Shea benar-benar telah melupakan segala hal tentang pernikahan sang ibu. Ia menjalani aktivitasnya seperti biasa, tak ambil pusing kalau sebentar lagi dirinya akan memiliki seorang ayah tiri. Toh, Shea juga tidak akan kembali ke Virginia, kecuali kalau ibunya meninggal.
Ah! Ia sudah terlihat seperti anak durhaka sekarang.
Mengikat rambutnya secara asal, Shea kemudian memutuskan untuk turun dari ranjang setelah tiduran sambil memainkan ponselnya sejak bangun beberapa saat yang lalu. Jam sendiri sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sementara Shea belum mandi dan sarapan sama sekali.
Menurut Shea, bila mendapat jatah libur dari kantor, jangan menyia-nyiakannya. Dan menurut Shea, jatah libur tidak akan terasa mubazir jika digunakan untuk tidur satu harian dan bermalas-malasan di rumah.
Dengan tampilan yang berantakan, Shea bukannya mandi terlebih dulu, ia malah melangkah menuju dapur untuk mengganjal perutnya yang terus berteriak minta diisi.
Namun, entah kenapa Shea merasa ada yang aneh ketika menginjakkan kakinya di luar kamar. Menajamkan telinganya, Shea pun bisa mendengar suara televisi yang sedang menyala.
Shea pun mendadak waswas sebab sejak kemarin ia tidak menyalakan televisi sama sekali. Dan tak ada satu pun orang yang memiliki duplikat kunci apartemennya selain ibunya. Dan Shea juga tidak yakin bila yang menyalakan televisi adalah ibunya.
Lalu, siapa?
Tak ingin berlama-lama di dalam pikirannya, Shea pun berniat untuk pergi ke ruang tengah. Tak lupa ia membawa barang apa pun yang bisa digunakan untuk memukul. Berjaga-jaga kalau saja yang menyalakan tv adalah orang yang tak dikenalnya.
"Oh! Kau sudah bangun?"
Detik di mana Shea melihat sesosok pria yang sedang menonton televisi di kamarnya dengan santai, detik itu pula tubuh Shea mendadak kaku.
Kalau saja yang datang memang benar ibunya, maka Shea pasti akan langsung meninggalkannya. Begitu pula kalau orang asing, ia pasti akan memukulnya tanpa ampun. Namun, yang kini berada di depan matanya adalah Red. Sosok yang tak disangka-sangkanya dan membuatnya bingung harus melakukan apa.
"Aku sudah di sini sejak jam sembilan pagi," ucap Red seraya melirik jam tangannya dan tersenyum setelahnya.
"Ba-bagaimana bisa?" Shea tergagap. Suaranya bahkan nyaris hilang. Raut kekagetan di wajahnya menunjukkan seolah-olah ia tidak berekspektasi sampai sejauh ini.
"Aku meminta duplikat kucinya setelah Ibumu menghubungi resepsionis." Red menunjukkan kunci miliknya, masih dengan senyum yang sama.
Kedua bahu Shea melemas seketika, dan ia membuang tongkatnya begitu saja. Ibunya memang keterlaluan. Red adalah orang asing. Bagaimana kalau pria itu memiliki niat jahat padanya?
"Aku tidak menerima tamu sama sekali. Jadi, pulanglah," usir Shea blak-blakkan. Wajahnya kini sudah berubah menjadi datar tak berekspresi. Seakan-akan sedang menunjukkan kepada Red kalau ia engggan meladeni pria itu.
"Ah, kau pasti mengira kalau aku ke sini untuk mengajakmu bekerja sama seperti yang kutawarkan kemarin, bukan?" Red bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Shea seraya melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. "Kalau kau berpikiran seperti itu, artinya kau salah, Shea." Langkah kakinya berhenti beberapa senti dari tempat Shea berdiri.
Melipat kedua tangannya di depan d**a, Shea pun menanggapi, "Lalu, apa tujuanmu datang ke sini?"
Red menyeringai. "Tentu saja untuk mendekatkan diri dengan calon adik tiriku. Kita akan menjadi saudara tiri kalau kau lupa."
Shea memutar kedua bola matanya. "Sayangnya aku tidak peduli siapa yang akan menjadi saudara tiriku. Bahkan, aku tidak peduli Ibuku akan menikah dengan siapa. Jadi, silakan pergi dari sini." Sekali lagi ia mengusir Red lantas bergegas menuju dapur, seakan pembicaraan ini tidak ada artinya sama sekali baginya.
"Ayolah, Shea, jangan seperti ini." Red tak memedulikan pengusiran Shea meski itu sudah yang kedua kalinya. Ia malah berjalan mengikuti wanita itu. "Setidaknya kita harus menjalin hubungan baik supaya ke depannya tidak canggung."
"Lebih baik kalau kita pura-pura tak saling mengenal saja." Suara Shea memelan di akhir kalimat manakala ia menemukan meja makan yang sudah penuh dengan berbagai jenis makanan.
Lantas, Shea menoleh ke arah Red, dan kembali terkejut untuk kesekian kalinya karena jaraknya dengan pria itu begitu dekat. Ia pun mundur dan bergeser. Mencari jarak yang aman dengan Red.
"Semua itu adalah jenis makanan kesukaanmu, bukan?" tanya Red, alisnya naik turun. "Ayolah, Shea, jangan tegang seperti ini." Ia maju mendekati Shea, mengguncang bahu wanita itu seperti seseorang yang sudah kenal lama.
"Apa-apaan kau ini! Jangan sok akrab denganku!" hardik Shea. Dengan kasar ia menghempaskan tangan Red yang berada di pundaknya.
Bukannya berhenti setelah mendapat amukan Shea, Red malah terkekeh. Dan semakin tertarik untuk kembali mengganggu wanita itu.
"Kita memang tidak dekat, tetapi tujuanku ke sini agar kita bisa dekat seperti kakak adik pada umumnya. Uhm ... bagaimana kalau dimulai dengan sebuah pelukan?" usul Red sembari merentangkan kedua tangannya yang otomatis langsung ditolak oleh Shea.
"Jangan berani melakukan itu!" Shea memperingatkan. Kedua matanya bahkan sampai melotot lebar dan telunjuknya mengarah kepada Red.
"Ayolah, Adikku. Peluk Kakakmu ini sekali saja."
Sejatinya, Red datang ke sini untuk memperbaiki hubungannya dengan Shea, tetapi caranya tidak seperti ini. Kata sahabatnya, ia harus bertutur kata lembut dan sabar. Namun, pada kenyataannya, yang Red lakukan saat ini adalah mengganggu Shea. Sangat jauh dari niat awalnya. Red benar-benar tidak bisa menahan perasaan lain yang hadir dalam dirinya saat berada sedekat ini dengan Shea.
"Pria gila! Lepaskan aku!"
Dan kini, gangguan Red sudah berada pada tingkat teratas ketika ia berhasil membawa Shea ke dalam pelukannya.
Dalam beberapa menit, Red hanya diam meski Shea sudah meronta tak keruan di dalam dekapannya. Entah pelukan Red yang begitu erat atau tenaga Shea yang terlalu kecil, sebab wanita itu tidak kunjung lepas walau ia sudah berusaha semaksimal mungkin.
"Shea, izinkan aku untuk menjadi pelindungmu mulai sekarang," bisik Red tiba-tiba.
Dan hal itu berhasil menghentikan segala penolakan Shea. Tubuhnya menegang dalam dekapan Red, dan wanita itu seakan telah kehilangan napasnya.