara mesin yang berasal dari kasino langsung memenuhi kedua telinganya begitu ia sampai. Lautan manusia berkumpul menjadi satu di sana. Selain The Strip, tempat favorit Shea lainnya di Las Vegas tentulah Fremont Street. Entah kenapa saat berada di sini, ia merasa bebas. Dan kesepian yang selalu mendatanginya sirna tak berjejak. Ya, selama ini Shea kesepian. Tepatnya sejak keluarga harmonisnya hancur tak bersisa, meninggalkan luka yang sampai saat ini masih membekas di hatinya. Mereka yang dulunya tidak terpisahkan, kini memiliki hidupnya masing-masing. Seperti Shea yang memilih tinggal di Las Vegas, ibunya yang menetap di Virginia dan adiknya yang pergi begitu jauh sampai ke kota London. Sedangkan ayahnya—ah, entahlah. Shea terkadang malas menceritakannya. Itu hanya akan mengundang air matanya saja. Sebelum melanjutkan berkeliling, ia mampir ke kedai kopi terlebih dahulu untuk membeli satu cup kopi dingin yang akan menjadi teman jalannya malam ini. Satu iced coffee berukuran sedang sudah berada di tangan Shea saat ini. Kedua kakinya kembali melangkah, tetapi ia berhenti lagi kala melihat pertunjukan dance di sana. Bersama beberapa pengunjung lainnya, ia ikut mengelilingi dua orang street dancer yang sedang melakukan pertunjukan. Tempat ini benar-benar cocok dengan Shea karena senyum di bibirnya tak pernah redup sejak menginjakkan kakinya di sini. "Menikmati pertunjukannya, huh?" Shea terlonjak kaget ketika sebuah bisikan terdengar begitu dekat dengan telinganya. Kepalanya refleks berputar ke sumber suara, dan kedua matanya sontak melotot lebar saat mendapati Red di sana. Demi, Tuhan! Bagaimana bisa Red berada di sini sekarang? Shea bahkan sengaja kabur dari apartemennya sendiri untuk menghindari Red yang katanya akan kembali, tetapi kenapa mereka malah bertemu di sini? Ini sungguh tak masuk akal. Atau mungkin ini yang dinamakan takdir? Atau bisa jadi status sebagai calon saudara tiri membuat ikatan batin di antara mereka bertumbuh? Tidak! Tidak! Cepat-cepat Shea menggelengkan kepalanya, menampik semua pikiran yang berkeliaran di dalam kepalanya. Alasan apa pun yang membuat Red bisa berada di sini, Shea sudah tidak lagi peduli. Langkah pertama yang harus dilakukannya tentu saja kabur. Namun, kabur adalah kata yang sulit untuk direalisasikan manakala Shea sedang bersama Red. Kecuali kalau ia memiliki kekuatan untuk menghilang.   ••••   Menggelikan sekali rasanya mengejar seorang perempuan sampai sesusah ini hanya agar bisa membuat ayahnya tak jadi menikah dengan wanita lain. Red yang selama ini selalu melakukan pendekatan dengan usahanya sendiri, kini harus rela merendahkan egonya demi mendapat bantuan dari para sahabatnya. Gray adalah sahabatnya yang paling bisa diandalkan saat ia ingin melacak keberadaan seseorang. Pria itu adalah yang paling kaya di antara mereka. Dan ketika Red tak menemukan Shea di apartemennya, maka orang pertama yang dihubunginya adalah Gray. Itu sebabnya hanya dalam beberapa saat saja, Red bisa tahu di mana Shea berada. Lain kali Red harus mengamati gerak-gerik Shea agar tidak kecolongan lagi. Ia sama sekali tidak memprediksi jika wanita itu akan kabur darinya. Tahu begitu, seharusnya Red membiarkan tubuhnya terasa lengket saja agar bisa bersama Shea satu harian untuk terus melempar umpannya sampai wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. "Kau