"Sshh! Jangan dipaksa... sakit!"
"Diam. Kalau kamu terus meronta, ini tidak akan bisa masuk dengan benar."
"Tapi ini terlalu sempit, Dom! Aah... kau merobekku..."
"Rileks, Alessa. Tarik napas. Biarkan aku yang membuka jalannya."
"Nngh! Hah... ah... itu... itu dalam sekali..."
"Tahan di posisi itu. Kamu terlalu kencang."
"Gila... hah... basah... keringatmu menetes..."
"Lihat aku. Nikmati rasa sakitnya."
"Ah! Dominic... please..."
***
Sopir buru-buru membuka pintu belakang mobil, menampakkan Alessa Raynatta yang sudah duduk di dalam.
Ia menyilangkan kaki panjangnya begitu saja, rok yang terbelah sedikit memperlihatkan betisnya.
Alessa turun dengan langkah malas yang seperti sengaja diperlambat.
Koper berodanya berbunyi pelan saat ditarik melewati kerikil. Ia mendongak, menatap rumah besar di depannya dengan tatapan tajam dan penuh penolakan.
"Ini rumahnya?" tanyanya dengan nada mencemooh.
Sopir itu tak berani menjawab. Ia hanya menunduk, lalu kembali ke mobil setelah menurunkan dua koper besar milik Alessa di depan teras.
Gerbang terbuka otomatis dengan suara dengungan pelan. Dari arah pintu depan, seorang pria muncul.
Tubuhnya tinggi, mungkin sekitar 190 sentimeter. Kaus hitam polos yang ia kenakan pas di badan, memperlihatkan bahu lebar dan lengan yang kekar.
Alessa mendengus pelan.
Ia memalingkan wajah seolah tak peduli, meski jantungnya sempat berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kamu teman ayahku? Siapa namamu … ah maaf aku lupa, Om!” cibirnya.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia melangkah mendekat dengan tenang, langkahnya panjang dan pasti, sampai berhenti tepat di depan Alessa.
Alessa refleks mundur selangkah. Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, rasa percaya dirinya sedikit goyah. Aura pria itu membuatnya merasa terdesak.
"Hem," jawab pria itu, terlalu singkat.
“Apa? Nama kamu, hem? Aneh!” decak Alessa.
“Dominic.”
Suaranya berat, membuat Alessa merinding saat pertama kali mendengarnya.
"Bawa barangmu masuk. Kamarmu lantai dua. Pintu kedua dari tangga."
Alessa menyipitkan mata, dagunya terangkat menantang.
"Om Dominic? Ya ya, kamu nggak bakal nyapa dulu atau apa? Aku tamu loh. Sopan sedikit."
Pria itu menatapnya, matanya menyapu seluruh tubuh Alessa dari ujung kaki hingga ke mata dengan penilaian, dingin, membuat Alessa makin merinding.
"Kamu bukan tamu. Kamu titipan yang harus dijinakkan."
Dijinakkan? Memangnya aku sejenis bom? Batinnya.
Alessa mendengkus, menatap pria didepannya, yang sangat menjengkelkan karna sialnya ... terlalu menggoda.
"Dan kamu cuma babysitter, ya, Om. Heran, hari gini kok kamu mau di titipin aku, sih??? Aku merepotkan, loh!"
Pria itu berbalik, tidak peduli sama sekali. Alessa mencibir ke punggung lebarnya, tapi akhirnya menyeret kopernya masuk. Ngeselin! gerutunya membatin.
Selama lima belas menit, keheningan di antara mereka belum berubah.
Sampai akhirnya pria itu muncul kembali di ruang tamu. Ia membawa satu map cokelat, menjulurkannya pada Alessa.
"Ayahmu meninggalkan ini. Daftar aturan selama kamu berada di bawah kuasaku."
Alessa merebut map itu dengan kasar, membukanya cepat lalu mengernyit tak percaya. “Nggak usah lebay, aku bukan anak kemarin sore yang tunduk sama om-om kali!”
Dominic lagi-lagi terlalu santai menanggapi Alessa.
"Jam malam? Nggak boleh bawa tamu pria? Nggak boleh minum alkohol? Ini penjara atau apa?"
Pria itu berdiri tegak, tidak bergeming sedikit pun.
"Kalau kamu melanggar, aku yang akan langsung menghukummu."
Alessa tertawa kecil, nada suaranya meremehkan.
"Hukum aku?”
Dominic menyeringai.
“Dengan apa? Ceramah moral? Tatapan tajammu itu? Maaf ya Om, aku udah kebal dimarahi!"
Pria itu menatapnya cukup lama sampai suasana terasa canggung. Alessa bahkan bisa merasakan waktu seperti berjalan lebih lambat.
Tiba-tiba pria itu melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Terlalu dekat.
Alessa refleks mendongak untuk menatap wajahnya.
Tatapan pria itu tajam dan seolah menahan Alessa di tempat.
