Dylan terus berjalan mondar-mandir dalam sepinya lorong rumah sakit. Dia masih saja memikirkan apa yang dikatakan oleh dokter dan Adrian tadi siang, bagaimanapun hatinya belum ikhlas jika Bianca harus di rawat di rumah sakit jiwa. Dylan masih menganggap jika Bianca tidak gila dan tak seharusnya berada di rumah sakit jiwa. Sesekali Dylan mengacak rambutnya kasar. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat Bianca terhindar dari keadaan yang begitu menyakitkan. Dalam keputus asaannya tiba-tiba Dylan teringat pada teman masa SMAnya yang merupakan lulusan Psikologi pada salah satu Universitas ternama yang ada di Negeri ini. Dia pun segera mengambil ponselnya dan mulai mencari nomor telpon Wisnu, temannya. "Untung masih ada," kata Dylan saat matanya melihat deretan