belum makan malam, seharusnya jangan minum kopi dulu," kata Red, yang masih sabar mengikuti langkah Shea dari belakang. Sambil terus melanjutkan langkahnya, Shea mengangkat tangannya untuk memberi jari tengah kepada Red. Dan sungguh, hal itu benar-benar di luar dugaan hingga Red terbengong untuk beberapa waktu sebelum senyum geli merekah di bibirnya dan kepalanya menggeleng penuh rasa takjub. "Menjauhlah dariku," usir Shea saat Red mengambil posisi di sampingnya. "Kau ingin menjadi pelindungku kan? Kalau begitu, berjalan di belakangku saja." Nada suaranya terdengar tidak bersahabat. Wajahnya pun ditekuk masam. "Kalau aku berdiri di belakangmu, itu kurang efektif, Shea. Yang seperti ini adalah caraku melindungimu dengan benar," balas Red. Bersamaan dengan itu, kehangatan terasa melingkupi tangan Shea. Dan saat ia menurunkan pandangannya, Shea mendapati tangan Red sudah menggenggam tangannya. Dan ketika matanya kembali naik, ia bisa melihat pria itu seperti tengah menyalurkan kekuatan pandangannya padanya, seakan meyakinkan Shea bahwa apa yang Red lakukan adalah kebenaran yang didukung oleh ketulusan. "Sebaiknya kita cari makan untuk mengisi perut," ajak Red, memutus keheningan yang terjadi selama beberapa saat. Shea berdeham kecil. Melirik sekilas ke arah tangannya saat kakinya mulai kembali melangkah. Benaknya sendiri sibuk memikirkan dua poin penting yang sekarang sedang membayangi pikirannya. Semua itu tentang apakah Shea harus menarik tangannya atau malah membiarkannya begitu saja. Pertanyaan yang mudah sebenarnya, tetapi entah kenapa sulit memutuskan jawaban apa yang akan ia ambil. "Kau suka rasa apa, Shea?" tanya Red saat mereka tiba di salah satu toko camilan dan berhenti di barisan popcorn. "Tidak masalah kan kalau kita hanya makan popcorn untuk mengganjal perut?" Sekali lagi Red bertanya. Kali ini karena Shea tidak menjawab pertanyaan sebelumnya. Ia merasa wanita itu tengah melamun. "Beli saja untukmu," jawab Shea pada akhirnya. Suaranya terdengar ketus. Alis Red terangkat, tetapi kemudian bahunya bergerak ke atas dan ia memesan dua popcorn rasa karamel. Pada kesempatan ini, akhirnya Shea menemukan jawaban atas pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Sembari menunggu Red, ia berusaha menarik tangannya yang berada di genggaman Red. Tetapi hal itu terasa lebih susah dari yang ia bayangkan. Bahkan, Shea sampai harus mengapit iced coffee-nya di ketiak supaya tangan yang satunya dapat membantu. Namun, hasilnya tetap nihil. "Peganglah. Aku membelikannya untukmu." Red menyerahkan satu popcorn untuk Shea. Sementara wanita itu baru saja mendengus panjang sembari memandang Red dengan mata yang menyipit. Tak ada kesan yang baik tatkala Shea mengambil popcorn tersebut dari Red. Wajahnya semakin suram dan penuh aura permusuhan. Sedangkan Red kelihatan sumringah. Ia tahu betul Shea ingin melepaskan genggaman mereka. Barangkali itu adalah peluang yang pas bagi Shea untuk kabur lagi. Namun, sepertinya dugaan wanita itu salah. Karena dalam kondisi apa pun, Red akan tetap bisa fokus pada mangsanya. Kalau tidak, Red tidak mungkin dijuluki sebagai petarung MMA kelas dunia. Semakin malam, Fremont Street semakin dipadati pengunjung. Jam sendiri sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yang dilakukan Shea dan Red sedari tadi hanya berkeliling dan mampir di pusat perbelanjaan untuk melihat-lihat. "Sebaiknya kita pulang, Shea. Besok kau sudah kembali bekerja, bukan? Dan kau juga belum makan malam." Shea hanya mengangguk sekali. Entah ditujukan untuk ajakan pulang Red atau jawaban dari pertanyaan pria itu. Red tak paham untuk yang satu ini. "Kau ingin pulang?" Akhirnya Red menanyakan satu pertanyaan lagi agar dapat menyimpulkan jawaban Shea sebelumnya. Sekali lagi Shea mengangguk, dan ia berhenti sejenak. Menggeser badannya menghadap Red. "Aku pulang sendiri saja. Kau bisa pergi ke pertunjukan striptease." Di akhir kalimat, ia melirik selebaran di tangan Red yang berupa penawaran pertunjukan striptease yang ada di salah satu kelab di tempat ini. Red terkekeh pelan. Ia melepas sejenak genggamannya di tangan Shea hanya untuk membuat selebaran tersebut menjadi sebuah gumpalan sebelum melemparnya ke tempat sampah. Red yakin sekali Shea pasti berpikir kalau ia akan datang ke pertunjukan itu karena menyimpan brosur tersebut. "Untuk apa aku menonton striptease kalau di sepanjang jalan banyak show girl yang berkeliaran." Red mengerling kepada Shea. Shea hanya mendengus sinis. Ia lalu berjalan meninggalkan Red. Matanya tiba-tiba saja tertarik untuk melirik sekumpulan show girl yang hanya memakai pakaian dalam. Mendadak ia muak melihat wanita kekurangan baju itu. Ah! Shea bahkan lebih seksi dibandingkan mereka bila sudah menggunakan bikini. "Aku antar." Red kembali memegang tangan Shea, diiringi dengan senyum manis setelahnya. Untuk kali ini, tak ada penolakan dari Shea. Karena sejujurnya, ia sengaja berjalan-jalan sampai selarut ini agar setelah pulang nanti, Red tak mampir di apartemennya. Di Fremont Sreet, sebaiknya jangan berjalan sendirian. Apalagi saat sudah semalam ini. Ada saja kejahatan yang terjadi di sini. Sirene polisi bahkan tak berhenti berbunyi. Shea langsung memejamkan matanya begitu masuk ke mobil Red. Berharap ketika ia membuka matanya nanti, mobil ini sudah berhenti di depan gedung apartemennya. Dan kali ini sepertinya Red tidak berniat untuk mengganggu Shea karena mulut pria itu terkatup sepanjang jalan. Seperti keinginan Shea di awal, ia pun membuka matanya saat mereka telah tiba di apartemennya. "Terima kasih untuk tumpangannya. Lain kali tidak usah repot-repot," ucap Shea yang lantas keluar dari mobil Red. Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, ia langsung saja masuk dan naik ke lantai di mana kamarnya berada. Tempat pertama yang Shea datangi setelah memasuki apartemennya adalah dapur. Perutnya tak berhenti berteriak. Gara-gara tak bisa makan selain masakannya sendiri, ia harus menahan rasa laparnya. Begitu tiba di dapur dan menyalakan lampu, ia dikejutkan dengan banyak sekali makanan di sana. Bertepatan dengan itu, ponsel Shea berdenting, menandakan sebuah pesan masuk. Satu pesan dari nomor tak dikenal, dan Shea pun segera membukanya. Jangan lupa panaskan dulu semua makanannya di microwave sebelum memakannya. Selamat makan, Shea! Calon kakakmu, Red Shea melirik makanan yang ada di meja makan dan isi pesan Red secara bergantian. Helaan napas panjang lepas dari bibirnya. Dan ia tersenyum kecil atas pemberian Red. Senyum pertamanya untuk pria itu. "Kalau terus seperti ini, lama-lama aku bisa luluh," gumamnya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN