Saat Pria Yang Kamu Suka Peduli

1251 Kata
Alessa duduk di pinggir ranjang sambil menunduk menatap tangannya sendiri yang gemetar di pangkuan. "Aku nggak mau buka rahasia ini ke siapa pun," ucapnya pelan dengan suara serak. Dominic menurunkan ponselnya perlahan dan menatap gadis itu lekat. Pandangannya tidak lagi sama seperti beberapa menit lalu. "Memang aku bukan anak baik," lanjut Alessa sambil tersenyum miris tanpa mengangkat wajah. "Tapi ayahku juga bukan ayah yang baik. Dia bahkan nggak pernah berusaha jadi baik buat aku." Alessa mendongak tiba-tiba dan menemukan sorot mata Dominic yang berubah melunak. "Jangan tatap aku kayak gitu," desisnya tajam. "Aku benci dikasihani. Simpan saja rasa kasihanmu buat orang lain." Dominic meremas ponsel di tangannya hingga buku jarinya memutih. Rasa frustrasi menghantam dadanya dengan telak. Pantas saja gadis ini tumbuh liar. Pantas saja dia selalu mencari masalah dan perhatian dengan cara yang salah. Dia bukan perusak. Dia justru yang dirusak oleh orang tuanya sendiri. Alessa tiba-tiba berdiri dan menyambar tasnya di atas meja. Ia menjatuhkan jubah mandinya begitu saja ke lantai tanpa peduli. Dominic langsung membalikkan badan menghadap tembok dengan rahang mengeras. Ia mendengar suara kain bergesekan saat Alessa mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru. "Kau mau apa, Alessa?" tanya Dominic berat. "Lepaskan aku, Domi," jawab Alessa tenang sambil menarik resleting celananya. "Jangan gila. Ini tengah malam." "Nggak ada gunanya kamu jaga aku kalau orang yang bayar kamu saja sudah nggak peduli," ucap Alessa sambil meraih sepatunya. "Dia sudah buang aku. Jadi buat apa bertahan?" Suara langkah kaki Alessa terdengar mendekat ke arah pintu. "Nggak bakal ada yang nuntut kamu kalau aku hilang atau mati di jalan," lanjutnya dengan nada kosong yang menyayat hati. "Aku memang nggak punya siapa-siapa sekarang." Alessa sudah memegang gagang pintu saat sebuah tangan besar menghantam daun pintu tepat di samping kepalanya. Bam. Suara hantaman itu keras dan membuat Alessa tersentak mundur. Dominic berdiri di sana dan memblokir jalan keluar dengan tubuh tingginya. Wajahnya tidak lagi datar seperti biasanya. Ada amarah yang menyala di matanya tapi bukan tertuju pada Alessa. "Minggir," desis Alessa dengan suara serak. "Kamu nggak akan ke mana-mana," jawab Dominic tegas. "Untuk apa kamu menahanku?" teriak Alessa frustrasi. "Kamu sudah dengar sendiri tadi. Dia nggak peduli. Kontrakmu sudah selesai, Domi. Kamu nggak perlu pura-pura bertanggung jawab lagi." Alessa mencoba mendorong d**a bidang Dominic sekuat tenaga tapi pria itu tidak bergeming sedikit pun. "Aku bukan barang yang harus kamu jaga karena kasihan," lanjut Alessa dengan air mata yang kembali mengalir. "Aku muak dikasihani. Minggir atau aku teriak!" Dominic menangkap kedua pergelangan tangan Alessa yang memukul dadanya. Ia mencengkeramnya erat namun tidak menyakiti lalu mendorong gadis itu perlahan hingga punggungnya menempel ke pintu. "Tatap aku," perintah Dominic. Alessa membuang muka. "Tatap aku, Alessa." Suara itu begitu dominan hingga Alessa akhirnya mendongak dengan mata basah. "Kamu pikir aku nahan kamu karena kasihan?" tanya Dominic tajam. "Kamu salah besar." "Lalu apa? Tugas? Kewajiban?" Alessa tertawa sumbang. "Dia sudah buang aku. Dia bahkan bilang aku bakal habisin hartamu. Kamu mau ambil risiko itu?" "Persetan sama ayahmu," geram Dominic. Mata Alessa membelalak kaget mendengar umpatan kasar itu keluar dari mulut Dominic yang biasanya sopan dan kaku. "Mulai detik ini kamu bukan lagi urusan Bramantyo," ucap Dominic penuh penekanan di setiap katanya. "Aku nggak peduli dia mau kirim uang atau tidak. Aku nggak peduli dia mau pulang atau tidak." Dominic melepaskan tangan Alessa lalu menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Ia memaksa Alessa melihat keseriusan di matanya. "Kamu bilang kamu nggak punya siapa-siapa sekarang?" Alessa terdiam dengan bibir gemetar. "Bagus," bisik Dominic posesif. "Itu artinya nggak ada yang bisa melarangku buat ambil alih." Jantung Alessa berdetak kencang. "Maksudmu apa?" "Mulai malam ini kamu tanggung jawabku. Bukan karena aku dibayar. Bukan karena aku sahabat ayahmu. Tapi karena aku yang memutuskannya." Dominic mengusap air mata di pipi Alessa dengan ibu jarinya. Gerakannya kasar namun menyiratkan kepedulian yang nyata. "Kamu nggak akan keluar dari pintu ini