Malam kedua di Rusun Harapan Bangsa terasa lebih menyesakkan bagi Boy. Kipas angin besi di kamarnya hanya berputar malas, memberikan angin panas yang tidak membantu sama sekali.
Perutnya berbunyi nyaring. Setelah menghitung sisa uang di dompetnya, Boy sadar bahwa makan steak atau sushi hanya akan menjadi kenangan indah dari London.
"Gue nggak percaya gue bakal melakukan ini," gumam Boy sambil menatap sebungkus mie instan goreng di tangannya.
Ia keluar menuju dapur umum, tempat kompor gas bersama berada. Di sana, ia bertemu Luna yang sedang memotong sayuran dengan sangat mahir. Luna hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus.
"Mau masak mie?" tanya Luna tanpa ekspresi.
"Iya. Tapi gue nggak tahu takaran airnya," jawab Boy jujur.
Luna menghentikan kegiatannya, menatap Boy dengan tatapan tak percaya. "Mas Boy...katanya lu lulusan luar negeri, tapi masak mie instan aja nggak bisa? Lu di London makan apa? Batu kerikil?"
"Gue biasanya makan di kantin kampus atau pesan delivery," bela Boy.
Luna menghela napas dirinya sama sekali tidak percaya kalau Boy anak kuliahan, ia merebut bungkus mie dari tangan Boy. "Sini. Liatin. Pertama, airnya jangan kebanyakan biar bumbunya nggak hambar. Dan jangan terlalu lama direbus kalau nggak mau mie-nya lembek kayak bubur bayi. Belajar, Boy! Di sini nggak ada pelayan yang bakal nyuapin lu."
Saat mereka berdiri berdampingan di depan kompor, Boy tanpa sengaja mencium aroma sabun mandi murah namun segar dari rambut Luna. Ada perasaan aneh yang berdesir di hatinya—sesuatu yang jauh lebih tulus daripada sekadar ketertarikan pada gadis-gadis sosialita di London.
Keesokan harinya, Boy dan Luna dijadwalkan masuk shift malam. Hotel Pratama Grand saat malam hari terlihat sangat berbeda. Lampu-lampu kristal yang megah memberikan bayangan panjang yang misterius di lorong-lorong sepi.
"Malam ini kita fokus di lantai 8 dan 9," kata Jennifer saat memberikan pengarahan di pantry. Wajahnya terlihat sangat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh concealer.
"Kak Jenn oke? Kakak pucat banget," tanya Boy khawatir.
Jennifer memaksakan senyum. "Cuma kurang tidur, Boy. Anakku lagi demam di rumah, tapi aku nggak bisa ambil cuti karena Pak Danu—Manager Keuangan itu—minta lantai 8 dibersihkan secara 'privat' malam ini."
Luna mengepalkan tangannya. "Pak Danu lagi? Dia bener-bener peres tenaga kita ya. Kenapa sih nggak pake tenaga outsourcing aja kalau emang kamarnya sebanyak itu?"
"Karena dia nggak mau ada orang luar yang tahu apa yang terjadi di lantai 8, Lun," jawab Jennifer lirih.
Boy terdiam. Ia mencatat nama Pak Danu di kepalanya. Tikus pertama sudah teridentifikasi.
Saat Luna sedang sibuk membersihkan ballroom di lantai bawah, Boy melihat kesempatan. Jennifer sedang ke toilet, meninggalkan kunci master di atas troli. Dengan jantung berdegup kencang, Boy menyambar kunci itu dan menyelinap menuju kamar 808.
KLIK.
Pintu terbuka pelan. Aroma rokok mahal dan alkohol menyengat hidung. Kamar itu berantakan, tapi bukan berantakan seperti kamar tamu biasa. Ada tumpukan berkas di atas meja rias dan beberapa botol minuman keras yang labelnya sudah dilepas.
Boy tidak punya banyak waktu. Ia segera memeriksa tumpukan berkas itu. Matanya membelalak saat melihat kuitansi pembayaran tunai dengan stempel palsu yang bukan milik Hotel Pratama Grand.
"Jadi ini caranya mereka main. Tamu bayar cash, kuitansinya palsu, dan kamarnya nggak pernah terdaftar di sistem pusat," bisik Boy.
Ia segera mengeluarkan ponsel Android-nya, memotret setiap lembar dokumen tersebut.
Namun, saat ia sedang memotret dokumen terakhir, terdengar suara langkah kaki berat di lorong luar.
"Siapa yang buka kamar 808?!" Suara berat itu sangat familiar. Itu suara Pak Danu.
Boy mematung. Pintu kamar 808 mulai terbuka. Ia tidak punya tempat sembunyi selain di balik tirai balkon yang tipis. Namun, sebelum pintu terbuka lebar, terdengar suara teriakan dari lorong.
"ASTAGA! PAK DANU! TOLONG SAYA!"
Itu suara Luna. Boy mengintip sedikit dan melihat Luna sedang berpura-pura jatuh sambil menumpahkan satu ember penuh air tepat di depan kaki Pak Danu.
"Kamu?! Apa-apaan ini?! Dasar babu nggak becus!" bentak Pak Danu sambil membersihkan celana kainnya yang basah kuyup.
"Aduh, maaf Pak! Saya pusing banget, tadi pandangan saya gelap terus kepeleset! Maaf banget Pak, saya bersihin sekarang!" Luna berakting sangat meyakinkan, menangis tersedu-sedu sambil mengelap sepatu Pak Danu dengan kain kotor.
"Sialan! Ganti baju sana! Bikin kotor lantai saja!" Pak Danu berbalik arah, membatalkan niatnya masuk ke kamar 808 karena harus mengganti celananya yang kotor.
Begitu Pak Danu menghilang di belokan lorong, Boy segera keluar dari kamar dan menghampiri Luna. Luna langsung berdiri, menghapus air mata palsunya, dan menatap Boy dengan tajam.
"Lu berutang nyawa sama gue, Master S2 Boyband," desis Luna. "Buruan pergi dari sini sebelum kita berdua mati konyol!"
Mereka bersembunyi di tangga darurat yang sepi. Napas Boy masih terengah-engah.
"Kenapa lu bantu gue, Lun? Lu tahu apa yang gue lakuin di dalem?" tanya Boy.
Luna bersandar di dinding beton, menatap Boy dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue nggak buta, Boy. Gue tahu lu bukan sekadar cowok manja yang butuh kerjaan. Lu terlalu sering nanya hal-hal yang nggak penting buat seorang Housekeeper. Lu lagi nyari sesuatu kan?"
Boy ragu sejenak. "Kalau gue bilang gue lagi nyoba benerin hotel ini, lu percaya nggak?"
Luna tertawa sinis. "Benerin? Lu pikir lu siapa? Pahlawan kesiangan? Hotel ini udah busuk dari dalem, Boy.
Pak Danu, Bu Angeline, bahkan beberapa manager lain itu satu komplotan. Mereka punya 'bekingan' orang kuat di luar sana."
"Gue bakal buktiin kalau mereka salah," tegas Boy.
"Terserah. Tapi denger ya, jangan libatin Jennifer. Dia punya anak yang harus dikasih makan. Kalau dia kena masalah gara-gara ambisi lu, gue sendiri yang bakal seret lu keluar dari rusun itu," ancam Luna.
Pukul dua pagi, saat jam istirahat, Boy menemukan Jennifer duduk sendirian di taman belakang hotel yang gelap. Jennifer sedang memandangi sebuah foto di ponselnya—foto seorang anak kecil yang memakai alat bantu pernapasan.
"Kak Jenn?" panggil Boy pelan.
Jennifer buru-buru menghapus air matanya. "Eh, Boy. Belum istirahat?"
"Anak Kakak sakit apa?"
Jennifer terdiam lama, lalu menghela napas.
"Gagal jantung bawaan, Boy. Operasinya mahal sekali. Itulah kenapa aku nggak bisa nolak saat Pak Danu minta aku tutup mulut soal lantai 8. Dia yang biayain pengobatan anakku sejauh ini. Aku tahu itu uang haram, tapi aku ibu yang putus asa."
Boy merasa dadanya sesak. Ia merasa sangat bersalah. Sementara ia bermain "detektif-detektifan" demi warisannya, orang-orang di sekitarnya berjuang hidup dan mati dengan cara yang tragis.
"Kak, suatu saat nanti, Kakak nggak perlu bergantung sama orang kayak Pak Danu lagi. Gue janji," ucap Boy sungguh-sungguh.
Jennifer tersenyum sedih. "Kamu anak baik, Boy. Tapi dunia ini nggak sebaik itu. Pulanglah, besok kita harus kerja lagi."
Saat Boy kembali ke loker untuk bersiap pulang, ia mendapati Supervisor Angeline sudah berdiri di sana, bersandar di loker milik Boy.
"Lantai 8 sibuk sekali ya malam ini?" tanya Angeline sambil memainkan kuku-kukunya yang dicat merah menyala. "Saya denger ada insiden di depan kamar 808. Pak Danu marah besar."
"Cuma kecelakaan kecil, Bu. Luna terpeleset," jawab Boy datar.
Angeline mendekat, aroma parfumnya yang menyengat memenuhi ruang loker yang sempit. Ia mengelus kerah seragam Boy dengan ujung jarinya.
"Boy, saya suka orang yang setia. Tapi saya lebih suka orang yang jujur. Jangan coba-coba main di belakang saya dengan Luna atau Jennifer, atau kamu akan tahu betapa nggak nyamannya tinggal di Jakarta tanpa pekerjaan."
Angeline memberikan kecupan jauh, lalu melenggang pergi. Boy mengepalkan tangannya. Penyamarannya makin sulit. Ia terjepit di antara Luna yang mulai curiga, Jennifer yang tertekan, dan Angeline yang mulai curiga.
Malam itu, saat berjalan pulang menuju Rusun bersama Luna, Boy hanya diam.
"Boy," panggil Luna saat mereka sampai di depan pintu Rusun.
"Ya?"
"Makasih... buat tadi. Maksud gue, makasih udah nggak bikin Kak Jenn kena masalah," ucap Luna pelan, wajahnya memerah di bawah lampu jalan yang remang.
"Gue yang makasih, Lun. Lo udah nyelametin gue," jawab Boy tulus.
Untuk pertama kalinya, mereka saling tersenyum tanpa ada hinaan atau sindiran. Namun di kegelapan lantai 4 Rusun, Jody memperhatikan mereka dengan tatapan yang penuh tanda tanya.