Tok-tok-tok. Suara ketukan pintu menyadarkan May dari tidur lelahnya. Matanya mengerjap memandang sekeliling,
“Ya ampun! Ini di__” May langsung menutup mulut dan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia baru ingat, kalau mulai dari tadi siang dia sudah tinggal di rumah yang lumayan asing baginya.
Tok-tok-tok, “Nona, apa Anda baik-baik saja?” terdengar nada kawatir dari balik pintu kamar ketika May masih tidak membukanya.
May turun dari tempat tidur dengan malas. Tubuhnya masih di lengkap dengan baju dan mahkota dikepala, May membuka pintu sedikit pelan.
“Nona maaf....” sang pelayan malah terlihat tersenyum ketika melihat keadaan Nona barunya yang masih berwajah bantal dengan mekap yang masih menempel dan mahkota yang sudah miring dari tempatnya.
“Maaf, May tadi ketiduran. Jadi belum sempat mandi dan bersih-bersih.” Ucap My sambil tersenyum ramah. Namun, alanglah terkejutnya May ketika melihat reaksi sang pelayan yang langsung menunduk takut.
“Ma, maafkan atas kelancangan saya Nona. Saya tidak__”
“Hey, kenapa kamu kaku begitu. Kamu tidak salah apa-apa. Ayo tegakan tubuhmu. May tidak suka melihat kamu begitu sopan. Kita ini sama, sama-sama pelayan di rumah ini.” Ucap May dengan santai dan tersenyum ramah.
“Tidak Nona, sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bermaksud tidak sopan. Saya kemari hanya menjalankan tugas dari Tuan supaya memberi tahu Nona untuk segera turun karena Tuan menunggu Nona untuk makan malam.” Si pelayan menunduk hormat.
Satu tangan May mengusap tengkuk dan yang satunya menggaruk pelipis ketika melihat pelayan di hadapannya tidak bisa di ajak bergurau. Pelayan itu begitu sopan. Padahal May juga sama, jadi pelayan di rumah ini. “Apa semua pelayan di sini harus sekaku itu” May bergumam sambil menggelengkan kepala karena sedikit pusing.
“Nona, Tuan__” ucap sang pelayan karena melihat May yang malah terdiam.
“Iya, iya. Katakan pada Tuan, pelayannya akan turun setelah mandi.” Setelah memotong perkataan sang pelayan, May menutup pintu kembali dan pergi hendak mandi.
25 menit berlalu, May baru bisa turun setelah menyelesaikan bersih-bersih seluruh tubuh dan wajahnya. Dia berdiri di depan Darka yang menatapnya cukup sengit.
“Kamu sengaja,” Darka menarik tangan May kasar, “Membuat saya menunggu selama ini!” mata tajamnya menyala dan terlihat wajah tidak sukanya.
“Tuan bukannya tahu, May itu di dempul sama Kia. Jadi wajar saja May telat. Karena membersihkan wajahnya susah.” Ucap May sambil mendorong d**a Darka. “Sekarang, apa yang harus pelayan lakukan untuk, Tuan?”
Darka merasa terkejut dengan apa yang May bicarakan, pasalnya dia memperkenalkan diri sebagai pelayan.
“Tuan Darka yang terhormat, apa yang harus pelayan barumu ini lakukan!” May kembali bertanya, pasalnya Darka hanya dia dan menatap dengan mata yang masih marah.
“Saya ingin makan! Segera kamu siapkan.” Ucap Darka sambil membuka handphone yang berdering ada yang masuk.
May menarik nafas dan menghembuskannya kasar, pasalnya Darka itu hanya membuat dia kesal dan bekerja. Sebab makanan yang dia minta, semua sudah ada di depannya, tinggal mengambil dengan tangan sendiri. “Sungguh kekanakan!” gerutu May dengan tangan yang tengah bekerja memindahkan makanan ke piring Darka.
“Sekarang itu waktunya makan, bukan main handphone. Apa tidak cukup, seharian berkutat dengan handphone dan pekerjaan!” ucap May sambil menaruh satu piring penuh makanan di depan Darka.
Darka menatap May, “Kamu menceramahi saya!” terdengar nada suara cukup meninggi.
“Bukannya berceramahi, tapi mengingatkan. Ayo makan dulu, katanya ingin makan!” May memberikan sendok yang sudah dia lap terlebih dahulu.
“Kamu ingin membunuh saya!” Darka melotot ketika melihat setumpuk makanan yang ada di depannya. Nafsu makannya hilang seketika, karena melihat begitu banyak makanan yang ada di piring miliknya.
May mengerutkan kening, “Membunuh apa! Itu-kan makanan yang pelayannya sediakan.” Umpat May dalam hati, tangannya terkepal kuat karena jengkel.
“Saya tidak butuh umpatan, tapi saya ingin jawaban.” Ucap Darka menatap May makin sengit.
Kreeet. Terdengar tarikan kursi yang bersentuhan dengan lantai. “Mas Darka sayang, dengar ya. Saya ini baru menikah dengan Anda tadi pagi. Jadi, tidak mungkin saya membunuh Anda di malam pengantin kita.” Ucap May dengan menggoda.
Karena kesal, May memutuskan untuk sekalian saja dia menjadi jalang yang seperti Darka katakan. Supaya dia terdiam dan berpikir kalau May tidak seperti yang dia katakan.
Awalnya Darka tertegun dengan panggilan May barusan tapi setelahnya, dia tersenyum dan mendekatkan kepala pada telinga May, “Jadi kamu ingin kita adakan malam pertama?” ucap Darka sambil meniup telinga May.
Tubuh May langsung menegang, pasalnya dia tidak bermaksud seperti itu. Dia melakukannya hanya untuk menggoda dan melampiaskan kekesalan pada Darka yang terus saja berpikiran buruk padanya.
“Kelihatannya tubuhmu setuju.” Tangan Darka menelusuri pipi May yang sudah terlihat panik. “Tapi sayang, saya tidak menginginkan jalang bekas orang lain.” Ucap Darka menjauhkan kepala. Dia kembali duduk sambil memegang dan fokus pada handphonenya.
Hati May kembali teriris karena perkataan Darka yang terus saja mengatakan kalau dia seorang jalang. Dengan tangan terkelap kuat dan menekan rasa sakit dihati, May menyunggingkan senyum. “Sayang sekali, padahal May menginginkannya. Tapi,” May cemberut seperti kecewa karena tidak akan ada malam pertama. “Ya sudah. May pergi lagi ke kamar. Karena May ingin melanjutkan tidur.” May berdiri hendak pergi. Dia ingin cepat sampai kamar dan menumpahkan rasa sakit dihati dengan menangis sendirian.
“Siapa yang mengizinkan kamu pergi, saya belum memerintahkannya. Apa kamu mendadak pikun, tadi saya bilang ingin makan, bukan!” Darka menarik tangan May dengan kasar.
“Tuan Darka yang terhormat, itu makanan Anda sudah ada di depan. Tinggal makan.” Ucap May lemah karena dia sudah tidak tahan dengan perlakuan Darka.
“Suapi saya. Sekalian kamu makan bareng saya, karena....” peletak! Satu sentilan di kening May dapatkan. “Itu terlalu banyak. Saya tidak mungkin memakannya sampai habis.” Ucap Darka yang kembali pada kegiatannya yang tadi.
May kembali membuang nafas kasar, dengan terpaksa May melakukan perintah Darka. Menyuapinya, dan juga menyuapi dirinya sendiri yang memang merasa lapar.
Melihat itu ada senyum samar di bibir Darka pada May, sang istri. Sebenarnya dia ingin sekali bersikap lembut layaknya pengantin baru, tapi ketika ingat apa yang di katakan seseorang, rasa marah dan kesalnya kembali mendominasi hati kecilnya. Alhasil sikap kasarnyalah yang Darka perlihatkan pada May setiap saat.
“Saya sudah cukup. Kamu habiskan makanan itu. Karena saya tidak suka kalau ada orang yang membuang makanan!” ucap Darka tegas. “Saya tidak suka penolakan.!” ucap Darka ketika melihat mulut May akan bersuara.
Pelayan yang ada di sana langsung tersenyum. Pasalnya mereka tahu, tujuan Darka sebenarnya baik. Menginginkan sang istri makan dengan lahap. Tapi caranya yang cukup membuat mereka tercengang dan May salah paham.
“Kenapa kalian masih di sini? Apa pekerjaan kalian sudah selesai semua!” nada bicara Darka terdengar marah, pasalnya pelayan rumah malah menertawakan dirinya.
Semua pelayan tertunduk takut, setelah itu pergi dengan cepat ketika mendapati sang tuan marah besar. Atas apa yang mereka lakukan.
“Tu___”
“Cepat habiskan makanannya! Saya akan menunggumu.” Ucapan Darka membuat May cukup tenang, pasalnya dia merasa sedikit takut bila di tinggal sendiri.
***