BAB 1: AWAL DARI SEGALANYA

996 Kata
"Kadang, dunia nggak butuh suara tangisan buat tahu seseorang terlahir dalam luka." --- Di sebuah desa kecil bernama Tegalsari, yang terletak di pinggir pesisir utara Jawa, hujan turun sejak pagi. Bukan hujan badai yang mengguncang atap dan mengguyur jalanan dengan deras, tapi gerimis tipis yang tak kunjung reda. Langit mendung menggantung seolah menahan tangis, dan tanah basah menebar aroma khas yang bercampur dengan bau obat dan kain steril. Di sebuah ruang bersalin sederhana di puskesmas desa, seorang bayi perempuan lahir malam itu. Kecil, kurus, dan... tidak menangis. "Anaknya sehat, Bu. Tapi... kok belum nangis, ya?" tanya sang bidan dengan suara ragu, memeriksa tubuh mungil yang masih berlumur darah dan lendir. Sesaat kemudian, suara tangisan itu akhirnya terdengar. Tapi bukan seperti tangisan bayi pada umumnya. Tangisan itu lemah, nyaris seperti bisikan. Namun cukup untuk membuat sang ibu, Sulastri, menitikkan air mata. Bukan air mata bahagia, melainkan air mata bingung—antara takut, sedih, dan lelah. Nama bayi itu Lina. Ia bukan anak yang disambut dengan doa selamatan, bukan juga bayi yang dirayakan kehadirannya dengan pesta kecil. Ia lahir di tengah pertikaian keluarga, di saat cinta kedua orang tuanya sudah mulai pudar, dan luka-luka lama belum sempat sembuh. Dunia seolah tidak menyambutnya dengan hangat. Dunia hanya menyuruhnya lahir—dan menanggung semuanya sejak awal. Ibunya, Sulastri, saat itu baru berusia 20 tahun. Usia di mana banyak orang lain baru menyusun mimpi, tapi Sulastri sudah harus menjalaninya tanpa pilihan. Ia menikah dengan Juhari karena sebuah "kecelakaan kecil" yang tak pernah direncanakan. Hamil duluan. Dan seperti kisah-kisah klasik di kampung, pernikahan itu dianggap jalan keluar paling masuk akal, meskipun tak ada cinta yang benar-benar mengakar kuat di sana. Juhari, sang ayah, tidak berada di sisi Sulastri saat Lina lahir. Bukan karena sedang bekerja atau terjebak hujan. Tapi karena sedang bertengkar dengan keluarga Sulastri. Bertengkar hebat. Tentang masalah lama, tentang ego yang tak mau kalah, tentang harga diri yang terlalu tinggi. Dan seperti biasanya, Juhari memilih pergi. Entah ke mana. Lina lahir dalam diam. Dunia pun seperti enggan menyambutnya. --- Keluarga yang Tak Pernah Satu Kehidupan rumah tangga Sulastri dan Juhari seperti cerita yang dipaksa bersambung. Sejak awal, semuanya berjalan karena keadaan, bukan karena kesiapan. Mereka menikah tanpa rencana masa depan. Tidak ada tabungan, tidak ada rumah sendiri, tidak ada pemahaman mendalam tentang arti hidup bersama. Juhari bekerja serabutan. Kadang jadi tukang bangunan, kadang ikut angkut barang di pelabuhan, kadang jadi kenek truk. Tapi lebih sering pulang tanpa hasil. Dan saat pulang pun, lebih banyak membawa amarah daripada rezeki. Sulastri, yang awalnya berharap bisa jadi istri rumahan, akhirnya ikut kerja membantu ibunya berjualan di warung kecil milik Ibu Sum. Pagi-pagi sudah ke pasar, siang menjaga warung, malam merawat anak. Tapi semua itu tak membuatnya kuat. Justru makin membuatnya sadar bahwa hidup ini kejam bagi perempuan yang tak siap. "Nggak usah ngeluh, Las," kata ibunya suatu malam saat Sulastri menangis diam-diam. "Lelaki kayak Juhari itu banyak. Tapi kamu yang milih. Ya kamu yang