20

1162 Kata
          Darka kembali merelakskan tubuh supaya tidak di ketahui apa yang terjadi. Tapi May tidak bodoh, dia merasakan tegangnya tubuh itu, dan ketika melihat Darka biasa-biasa, hatinya kembali merasa sakit.             “Kamu harus sadar May, Tidak mungkin Darka mau bersamamu.” Ucap May dalam hati. Di tempat lain Kia sudah terkapar lemas dengan apa yang di lakukan Darka. Tapi jangan salah, tidak sampai seharian dia di siksa dengan benda itu, kepala pelayan sudah melepaskannya setelah 1 jam dia di puaskan dan sekarang tengah tertidur pulas di kamar yang Darka perintahkan untuk di jaga supaya May tidak masuk ke kamar tersebut. Sedangkan di sini, May masih memeluk erat Darka dengan pikiran sedihnya.              “Kamu selesaikan makan. Aku masih ada pekerjaan.” Darka mendorong tubuh May dari pelukan setelah itu meninggalkannya tanpa mencicipi makanan yang sudah May buat dengan susah payah.             Dengan air mata yang tidak bisa ditahan, May menyuapi makanan ke mulutnya sendiri. Sungguh ini sebuah kesedihan yang mendalam yang May rasakan. Hatinya kembali di hancurkan setelah apa yang Darka lakukan padanya. May ingin segera pergi dari sini, walau dengan hati yang cukup sakit pastinya karena perasaan yang dia punya telah di masuki sosok Darka.             Darka menatap May dari layar laptopnya, dia melihat dan mengamati tangis itu, ada rasa sesak dan nyeri di dalam ulu hati ketika melihat May menangis karena dirinya. Tapi rasa takut dan trauma masih lebih besar Darka rasakan membuat dia takut untuk melangkah maju ke depan.              Trauma itu bebar-bebar membekas dalam dadanya apa lagi kejadian itu ada di depan mata kepalanya sendiri walaupun sudah lama terjadi.                “Aku masih belum bisa terjatuh dalam pada hatimu, karena kejadian itu terus membuat aku merasa takut dan cemas. Aku takut akhirnya akan seperti yang telah aku lihat.” Ucap Darka sambil menjatuhkan punggung di kepala kursi dan memijat ujung hidungnya.              Saat itu, umur Darka baru menginjak belasan tahun, dia anak yang di penuhi kasih sayang dari kedua orang tuanya yang terlihat baik-baik saja bila tengah berkumpul. Namun nyatanya, itu hanya di depan Darka saja karena di belakangnya, orang tua Darka adalah orang tua yang penuh dengan permusuhan dan saling menjatuhkan, itu sebabnya hanya karena seonggok harta yang mereka miliki dari warisan orang tua sang ayah yang telah meninggal. Andai Ayah Fibra tidak menemukannya saat itu, mungkin saat itu juga Darka hanya tinggal nama karena kekejaman sang mamah yang meninggalkannya sendiri.                Darka yang bari saja pulang sekolah terlihat sok mendapati sang ayah yang telah terbujur kaku di ruang makan, tepat di sampingnya ada sepiring udang goreng saus tiram kesukaan Darka yang sudah dingin dengan campuran bau amis darah yang keluar dari hidung dan mulut sang ayah. Darka berteriak minta tolong pada tetangga yang untungnya saat itu ayah Fibra tengah berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan ayah Darka yang katanya tengah sakit, padahal saat itu tenaga sang ayah tengah dibutuhkan karena sebuah proyek besar miliknya di tangani ayah Darka.                  Darka meraung-raung memanggil sang ayah yang sudah tidak bernyawa lagi. Karena merasa cemas dan iba, ayah Fibra membawanya pulang yang saat istrinya baru saja melahirkan anak keduanya. Ayah Fibra pun membantu Darka untuk mengurus jenazah sang ayah yang saat itu memang tidak punya lagi keluarga selain Darka sendiri. Sedangkan mamah Darka, dia menghilang di telan bumi. Sampai satu tahu berlalu, barulah sang ibu di temukan. Dari penyelidikan yang di lakukan pihak berwajib, ternyata sang ibu dan pacar barunyalah yang telah membuat ayah Darka meninggal.                Darka yang mengetahui itu langsung sok dan terguncang jiwanya, sampai pernah satu bulan harus di rawat intensif oleh dokter ahli jiwa untuk menenangkan hatinya. Setelah kejadian itu, sifat Darka jadi berubah, dia sangat membenci wanita selain orang dekatnya, dan akan memperlakukan mereka bagai sampah yang hanya bisa di gunakan sekali saja.                