Aroma kopi saset yang diseduh dengan air dispenser yang tidak terlalu panas menjadi pembuka hari bagi Boy di Lantai 4 Rusun Harapan Bangsa. Matanya masih sedikit merah karena kurang tidur setelah semalaman berjaga di selasar demi memantau keselamatan Luna. Dahi birunya mulai menguning, sebuah proses penyembuhan fisik yang tidak sebanding dengan luka batin yang ia rasakan karena harus terus-menerus membohongi orang-orang di sekitarnya. Di bawah, di lapangan tengah rusun yang sering digunakan anak-anak bermain bola, suasana tampak tegang. Beberapa warga berkumpul di depan pengumuman yang ditempel di mading. Rupanya, ada isu bahwa Rusun Harapan Bangsa akan segera ditinjau ulang izin bangunannya oleh "pihak swasta" yang berafiliasi dengan pemilik lahan baru. Boy tahu, ini bukan kebetul