Saat akhirnya ia bicara, suaranya rendah dan tenang, tapi entah kenapa terasa menggetarkan di telinga.
“Aku tidak marah, Alessa. Aku menghancurkan siapa saja yang membakangkang.”
Ucapan itu seperti menghantam dadanya. Napas Alessa sempat terhenti sesaat.
“Kamu pikir kamu ini siapa!”
Dominic tetap diam.
Tatapannya tanpa sadar turun ke bibir pria itu yang terlihat tegas dan kaku.
Alessa yang biasanya berani, kini terasa kecil.
Dominic menatapnya sekali lagi.
Tatapan itu dalam, seolah melihat sesuatu yang tak ingin ia perlihatkan. Setelah itu, pria tersebut berbalik dan pergi begitu saja.
Tangan Alessa masih menggenggam map aturan itu dengan perasaan yang campur aduk tak karuan.
Ia sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya ia rasakan, marah karena diperlakukan seperti itu, atau justru terguncang oleh kehadiran pria itu yang begitu kuat dan sulit diabaikan.
Di sudut hatinya yang paling sepi, ada perasaan asing yang membuat dadanya berdebar pelan.
Om itu benar benar berbeda dari semua pria yang pernah ia temui.
Brengsek!!
***
Ponselnya sama sekali tidak berguna. Tidak ada sinyal. Wi-Fi pun mati.
Jelas ini bukan kebetulan.
Pria itu sengaja memutusnya dari dunia luar. Di atas meja kecil, buku aturan tergeletak rapi, seolah sengaja dipajang untuk mengingatkannya.
Alessa mendecak kesal dan melempar ponselnya ke atas bantal. Rasa tidak nyaman membuatnya bangkit dari tempat tidur.
Ia keluar kamar dan menuruni tangga. Lampu ruang tengah menyala redup, membuat suasana terasa sunyi.
Dominic duduk di meja makan besar. Ia masih mengenakan pakaian yang sama.
Lengannya terlihat tegang saat membalik berkas di depannya. Sesekali ia menyeruput kopi hitam tanpa mengalihkan fokus.
“Aku mau keluar besok. Aku perlu beli keperluan perempuan.”
Dominic tidak mengangkat kepala.
“Tulis saja daftarnya. Aku yang beli.”
“Aku bisa sendiri. Aku bukan tahanan kamu kali!"
“Tidak."
Alessa bersandar, melipat tangan di d**a.
“Ayahku boleh percaya kamu bisa jaga aku. Tapi kamu tidak berhak ngatur hidupku. Aku bukan anak kecil, Om!!"
Dominic menutup berkasnya pelan. Gerakannya santai tapi bikin bulu kuduk berdiri. Ia menatap Alessa dengan mata gelap.
“Kamu memang bukan anak kecil. Tubuhmu sudah dewasa. Tapi itu tidak bikin kamu aman. Di luar sana banyak pria yang bisa merusak gadis sepertimu dalam hitungan detik.”
Alessa menahan diri agar tidak mundur. “Kamu pikir kamu siapa? Polisi moral, kah?? Lucu sekali Anda ini!"
“Aku tahu pria seperti apa yang memburu gadis liar sepertimu. Karena dulu aku pernah jadi salah satunya.”
Ucapan itu bikin Alessa langsung diam. Napasnya sempat tersendat.
Entah kenapa, membayangkan masa lalu pria itu justru mengusiknya dengan cara yang aneh.
Dominic berdiri. Tubuh besarnya membuat ruang makan terasa lebih sempit dari sebelumnya.
Ia meraih mug kopinya lalu melangkah mendekat, berhenti tepat di samping kursi Alessa.
Jarak mereka terlalu dekat.
Aroma tubuh pria itu terasa jelas, hangat dan mengganggu konsentrasinya.
Dominic menunduk sedikit. Suaranya rendah, tenang, tapi penuh tekanan.
“Kalau besok kamu nekat keluar, jangan salahkan aku kalau aku sendiri yang bakal narik kamu pulang. Bahkan kalau harus aku ikat supaya kamu nggak kabur lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Dominic menjauh dan masuk ke kamarnya.
Langkahnya terdengar jelas sebelum akhirnya menghilang.
Alessa masih duduk kaku.
Jantungnya berdetak cepat.
Pria itu tidak banyak bicara, tapi setiap katanya seperti tahu persis di mana harus menekan.
Dengan kaki sedikit gemetar, Alessa naik ke kamar.
Kepalanya penuh emosi yang bercampur jadi satu.
Marah. Tersinggung. Dan … sesuatu yang tidak ingin ia akui.
“Om gila,” gumamnya pelan.
“Sialann!!"
Ia menggigit bibir, mencoba menenangkan diri.
“Jantungku hampir copot cuma gara-gara suara tu om-om,” ia menggeleng kesal.
“Enggak. Aku nggak bisa biarin ini. Aku nggak mau dikendaliin dia!"