Tubuh Darka yang tengah bersandar di kursi penuh dengan peluh, dia menggigil sampai usapan lembut menyadarkan Darka dari lamunan.                “Maaf, May lancang masuk tanpa izin, tapi May merasa gelisah ketika Tuan tidak menjawab ... aaah!” Darka menarik pergelangan tangan May sampai dia terjatuh di pangkuannya.                 Dengan cepat, Darka menaruh kepala di pundak May, “biakan seperti ini dulu, aku membutuhkanmu.” Ucap Darka dengan pelan sambil memeluk May erat.                 May yang masih terkejut hanya bisa diam, tangannya mengusap punggung Darka yang basah karena keringat, “May tidak tahu apa yang membuat Tuan seperti ini, tapi May hanya ingin berbagi pengalaman, cobalah Tuan bicara pada orang yang paling Tuan percayai untuk masalah yang Tuan alami. May yakin, hati Tuan akan tenang dan sedikit-sedikit mengikis semua kegundahan yang Tuan alami.” Ucap May dengan terus mengusap punggung Darka.               Darka yang mendengar apa yang May katakan dan merasakan apa yang May lakukan langsung mengeratkan pelukan, dia merasa nyaman berada dalam dekapan May. Malahan setelah kenal dan dekat dengan May, Darka tidak lagi merasa cemas dan takut akan sesuatu sampai tiap malam dia harus mengonsumsi obat yang selalu di resepkan dokter semenjak dia ke luar dari rumasakit.                Setelah merasa tenang, Darka melepaskan pelukan dan menjauhkan diri dari May yang terlihat masih menunduk untuk menyembunyikan mata bengkaknya karena tangisan. Darka yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan tadi, langsung menatap layar laptop yang dia ingat belum di matikan, tapi ketika melihat layarnya sudah hilang, dia bernafas lega, pasalnya May tidak akan tahu kalau dia selalu memperhatikan semua gerak gerik May di rumah ini.                 “Apa Tuan sudah tenang?” tangan May terulur untuk mengecek apa Darka deman, tetapi tangannya langsung di cegat dan di tari sehingga wajah May begitu dekat dengannya.                “Panggil aku Darka, kita sudah sepakat, bila hanya berdua kamau harus memanggilku dengan sebutan Darka. Kalau tidak__, " Darka langsung memberikan lumatan di bibir May yang manis, May awalnya sok mendapat serangan mendadak, tapi akhirnya rileks, dia menutup mata, membalas aksi yang Darka lakukan dengan tidak kalah lembutnya.            Darka yang merasa dapat balasan, langsung memperdalam kegiatan sampai dia pun dengan berani, menjatuhkan May ke atas kursi tanpa melepas pagutan mereka. Darka mengungkung May di bawahnya. Sampai suara pintu menyadarkan mereka.              Awalnya Darka tidak ingin menghiraukannya, tapi ketika ketukan itu menjadi gedoran dan terdengar suara Kai yang memanggil namanya dari balik pintu, dengan berat hati Darka melepaskan May yang sudah terlihat acak-acakan.                “Jangan dulu di buka, May ingin merapikan duku penampilan supaya Kia tidak meledek May.” Ucap May ketika melihat Darka hendak membuka pintu,                 “Kenapa? Harusnya kamu perlihatkan sama dia, supaya dia__”                “Darkaaa, malu tahu! Sudah ah, aku ke kamar mandi dulu. Awas kalau sampai di buka, Darka juga rapikan baju, supaya Kia tidak menyangka yang tidak-tidak.” Ucap May sebelum masuk kamar mandi.                 “Kalau kamu tahu pengkhianatan Kia, apa kamu akan tetap memperlakukan dia dengan baik? Inilah yang jadi pertimbangan dalam hatiku, untuk terus menutupi apa yang Kia lakukan. Selain ingin memastikan dia benar adiku, aku pun ingin kamu tetap berbuat baik padanya selama dia menjadi adikku. Karena aku tidak sanggup bila harus memilih di antara kalian. Kamu istriku dan dia adikku, anak dari orang yang telah membuatku sesukses seperti saat ini.” Gumam Darka setelah melihat May masuk dan menutup pintu kamar mandi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN