BAB 8. Sisa Hujan di Sudut Pantry

1208 Kata
Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di selasar Lantai 4 Rusun Harapan Bangsa. Boy Pratama terbangun dengan suara tetesan air yang jatuh dari atap bocor tepat di samping bantalnya. PLUK... PLUK... PLUK... Suara itu seolah mengejek mimpinya tentang kamar suite di London yang kedap suara dan beraroma lavender. Ia bangkit, meraba ponsel Android-nya yang layarnya semakin sering berkedip. Tidak ada pesan dari Papanya. Tidak ada bantuan. Ia benar-benar dilepas di tengah hutan beton ini. Saat keluar kamar untuk mengambil air, ia berpapasan dengan Jody. Jody tampak sibuk memakai jaket ojeknya yang sudah memudar warnanya. Keduanya sempat bertatapan, namun Jody segera memalingkan muka, pura-pura sibuk mengancingkan helm. "Jod," panggil Boy pelan. Jody berhenti sebentar, tangannya masih di tali helm. "Gue narik dulu, Boy. Jagain Mira kalau lu lagi nggak shift. Jangan biarin dia bicara sama orang asing di bawah." Hanya itu. Tidak ada lagi tawa atau ajakan makan mie instan bareng. Rasa canggung menyelimuti mereka layaknya kabut pagi. Boy menyadari bahwa kehadirannya di rusun ini telah membawa beban ketakutan bagi orang-orang kecil yang hanya ingin hidup tenang. Sesampainya di Hotel Pratama Grand, Boy langsung merasakan perubahan atmosfir. Audit Pak Hendrawan masih berlangsung, namun kali ini tim audit bekerja di ruangan tertutup. Para karyawan Housekeeping kembali ke rutinitas mereka: menggosok, menyapu, dan memoles. Di pantry lantai 5, Boy bertemu dengan Luna. Gadis itu sedang menata handuk-handuk putih dengan gerakan yang sangat kasar, seolah-olah handuk itu adalah musuh bebuyutannya. "Lun, soal semalam—" "Gue nggak mau bahas," potong Luna cepat. Ia menyambar trolinya dan mendorongnya keluar pantry, hampir saja menabrak kaki Boy. Boy tidak menyerah. Ia mengikuti Luna dari belakang, ikut memegang ujung troli agar tidak menabrak dinding. "Gue cuma mau bilang kalau Jennifer sudah aman. Itu aja." Luna berhenti mendadak. Ia berbalik dan menatap Boy dengan mata yang tampak lelah. "Selamat, Boy. Lu udah jadi 'pahlawan' pakai uang Pak Danu. Sekarang, apa rencana lu selanjutnya? Mau jadi tangan kanan Pak Danu biar bisa tinggal di penthouse dan lupain rusun?" "Lu bener-bener mikir gue serendah itu?" Boy menatap mata Luna tajam. "Gue nggak tahu harus mikir apa lagi, Boy! Lu terlalu banyak rahasia. Lu dateng dari antah berantah, gaya lu selangit, tapi lu mau kerja kasar begini. Orang waras mana yang nggak curiga?" Luna kembali mendorong trolinya, meninggalkan Boy yang hanya bisa menghela napas panjang di lorong yang sunyi. Karena keributan kecil di pantry, Supervisor Angeline menghukum mereka berdua untuk membantu di bagian Laundry seharian penuh. Ruangan itu terletak di basement paling bawah, panas, lembap, dan dipenuhi suara mesin cuci raksasa yang menderu layaknya monster kelaparan. "Kerjakan semua cucian seprai dari lantai 8 sampai 10. Jangan ada satu pun noda yang tertinggal, atau kalian nggak akan pulang sampai besok pagi," perintah Angeline sambil mengipas wajahnya dengan kipas sutra. Di ruangan yang panas itu, Boy dan Luna dipaksa bekerja berdampingan. Mereka harus memasukkan seprai-seprai berat yang basah ke dalam mesin pengering. Uap panas membuat seragam mereka basah kuyup oleh keringat. Boy melihat Luna yang mulai kepayahan mengangkat seprai yang sangat berat. Tanpa bicara, Boy mengambil alih beban itu. "Gue bisa sendiri," protes Luna, meski napasnya sudah terengah-engah. "Diem. Tenaga lo udah habis. Jangan pingsan di sini, gue nggak mau repot gotong lo ke klinik," ucap Boy datar namun tetap mengambil beban itu dari tangan Luna. Untuk beberapa jam, mereka bekerja dalam keheningan yang melelahkan. Hanya ada deru mesin dan suara tetesan air. Di momen inilah, Boy merasa fisiknya benar-benar diuji. Tangannya yang dulu hanya digunakan untuk memegang stik golf kini mulai kapalan dan kasar. Dari balik kaca ruang pengawas di basement, Pak Danu berdiri mematikan rokoknya. Ia mengamati Boy lewat monitor CCTV. Matanya menyipit penuh selidik. "Angeline," panggil Pak Danu lewat HT. "Ya, Pak?" jawab Angeline dari seberang. "Perhatikan anak itu. Si Boy. Ada sesuatu dalam gerakannya yang tidak cocok dengan profil orang miskin. Dia terlalu tenang saat ditekan. Dan soal uang sepuluh juta itu... dia belum menggunakannya untuk membeli barang mewah. Cari tahu kemana uang itu pergi." "Baik, Pak. Saya akan terus menempel padanya," jawab Angeline dengan nada patuh. Pak Danu merasa ada ancaman yang belum bisa ia jelaskan. Insting kotornya mengatakan bahwa Boy bukan sekadar Housekeeper manja, tapi seseorang yang sedang mengintai dari kegelapan. Namun, ia belum berani bertindak gegabah karena posisi Pak Hendrawan yang masih berada di hotel. Saat jam istirahat tiba, Boy dan Luna duduk di lantai gudang laundry yang sedikit lebih dingin. Mereka makan nasi bungkus yang dibeli dari warung depan hotel. Boy tampak kesulitan membuka bungkus nasi dengan karet gelang yang sangat kencang. Luna yang melihat itu, tanpa sadar tersenyum tipis. Ia mengambil nasi itu dari tangan Boy dan membukakannya. "Sini. Lu kalau kelamaan buka nasi, keburu jam istirahat habis." "Makasih," gumam Boy. Mereka makan dalam diam. Nasi dengan lauk tempe orek dan sambal itu terasa sangat nikmat karena rasa lapar yang luar biasa. "Boy," panggil Luna pelan. "Hmm?" "Apa yang paling lu kangenin dari 'hidup lu yang dulu'?" tanya Luna tiba-tiba. Boy terdiam sejenak. Ia teringat steak wagyu, mobil mewah, dan udara bersih di London. Tapi kemudian ia menatap Luna yang sedang menyeka keringat di dahinya dengan ujung lengan baju. "Gue kangen rasa tenang, Lun. Tapi anehnya, di sini, meski gue capek dan dikejar-kejar Pak Danu, gue ngerasa lebih... hidup," jawab Boy tulus. Luna menatap Boy dengan tatapan yang sedikit melunak. "Lu aneh, Boy. Tapi gue mulai paham kenapa lu betah di sini." Sore harinya, saat hendak mengembalikan kunci pantry, Boy melihat seseorang yang mencurigakan keluar dari ruang server hotel. Orang itu memakai seragam teknisi, tapi gerakannya sangat terburu-buru dan ia terus menutupi wajahnya dengan topi. Boy mengikuti orang itu sampai ke tangga darurat. Namun, saat di tikungan, orang itu menghilang. Boy hanya menemukan sebuah USB Drive yang terjatuh di lantai semen. Boy segera memungut USB itu dan menyembunyikannya di dalam kaus kaki. Ia tahu, ini bisa jadi bukti penting, atau justru bom waktu yang akan menghancurkannya. Ia kembali ke pantry dengan wajah biasa saja, tapi jantungnya berpacu cepat. Di sana, Luna sudah menunggunya untuk pulang bareng. "Lama banget lu? Ke toilet apa ke London?" sindir Luna. "Sori, ada urusan dikit. Yuk pulang," ajak Boy. Saat mereka sampai di gerbang Rusun, mereka melihat kerumunan orang di depan Blok B—blok tempat Luna tinggal. Ada mobil polisi dan ambulans. Wajah Luna mendadak pucat pasi. Ia langsung berlari menembus kerumunan. "IBU! IBU!" teriaknya histeris. Boy segera menyusul di belakangnya. Di tengah kerumunan, ia melihat ibu Luna sedang dibantu duduk oleh tetangga, wajahnya tampak sangat ketakutan. Ternyata, kamar Luna baru saja diacak-acak oleh orang tak dikenal. Semua pakaian dilempar ke lantai, kasur dibelah, tapi anehnya, tidak ada barang berharga (yang memang sedikit) yang hilang. "Mereka nyari apa, Bu?" tanya Luna sambil memeluk ibunya yang gemetar. "Ibu nggak tahu, Lun... Mereka cuma masuk, ngacak-ngacak, terus pergi pas Ibu teriak," tangis sang Ibu. Boy berdiri di ambang pintu, matanya menyapu ruangan yang berantakan itu. Ia menemukan sebuah coretan kecil di dinding dekat pintu, ditulis dengan spidol hitam: "KASIH TAHU TEMANMU, JANGAN SIMPAN BARANG YANG BUKAN MILIKNYA." Boy menelan ludah. Ini adalah peringatan untuknya. Pak Danu atau komplotannya sudah mulai menyentuh Luna untuk menekan dirinya. Penyamarannya masih utuh, tapi orang-orang di sekitarnya mulai menjadi target. Luna menoleh ke arah Boy dengan tatapan penuh tanya dan kemarahan yang mulai membara kembali. "Ini gara-gara lu kan, Boy? APA YANG LU SEMBUNYIIN?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN