“Aku ini apa?” Kalimat itu terngiang di benakku. Nyanyian para jangkrik terdengar riuh di telinga. Hal pertama yang kulihat adalah telapak tangan kiri, lengkap ruas jari berdarah-darah dipenuhi goresan. Rasa ngilu menyengat sedetik kemudian. Kusadari lengan kananku menggelayut di lokasi yang tak seharusnya. Tulangnya patah, tapi tidak sesakit yang kubayangkan. Pikiranku terasa kosong. Mulutku masih saja setengah terbuka, sulit untuk mengucap kata; mengomentari realitas. Secara insting aku menebar pandangan pada kegelapan malam, mencari informasi untuk dicerna. Pandanganku menangkap sosok Len dan Maria. Mereka terduduk lemas menyandar pada batang pohon seraya meringis menahan tangis. Apa yang terjadi? Pikiranku serasa membeku, sulit untuk mengingat segalanya. Ah iya, kami bertarung m

