Pagi hari perayaan ulang tahun Hotel Pratama Grand ke-25 disambut dengan kesibukan yang luar biasa. Namun, bagi Boy, suasana ini lebih terasa seperti persiapan menuju tiang gantungan.
Surat somasi dari Angeline yang ia temukan semalam masih tersimpan di saku celananya, terasa berat seolah terbuat dari timah. Ia tahu, hari ini bukan hanya tentang merayakan kejayaan hotel, tapi tentang bertahan hidup di tengah kepungan serigala berjas.
Saat ia keluar dari kamar, ia melihat Jody sedang berdiri di depan motor bebeknya yang hancur, menatap sisa-sisa kendaraan itu dengan tatapan kosong.
"Jod," panggil Boy pelan.
Jody tidak menoleh. "Lu tahu, Boy? Motor ini hasil gue narik lembur setahun penuh. Sekarang cuma jadi rongsokan karena gue terlalu percaya sama orang asing kayak lu."
"Gue bakal ganti, Jod. Gue janji," ucap Boy dengan sungguh-sungguh.
"Pake apa? Gaji housekeeper lu?" Jody tertawa getir, lalu berjalan pergi meninggalkan Boy yang terpaku.
Patah hati karena kehilangan kepercayaan sahabatnya, Boy melangkah menuju hotel. Ia sempat berpapasan dengan Luna di parkiran bawah.
Luna menatap luka di dahi Boy yang mulai mengering, lalu memberikan sebuah bungkusan kecil berisi roti lapis.
"Makan. Lu butuh tenaga buat dengerin makian Angeline hari ini," ucap Luna singkat tanpa menatap mata Boy, lalu segera berlari masuk ke gedung.
Meski singkat, Boy tahu itu adalah cara Luna menunjukkan bahwa ia masih peduli di balik kemarahannya.
Hotel sudah bersolek. Karpet merah dibentangkan di lobi, bunga-bunga lili putih yang diimpor langsung dari Belanda menghiasi setiap sudut Ballroom utama.
Para staf diperintahkan mengenakan seragam terbaik mereka. Namun, di balik kemegahan itu, intrik kotor sedang berjalan.
Boy ditugaskan di area Back of House (area belakang) untuk membantu logistik katering.
Ini adalah cara Angeline untuk membatasi ruang geraknya agar tidak bisa mendekati tamu-tamu penting atau Pak Hendrawan.
"Boy, kamu dengar?" bisik Jennifer saat mereka sedang menata piring-piring porselen di dapur utama. "Angeline sudah menyewa lima orang 'petugas keamanan tambahan' yang sebenarnya bukan dari agensi resmi.
Mereka ditempatkan di pintu-pintu darurat. Mereka punya foto kamu."
Boy mengangguk tenang, meski batinnya waspada. "Dia mau eliminasi saya secara halus saat acara dimulai, Kak. Supaya nggak ada keributan di depan tamu."
"Lalu apa rencana kamu? Kamu nggak bisa terus sembunyi di dapur," tanya Jennifer cemas.
"Saya harus masuk ke ruang kontrol server saat pidato utama berlangsung. Dokumen yang saya curi semalam menyebutkan ada transaksi otomatis yang akan berjalan tepat saat lampu Ballroom diredupkan untuk prosesi potong tumpeng.
Itu adalah momen mereka menguras aset hotel," jelas Boy pelan.
Satu jam sebelum acara dimulai, Boy dipanggil oleh Supervisor melalui handy-talky untuk menuju ruang locker staf. Alasannya, ada masalah dengan seragam cadangan yang harus ia distribusikan.
Begitu Boy melangkah masuk ke ruang locker yang sepi, pintu langsung dikunci dari luar. Dua orang pria berbadan besar, yang bukan karyawan hotel, muncul dari balik deretan lemari besi. Mereka membawa tongkat pemukul yang dibungkus kain agar suaranya tidak gaduh.
"Jadi ini tikus yang bikin Ibu Angeline pusing?" salah satu dari mereka menyeringai.
Boy mundur perlahan, matanya mencari jalan keluar. Ia tidak bisa menggunakan teknik bela diri elitnya di sini, karena ada kamera CCTV di pojok ruangan. Ia harus terlihat seperti sedang beruntung saat membela diri.
Saat pria pertama mengayunkan tongkatnya, Boy sengaja menjatuhkan diri, membuat tongkat itu menghantam loker besi dengan suara DANG! yang keras.
Boy kemudian menarik sebuah ember pel yang penuh air sabun dan menendangnya ke arah lantai di depan kedua pria itu.
Kedua pria itu terpeleset, jatuh terjerembap dengan posisi yang konyol.
Boy tidak membuang waktu. Ia memanjat deretan loker dan merangkak masuk ke dalam saluran ventilasi udara yang sempit—sebuah jalur yang hanya diketahui oleh mereka yang benar-benar memahami denah bangunan ini secara mendalam.
Di dalam saluran ventilasi yang panas dan berdebu, Boy merangkak menuju ruang kontrol utama. Dari celah-celah jeruji ventilasi, ia bisa melihat Ballroom yang mulai dipenuhi tamu-tamu penting.
Pak Hendrawan berdiri di podium, tampak tegang, matanya terus menyisir ruangan mencari keberadaan Boy.
Di sudut lain, Angeline tampak sangat anggun dengan gaun malam berwarna emas, mengobrol dengan beberapa investor dari Garuda Perkasa. Ia sesekali melirik jam tangannya, menunggu laporan bahwa Boy sudah "dibereskan".
Boy sampai di atas ruang server. Dengan hati-hati, ia membuka penutup ventilasi dan turun dengan bantuan kabel-kabel besar.
Ruangan itu kosong karena semua teknisi sedang bertugas di Ballroom. Boy segera menyolokkan sebuah flashdisk khusus yang diberikan papanya melalui Pak Hendrawan minggu lalu.
"Ayo, sedikit lagi..." gumam Boy saat melihat bar progres di layar monitor. Ia sedang menyuntikkan virus pelacak untuk membatalkan transaksi otomatis Angeline.
Tiba-tiba, lampu indikator di ruang server berubah merah. Aksesnya diblokir dari luar. Pintu ruangan terbuka, dan Angeline masuk sendirian. Ia tampak tidak terkejut melihat Boy di sana.
"Kamu pikir saya sebodoh Danu, Boy?" Angeline melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Saya sudah tahu kamu akan ke sini. Ruang locker itu cuma pengalih perhatian."
Boy berdiri tenang di depan server. "Ibu nggak akan bisa jalankan transaksi itu. Audit London sudah memantau akun penampung Ibu."
"London jauh dari sini, Boy. Dan saat mereka sadar, saya sudah menghilang dengan identitas baru," Angeline mengeluarkan sebuah alat kecil—jammer sinyal. "Sekarang, berikan flashdisk itu, atau saya tekan tombol alarm kebakaran.
Ribuan tamu akan panik, terjadi desak-desakan, dan saya akan pastikan Luna adalah orang pertama yang terjepit di pintu keluar."
Boy mengepalkan tangannya. "Jangan bawa-bawa Luna."
"Kenapa tidak? Dia adalah kelemahan terbesarmu, kan? Si informan kecil yang jatuh cinta pada gadis rusun," ejek Angeline.
Saat situasi memuncak, suara Pak Hendrawan terdengar melalui pengeras suara gedung, memberikan pidato pembukaan. Boy tahu dia hanya punya waktu beberapa menit sebelum lampu Ballroom diredupkan.
"Ibu benar," ucap Boy tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sangat dingin, mirip dengan suara Tuan Pratama Senior. "London memang jauh. Tapi saya ada di sini."
Boy menekan satu tombol di keyboard server yang sudah ia siapkan sebelumnya. Di layar besar Ballroom, bukannya video sejarah hotel yang muncul, melainkan rekaman percakapan Angeline di gudang pelabuhan semalam beserta daftar transaksi fiktifnya.
Wajah Angeline berubah pucat pasi. Ia segera berlari menuju pintu, namun pintu itu sudah dikunci dari luar oleh tim keamanan internal Pak Hendrawan.
"Ini belum berakhir, Boy!" teriak Angeline histeris.
"Untuk Ibu, ini sudah berakhir," jawab Boy datar.
Pesta itu berakhir dengan kekacauan terselubung. Angeline dibawa keluar melalui pintu belakang oleh petugas kepolisian yang sudah menunggu.
Tamu-tamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya mengira ada kesalahan teknis pada video presentasi.
Boy kembali ke rusun saat fajar hampir menyingsing. Ia duduk di tangga dasar, kelelahan. Luna datang menghampirinya, duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa selama beberapa menit.
"Angeline sudah ditangkap," ucap Boy memecah keheningan.
"Gue tau. Satu hotel heboh," Luna menatap langit pagi. "Tapi Kak Jenn bilang, ada 'kekuatan besar' di balik video itu. Sesuatu yang nggak mungkin dilakukan cuma oleh seorang informan."
Luna menatap Boy tajam, seolah mencoba menembus rahasia di balik mata pemuda itu. "Siapa lu sebenernya, Boy? Kenapa setiap kali ada badai, lu selalu ada di tengah-tengahnya tapi nggak pernah hancur?"
Boy hanya tersenyum tipis, rasa sakit di bahunya masih berdenyut. "Gue cuma Boy, Lun. Tukang pel yang beruntung."
Luna tidak menjawab, tapi ia menggenggam tangan Boy erat.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah terparkir, mengamati mereka dari kegelapan. Musuh yang lebih besar dari Angeline sang otak dari Garuda Perkasa baru saja menyadari bahwa "tikus" yang mereka remehkan ternyata adalah "naga" yang sedang menyamar.