sendirian," lanjut Dominic. "Kamu nggak akan menggelandang di jalanan. Kamu akan tetap bersamaku sampai aku pastikan kamu bisa berdiri sendiri." "Kenapa?" tanya Alessa lirih. "Kenapa kamu mau repot-repot?" Dominic menatap bibir Alessa sekilas lalu kembali ke matanya. "Karena kamu benar soal satu hal tadi." Alessa mengerutkan kening bingung. "Kamu bilang aku munafik karena nahan diri," aku Dominic jujur. "Dan kamu benar. Aku menginginkanmu. Dan sekarang alasan terbesarku buat menjauhimu sudah hilang." Dominic mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Ayahmu sudah melepaskan haknya atas kamu. Jadi jangan harap aku akan melepaskanmu semudah itu." Alessa terpaku. Ancaman itu terdengar lebih seperti janji. Janji yang membuatnya merasa aman sekaligus terancam dalam waktu bersamaan. "Sekarang ganti bajumu atau tidur," perintah Dominic. "Kita pulang ke vila besok pagi. Dan jangan pernah berpikir buat kabur lagi dariku." Dominic berjalan menuju sofa dan duduk di sana dengan kaki lebar. Ia menatap Alessa yang masih berdiri di depan pintu. "Kamu dengar aku, Alessa?" Alessa mengangguk kaku. "Kemari," panggil Dominic sambil menepuk sisi sofa di sebelahnya. Alessa ragu sejenak namun akhirnya melangkah mendekat. Ia duduk di samping Dominic dengan canggung. Pria itu langsung merangkul bahunya dan menariknya bersandar ke d**a bidang yang hangat itu. "Tenanglah, aku begini bukan karna kasihan sama kamu." "Lalu karna apa?" "Entahlah, Alessa, jangan tanyakan itu sekarang." ** Alessa menggeliat pelan di balik selimut tebal. Kepalanya masih sedikit pening sisa tangisan semalam. Ia membuka mata dan mendapati Dominic sudah berpakaian rapi. Pria itu berdiri di dekat jendela sambil memasukkan dompet ke saku celana. "Bangun," perintah Dominic tanpa menoleh. "Kita berangkat sepuluh menit lagi." Alessa duduk perlahan sambil memegangi kepalanya. "Jam berapa ini?" "Cukup siang buat meninggalkan tempat ini," jawab Dominic datar. Ia berbalik dan melempar pandangan pada Alessa yang masih berantakan. "Kamu mindahin aku ke kasur? tanya Alessa pelan. "Badanmu bakal sakit semua kalau tidur di sofa semalaman." Alessa terdiam. Ingatan tentang percakapan di balkon dan telepon ayahnya kembali berputar di kepala. Rasa malu dan lega bercampur jadi satu. Dominic berjalan mendekat ke tepi ranjang. "Jangan melamun. Cepat mandi." Alessa menatapnya ragu. "Dom." "Apa?" "Ucapanmu semalam. Kamu serius?" Dominic mencondongkan badan sedikit. Tatapannya tajam mengunci mata Alessa. "Aku nggak pernah main-main sama ucapanku, Alessa. Kamu tanggung jawabku sekarang." Alessa menelan ludah. "Oke." "Bagus," ucap Dominic sambil menegakkan tubuh kembali. "Sekarang masuk kamar mandi. Atau aku yang mandiin kamu biar cepat." Alessa langsung melompat turun dari kasur dan menyambar handuk. Wajahnya memerah padam. Dominic hanya tersenyum tipis melihat reaksi itu. ** Suara mesin mobil mengisi keheningan di sepanjang jalan menuju vila. Dominic menyetir dengan tenang sementara matanya tetap fokus ke jalanan yang mulai menanjak. "Kamu harus mulai lebih peduli sama dirimu sendiri, Alessa," ucap Dominic tiba-tiba memecah sunyi. Alessa menoleh dari jendela dan menatap pria di sebelahnya. "Maksudnya?" "Cintai dirimu sendiri dulu," jawab Dominic tenang. "Itu jauh lebih penting sebelum kamu memutuskan buat mencintai orang lain." Alessa terdiam sejenak mencerna ucapan itu dengan kening berkerut. "Aku mau kamu bisa jaga diri lebih baik lagi," lanjut Dominic dengan nada serius. "Jangan mudah tergoda sama apa pun. Termasuk sama laki-laki sepertiku." Mata Alessa membesar kaget. Ia langsung memutar tubuhnya menghadap Dominic sepenuhnya. "Kamu lagi coba tarik batas di tengah-tengah kita?" tanya Alessa tajam. Dominic tidak menjawab dan tetap memegang setir dengan santai. "Kamu ngomong gitu biar aku nggak godain kamu lagi?" desak Alessa. "Atau kamu lagi nolak aku padahal aku bahkan belum mengungkapkan perasaan apa pun ke kamu?" Dominic menoleh sekilas lalu bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia melepaskan satu tangannya dari setir dan mengusap puncak kepala Alessa dengan lembut. "Bukan begitu." Sentuhan hangat di kepalanya membuat Alessa terpaku dan berhenti bicara. "Aku cuma mau kamu berhenti meremehkan hidupmu sendiri," ucap Dominic lembut. "Kamu berharga, Alessa. Lebih dari yang ayahmu atau siapa pun katakan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN