SEJAK seminggu setelah operasinya, Ratih belum juga terbangun dari tidurnya. Yang ia lakukan tiap hari hanyalah berbaring dengan bantuan alat medis. Bibirnya memucat, wajahnya terlihat lebih sayu. Selama seminggu ini juga gue selalu setia di samping Ratih, merapikan rambutnya, bahkan mengelapi tubuh Ratih. Semua gue lakukan, setiap hari membawakan satu buket bunga lili putih di samping tubuhnya. "Besok mau di bawain bunga apa Ratih?" Gue mengusap pelan wajahnya. Dokter bilang, dia masih perlu beberapa waktu sampai bangun kembali. Gue berdiri lalu membuka tirai jendela yang ada di ruangan dia sehingga cahaya matahari pagi masuk menelusup ke dalam ruangannya. "Hari ini cuaca cerah ya Rat, sepertinya besok juga. Gimana kalau pas lu bangun kita pergi jalan-jalan? Hm?" Gue tau dia