harus kuat." Kalimat itu terus terngiang di kepala Sulastri tiap malam, saat Lina menangis tanpa sebab dan Juhari tak kunjung pulang. --- Lina yang Bisu Lina tumbuh dengan tenang. Terlalu tenang untuk ukuran anak kecil. Ia jarang menangis, jarang tertawa, dan jarang bicara. Sejak usia satu tahun, ia sudah bisa memandang dengan mata tajam seperti orang dewasa. Matanya menyimpan banyak tanya, tapi tak pernah menuntut jawaban. Saat anak-anak seusianya cerewet dan lari-lari ke sana ke mari, Lina lebih senang duduk di sudut ruangan. Memeluk bonekanya, Kiki—boneka beruang coklat lusuh yang ia dapat dari ibunya saat ulang tahun kedua. Kiki adalah temannya satu-satunya. Teman yang tidak berteriak. Teman yang tidak meninggalkannya. Saat umur dua tahun, Lina punya adik laki-laki bernama Rendi. Sejak itu, semua perhatian tertuju ke si bayi lucu itu. Lina hanya... ada. Ia tak diabaikan, tapi juga tidak diistimewakan. Ia hanya hadir seperti udara—dipakai, tapi tak disadari. --- Rumah yang Penuh Tapi Kosong Rumah mereka kecil. Dindingnya dari papan, atapnya dari seng. Tapi selalu ramai. Bukan karena kebahagiaan, tapi karena suara adik menangis, suara TV yang menyala sepanjang hari, dan suara nenek yang suka bicara keras-keras. Ayahnya duduk di teras, merokok, menatap jalanan kosong. Ibunya sibuk di dapur atau di warung. Lina? Ia ada di tengah semua itu, tapi seperti tak punya ruang. Ia belajar menyendiri. Bermain sendiri. Bernyanyi pelan sendiri. Dan bicara hanya saat perlu. "Lina nggak usah manja," kata neneknya suatu kali. "Kamu kan udah gede. Adikmu lebih butuh perhatian." Dan sejak itu, Lina berhenti minta perhatian. --- Tumbuh Tanpa Arah Waktu masuk TK, Lina sering tidak hadir. Bukan karena malas, tapi karena tak ada yang mengantar. Ibunya sibuk, ayahnya entah di mana. Kadang neneknya mengantar, tapi itu pun kalau cuaca mendukung. Ia belajar mengenali jalan sendiri. Belajar berjalan di antara anak-anak lain yang tertawa dan bermain. Belajar pulang saat semua sudah dijemput. Sendiri. Di jalan pulang, ia suka melihat langit. Langit yang luas dan jujur. Langit yang tak pernah berbohong, tak pernah memukul, dan tak pernah marah. Langit adalah tempat Lina menyimpan doanya. --- Pertanyaan yang Menggantung Suatu sore, Lina bertanya saat ibunya sedang menggoreng tahu untuk warung. "Bu, kenapa Ayah marah terus?" Sulastri diam. Minyak di wajan mendesis. "Bu, Lina salah apa? Kenapa Ayah nggak pernah peluk Lina?" Pertanyaan itu tak dijawab. Tapi Lina tahu, jawabannya bukan karena ia nakal. Tapi karena ia lahir di waktu yang salah. Dari cinta yang salah. Di keluarga yang tak siap. --- Pelan-Pelan, Tapi Tetap Jalan Saat umur enam tahun, Juhari mulai jarang pulang. Katanya kerja di luar kota. Tapi tak ada uang yang dikirim. Tak ada kabar. Hanya hilang. Lina tak menangis. Ia hanya makin diam. Ia belajar tersenyum di depan guru TK. Menjawab "baik-baik aja kok" saat ditanya teman. Belajar mencintai dirinya sendiri lewat pelukan boneka Kiki. "Besok pasti lebih baik, kan, Ki?" bisiknya pelan tiap malam. Dan malam itu, hujan turun lagi. Sama seperti malam saat ia lahir. Tapi kali ini, Lina tak menunggu pelukan siapa pun. Ia mulai belajar: untuk bertahan, tak selalu harus kuat. Kadang cukup dengan tetap hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN