1. Mantan Dikira Hantu

1810 Kata
Hal yang tak biasa dilakukan oleh laki-laki berkulit kuning langsat bernama Andra. Ia menunggui mobil dagangannya yang berjejer rapi di halaman parkir sebuah bank swasta di sekitar jalan PB Sudirman Jember. Sore itu, Andra duduk tak jauh dari pos satpam dan mengobrol dengan beberapa orang yang ingin melihat-lihat mobil yang ada di sana. Diintipnya Swiss Army yang melingkar di lengan kirinya, masih menunjukkan pukul 17.00 WIB. Masih terlalu sore untuk pulang ke rumah. Jangankan pukul lima sore, jam 12 malam pun dia anggap masih sore jika sedang asyik berkumpul bersama teman-temannya. Bisa dibilang masa hura-hura Andra terenggut ketika Papanya meninggal secara mendadak akibat serangan jantung sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu ia tak ada bedanya dengan laki-laki seumurannya pada umumnya. Andra masih hobi main, nongkrong, menikmati euphoria masa lulus kuliah, mencari lowongan pekerjaan bersama teman-temannya, ikut tes pekerjaan di manapun hanya sekadar untuk menunjukkan kemampuan dan mencari jati dirinya. Mimpi Andra sangat tinggi, dia juga ingin merasakan bekerja sebagai pegawai bank seperti Kiara, kakak perempuannya, ataupun menjadi pegawai negeri sipil, dimana pekerjaan itu lebih memiliki prestige tinggi ketimbang wiraswasta. Andra merasa akan mampu memiliki karir yang lebih cemerlang di dunia perbankan dibanding kakak perempuannya karena dia adalah laki-laki yang tidak akan terhalang jenis kelamin untuk meraih posisi apapun dalam sebuah perusahaan. Namun semua mimpi Andra harus kandas. Dia tiba-tiba ssperti harus dipenjara detik itu juga.  Di hari yang sama saat proses penandatanganan kontrak kerja sebagai karyawan ODP di sebuah Bank BUMN ternama, Papanya terkena serangan jantung dan sama sekali tak pernah terlintas di benak Andra, kalau papanya akan meninggal secepat dan se-mendadak itu. Harapan Andra sangat besar sang ayah bisa melihatnya menjadi pria sukses, berkompeten dan membanggakan keluarga. Sejak kepergian sang tulang punggung keluarga, Anggota keluarganya termasuk Andra sendiri berpikir, kalau bukan Andra, siapa lagi yang akan melanjutkan usaha dan mengelola aset milik mendiang papanya. Usaha dan aset tersebut berupa sebuah showroom mobil besar dan beberapa ratus hektar kebun sengon yang Andra sendiri tidak pernah sekalipun berkecimpung di dunia bisnis seperti itu. Andra seolah ingin marah pada Tuhan dan penyebab Papanya terkena serangan jantung hingga meninggal dunia, yang tak lain adalah kakak perempuannya sendiri. Namun seiring bergulirnya waktu, Andra sadar ada yang lebih hancur darinya saat Papanya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Kiara lebih hancur saat itu melebihi siapa pun. Kehancuran, penyesalan dan kesedihan mendalam terlihat jelas di mata perempuan yang tidak meneteskan air matanya sedikit pun bahkan hingga hari pemakaman Papa mereka. Kakaknya itu harus menanggung penyesalan seumur hidup karena telah menjadi penyebab kematian papanya. Seiring bergulirnya waktu, Andra berhasil mengelola dan meneruskan bisnis yang diwariskan oleh mendiang papanya. Dia tidak pernah lagi mempermasalahkan mimpinya harus menjadi seorang pegawai kantoran apalagi pegawai negeri sebagai patokan pria sukses dan berkompeten seperti tiga tahun yang lalu. Ada dua amanah yang harus dia jaga kesejahteraannya melebihi dirinya sendiri. Andra sudah bekerja keras siang dan malam untuk mengembangkan dua bisnis yang dikelolanya. Seperti sore ini, tepat tiga tahun setelah kepergian mendiang papanya, Andra sedang berkutat dengan salah satu bisnisnya. Dia masuk ke sebuah gedung milik bank swasta yang bekerja sama dengan showroom-nya dalam membiayai pembelian mobil secara kredit. Biasanya karyawan showroom atau pihak bank yang mengurus hal yang berkaitan dengan pemberkasan, tapi entah kenapa kali ini dia ingin sekali mengurus pengajuan berkas pengajuan kredit mobil itu sendiri. Tidak ada maksud khusus, Andra hanya ingin menyibukkan dirinya sendiri karena mulai bosan dengan rutinitasnya yang terlalu monoton. Menuju lantai tiga tempat kantor pembiayaan kredit mobil berada, langkah Andra terhenti karena tali sneakers-nya terlepas. Dia memilih membenarkan ikatan tali tersebut sebelum tubuh tingginya jatuh terjengkang ketika untaian tali terinjak oleh kakinya sendiri. Saat sedang menyelesaikan ikatan terakhir, manik matanya tertarik untuk memindai tatapan dari sepatu ke arah sepasang kaki jenjang dibalut kaos kai warna hitam lengkap dengan highheels berwarna senada, yang berada tepat di depannya.  Pikiran Andra seketika teringat pada obrolan absurd dengan teman-temannya, dimana salah seorang temannya mengatakan kalau gedung ini terkenal angker. Kabarnya gedung ini merupakan sisa reruntuhan asrama putri yang mengalami kebakaran dan sudah tidak terpakai selama puluhan tahun. Bulu kuduk Andra berdiri ketika membayangkan jika benar apa yang dikatakan temannya, kalau penghuni asrama putri yang pernah meninggal di sini sering menampakkan diri di jam-jam tertentu. Tapi masa iya hantu pakai stocking dan sepatu cewek? Begitu pikir Andra yang mencoba untuk menenangkan pikiran konyolnya. Akhirnya, Andra memberanikan diri untuk mendongak dan melihat seorang perempuan berambut panjang dan hitam sedang berdiri di hadapannya. Andra yang sedang berjongkok sampai jatuh terduduk saking kagetnya. “Astagfirullah ...,” Andra berseru pelan saat terjatuh. Kemudian segera berdiri untuk memastikan sosok yang ada di hadapannya perempuan beneran atau perempuan jadi-jadian. “Andra?” Kata pertama yang terlontar dari bibir mungil yang disapu pewarna merah muda milik perempuan tersebut. Andra membuka matanya lebar-lebar untuk melihat siapa yang menyebutkan namanya dengan suara yang terdengar begitu merdu di pendengarannya. Andra menggelengkan kepala kuat-kuat untuk membuang ekspresi bodoh yang terlanjur ia tampilkan sesaat yang lalu. “Nessa?” ucap Andra ragu. Andra menyebut sebuah nama perempuan sambil menatap perempuan yang sedang berdiri di depannya, yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan penuh keraguan seperti Andra. Nessa, perempuan itu pernah menyentuh hati Andra, cinta pertama, pacar pertama sekaligus mantan pertama Andra. Mereka putus tiga tahun lalu saat Andra sedang berada di puncak kasmaran, dalam keadaan sedang sayang-sayangnya pada gadis itu dan membutuhkan dukungan seorang kekasih kala itu tentunya. Namun, Nessa memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa menjelaskan apa penyebabnya. Nessa hanya mengatakan mereka sudah tidak sejalan lagi dan rasa cinta Nessa ke Andra sudah pudar seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya tujuh tahun masa pacaran tidak mampu mengukuhkan rasa cinta itu ke dalam suatu kata sakti bernama jodoh. Kini, mereka dipertemukan kembali setelah hampir tiga tahun tak berjumpa dan tak pernah ada komunikasi apa pun yang terjalin. Setelah Andra menerima keputusan Nessa waktu itu, dia memang tidak lagi pernah menemui Nessa. Bukan karena hati Andra mudah terbolak-balikkan atau tidak ingin memperjuangkan cintanya, tapi dia hanya berpikir secara realistis. Untuk apa memaksakan seseorang yang memang sudah tidak ingin menjalani suatu hubungan dengan kita, nanti pada akhirnya kitalah yang akan berjuang sendirian. “Kamu ngapain, Dra?” Pertanyaan retorik Nessa membuyarkan ingatan Andra tentang masa indah yang pernah ia lalui bersama gadis itu. “Mau ke lantai tiga, kamu kerja di sini, Cha?” tanya Andra sambil menilik penampilan Nessa yang tengah mengenakan setelan safari warna merah, yang merupakan seragam karyawan bank tujuan Andra ada di gedung ini. Nessa berdeham cukup keras saat Andra menyebut nama panggilannya dulu. Andra memang biasa memanggilnya dengan nama Chacha, dan hanya Andra yang boleh memanggilnya dengan nama itu. Andra yang memberi Nessa nama itu karena menurutnya, Nessa itu seperti cokelat Cha-Cha yang disukai gadis itu. Nessa memiliki bentuk mungil, warna-warni menarik, rasa yang manis dan tidak membosankan seperti pribadi Nessa. Dan sekarang Andra menjadi awkward gara-gara mencirikan seseorang yang belum bisa move on, karena masih mengingat dengan jelas panggilan kesayangannya untuk gadis itu. Andra hanya mampu menyeringai canggung untuk menutupi perasaannya. Perempuan bermata sayu itu mengangguk diiringi senyum yang dulu menurut Andra adalah senyum yang terlalu manis. Minum kopi pahit pun akan terasa manis jika meminumnya sambil menatap senyum Nessa. Begitu gombalan yang pernah dibuat untuk Nessa ketika mereka masih bersama. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh keduanya. Namun, karena diburu waktu akan melakukan proses tutup kas, akhirnya Nessa memilih melanjutkan langkah untuk kembali ke meja kerjanya di counter customer service. Andra memutar tubuhnya untuk menatap kepergian Nessa. Keinginannya untuk mendekati Nessa menguap saat ponsel di kantong celana jeans hitamnya bergetar. Mbak Kiky: Dek, kalo pulang titip sate dpn rs ya. Makasih Pesan singkat yang dikirimkan oleh Kiara membuat Andra mengembuskan napas kesal. Andra tidak membalas pesan tersebut dan memilih meneruskan apa yang menjadi tujuannya tadi saat masuk ke gedung ini. Setelah menyelesaikan segala kelengkapan berkas pengajuan kredit untuk calon pembeli mobilnya, Andra bergegas menuju lantai dasar untuk mencari keberadaan Nessa. Sayang sekali, ia terlambat sepuluh menit. Lantai dasar sudah kosong karena penghuninya sudah meninggalkan kantor. Andra tidak lantas putus asa. Dia pikir masih ada hari esok untuk menemui Nessa lagi. Setidaknya dia kini sudah tahu harus menemui gadis itu di mana. Sesampainya di rumah, Andra menyodorkan bungkusan berisi sate titipan Kakaknya. Terdengar suara Kiara berseru dari arah dapur mengatakan kalau apa yang Andra beli tidak sesuai dengan apa yang ia minta tadi di pesan singkat. Andra masa bodoh dengan kekecewaan Kakaknya seraya mengatakan semua sate rasanya sama, tidak ada bedanya meski dengan yang dijual di restoran mewah sekalipun. Sekitar pukul sembilan malam, Andra sudah rapi dan bersiap untuk pergi lagi. Mayang, mamanya Andra, yang melihat anak laki-lakinya itu melangkah menuju garasi rumah, langsung bergegas mencegah Andra untuk melanjutkan langkah. “Mau ke mana kamu, Le?” “Ngopi bentar Ma,” jawab Andra dengan suara pelan. “Ngopi di rumah kenapa? Peralatan untuk membuat kopi punya kamu itu lengkap tapi masih aja ngopi di luar,” cecar Mayang tak mau kalah. “Nggak ada enaknya ngopi sambil ngobrol sama tembok, Ma.” Andra membuka rolling door garasi rumah sebagian lalu mengeluarkan motor matic hitamnya. Mayang masih terus mengikuti anaknya, berharap kali ini Andra mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mamanya. “Pulang jam berapa?” tanya Mayang lagi. “Kayak biasanya, Ma,” jawab Andra masih dengan nada bicara serendah mungkin. “Kalau bisa pulangnya sebelum jam 12 tho, Le?” pinta Mayang dengan wajah memohon. Andra menghela napas saat motornya sudah berada di depan garasi. Andra tidak menjawab lagi perdebatan dengan Mamanya. Dia lalu menarik rolling door ke arah bawah, tapi Mayang menahannya. “Biar Mama aja yang nutup. Kamu hati-hati, kalau ngopi ya ngopi aja, jangan minum yang aneh-aneh,” imbuh Mayang menasehati anaknya. “Astagfirullah, Ma. Minuman apa maksud Mama? Alkohol? Emang Mama pernah lihat aku pulang dalam keadaan bau minuman aneh yang Mama maksud itu? Kenapa mesti curigaan mulu sama aku?” ucap Andra sudah mulai kehabisan kesabarannya. “Mama kan cuma ngingetin kamu, Le ...” Andra berdecak sebal lalu bergegas naik ke atas motornya setelah mencium punggung tangan Mayang. Bukannya Andra tidak menghormati Mamanya, tapi kadang Andra tak nyaman setiap kali Mamanya itu memberinya nasihat seperti tadi. Menurut Andra, Mamanya itu terlalu berlebihan kepadanya, seperti menganggap anak laki-lakinya itu masih berusia sekitar 15 tahun yang masih butuh nasihat semacam itu. Mayang lupa jika anaknya itu kini sudah berusia 26 tahun. Mayang masuk rumah dengan lesu. Kiara tersenyum lembut mendapati kekecewaan tercetak jelas di wajah Mamanya. “Udahlah Ma, jangan dipikirin ya. Andra biasa gitu kan?” ujar Kiara berusaha meredakan kekecewaan mamanya. “Iya Ki, tapi kapan adekmu itu mau berubah?” “Bukannya Andra sekarang sudah lebih baik, Ma. Biasanya dia bangun setelah adzan Dhuhur, sekarang adzan subuh sudah bangun tanpa perlu diguyur lagi. Andra yang jarang solat sekarang menjadi rajin solat. Andra yang dulu selalu membuat kita kesulitan menemuinya saat membutuhkan dia, sekarang sudah tau harus menemui dia di mana.” “Iya karena dia memang nggak tidur semalaman, makanya subuh udah bangun. Kebiasaannya yang suka begadang itu loh, Mama tuh kasian sama kesehatan dia.” “Udah, Ma. Andra lebih tau soal kesehatannya. Mending sekarang Mama istirahat aja ya,” bujuk Kiara dan Mamanya pun menurut. ~~~  ^vee^ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN