Chapter 04

1657 Kata
Aro sudah pulang, mobilnya pun sudah menghilang dari pandangan, namun aku masih berdiri di gerbang dan menatap jalanan kosong. Rasanya seperti mimpi, sama sekali tidak menyangka manusia seperti dia bisa muncul di kehidupanku dan dalam waktu singkat langsung memintaku menjadi pacarnya. Setelah mendengar alasannya, aku tidak merasa senang atau bangga; melainkan merasa kalau diriku ini sangat menyedihkan. Meski ia tak merendahkanku, menyadari kalau sudah banyak lelaki yang ‘menggoda’, bukankah itu menjijikkan? Padahal sepertinya cara berpakaianku tidak ‘mengundang’, apa yang salah dariku?   Setelah putus dengan pacarku hampir setahun yang lalu, aku memang belum pernah dekat lagi dengan laki-laki—kecuali Kendric. Aku tidak menghitung berapa orang yang sudah mengajakku sekedar makan siang atau pun lebih dari itu, karena aku memang sama sekali tidak pernah menerima ajakan mereka. Lantas jika aku menyetujui ajakan Aro untuk berpacaran, apakah ini langkah yang tepat? Bukankan dia tak ada bedanya dengan lelaki lainnya?   “Tamunya udah pulang?” tanya Seila, teman satu kontrakanku dari lantai dua.   “Oh, udah kok. Maaf ya aku gak sempet bilang, mendadak soalnya,” jawabku seraya kembali menutup pintu gerbang.   “Gak apa-apa kok. Btw, temen baru? Kayaknya belum pernah ke sini,” tanyanya lagi.   “Yah, begitulah.” Aku tak menjelaskan terlalu panjang, toh nanti di dalam dia pasti akan bertanya lebih jauh.   Kami berdua belum lama kenal, tapi dia anak yang sangat baik. Dia bergabung di kontrakan ini baru empat bulan dan aku merasa beruntung bertemu dengan anak yang cocok denganku. Sebelum dia datang, beberapa anak yang tinggal di sini sedikit membuatku tidak nyaman. Rumah kontrakan ini lumayan besar, namun sayangnya hanya disediakan dua kamar. Sebenarnya aku tak masalah tinggal sendirian, tapi mengingat semakin tahun keperluan kuliahku semakin besar, maka aku merasa harus lebih pandai dalam mengatur keuangan.   “Tadi aku liat sekilas, badannya tinggi banget, ganteng pula!” ujar Seila yang kini sudah duduk di ruang tamu, padahal aku baru saja masuk dan menutup pintu.   “Kepo banget deh kamu,” balasku seraya mengambil kaleng soda yang sudah kosong di atas meja dan hendak membuangnya. “Oh iya, kamu jurusan sastra, kan?” tanyaku kemudian.   Seila mengangguk cepat. “Iya, kenapa? Dia anak sastra juga?” tebaknya tepat sasaran.   “Iya, sastra Inggris. Kamu sastra apa?”   “Yah, beda. Aku ‘kan sastra Jepang,” jawabnya tampak kecewa.   “Oh iya, aku lupa. Kamu kenapa sedih gitu? Suka sama dia, ya?” ledekku.   Seila langsung tertawa. “Haha! Ya, enggak lah! Kenal juga enggak. Tapi penampilannya kukasih dua jempol sih. Mobilnya apalagi, cucok banget!” serunya terlihat bersemangat.   Aku tidak merasa heran mendengar ucapan Seila, siapa pun bisa terpikat pada Aro meski baru melihat visualnya saja. Sayangnya, setelah mengetahui kalau dirinya berasal dari keluarga yang kaya raya, tingkat ketertarikanku menjadi berkurang. Mau dipikir bagaimanapun juga, aku masih belum bisa menemukan niat baik dari Aro. Meski alasannya tepat, tapi tak ada yang bisa menjamin kalau apa yang ia ucapkan itu jujur.   ***   Sejak kejadian hari itu, tak ada perubahan signifikan yang terjadi, kecuali keberadaan Aro yang semakin sering terlihat. Meski tak secara langsung mendekat dan berdiri di sebelahku, aku sering mendapatinya sedang memperhatikanku. Apakah aku merasa nyaman? Jelas tidak. Aku merasa sedang dimata-matai.   Ketika ia sedang sendirian, aku memberanikan diri untuk menghampiri lebih dulu. Aro sedang duduk di salah satu kursi di cafetaria sembari menggulirkan layar ponsel. Wajah tampannya masih sama dan membuatku merasa kesal. Padahal aku tidak menyukai perilakunya, tapi rasa kagumku pada wajah itu sama sekali tidak berkurang.   “Hai, Re!” sapa Aro ketika aku sudah berdiri di sebelah mejanya.   “Kamu kenapa sih mata-matain aku terus? Aku gak suka!” omelku langsung pada poinnya.   “Mending duduk dulu deh! Gak enak diliat orang, kirain kita lagi berantem,” ujarnya lembut seraya meletakkan ponselnya di atas meja.   Aku pun mengikuti apa yang ia katakan dan duduk di depannya. Di atas meja itu ada sekaleng minuman bersoda dengan merk yang sama seperti yang pernah aku hidangkan beberapa hari yang lalu. Kurasa ia menyukainya.   “Tolong stop mata-matain aku! Aku gak nyaman,” ujarku dengan lebih baik, kuharap dia bisa mengerti. Ia diam sejenak dan menatap mataku lekat. Rasanya menyebalkan, jantungku langsung berdebar dibuatnya.   “Aku cuma ikutin apa yang kamu minta loh. Memang dengan cara apa aku bisa jagain kamu, kalo kamu sendiri minta kita jaga jarak? Satu-satunya cara yang bisa aku lakuin cuma ngeliatin kamu dari jauh, kan?” jelasnya.   Ya, dia benar. Memang permintaanku untuk menjaga jarak di kampus. Setelah kucoba selidiki, Aro merupakan anak yang cukup populer di kalangan mahasiswi. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian jika tiba-tiba dia menjadi dekat denganku. Sekarang saja aku berani menghampirinya karena jadwal perkuliahan belum memasuki jam istirahat, sehingga tak banyak orang yang datang ke cafetaria.   “Memangnya kenapa sih kamu harus jagain aku? Selama ini aku aman-aman aja kok. Jadi kamu gak perlu jagain aku segitunya,” omelku lagi.   “Aku ngeliatin kamu bukan semata-mata untuk jagain kok,” ujarnya seraya meneguk minuman.   “Terus kenapa?” tanyaku cepat.   Ia meletakkan kaleng sodanya yang sudah kosong, lalu kembali menatapku. “Cewek yang selama ini aku suka akhirnya bisa tau kalo aku suka sama dia. Makanya aku makin seneng ngeliatin dia.”   Blush!! Dia berhasil membuatku tersipu. Playboy satu ini benar-benar sudah kelas kakap. Ucapannya sangat terstruktur dan terdengar natural. Dan bodohnya… aku merasa senang mendengar kata-katanya itu. Sial!   “Jujur aja deh, sekarang pacar kamu ada berapa?” tandasku. Aku tak ingin terlihat murahan. Yah, meskipun tak bisa kupungkiri kalau pesonanya memang luar biasa.   Aro mengerutkan kening, lalu menghela napas panjang. “Punya satu aja disuruh jaga jarak kok,” dalihnya. Dari caranya menjawab, Aro terdengar sedikit kesal, tapi kurasa itu masih salah satu caranya untuk membuatku percaya. Sayangnya tidak semudah itu.   “Terserah kamu aja deh! Pokoknya aku gak mau dimata-matain!” ujarku mengingatkan seraya kembali beranjak, mengingat jam istirahat sebentar lagi tiba.   Aro ikut beranjak dan memasukkan ponselnya ke saku celana. “Kamu ada waktu kosong? Ayo kita nonton!” ajaknya.   Aku menatapnya tak percaya. Laki-laki satu ini memang terlalu random. “Gak ada. Aku sibuk,” tolakku tanpa berpikir ulang.   Bersamaan dengan itu, datanglah Kendric dengan beberapa temannya. Tentu saja ia begitu terkejut melihat keberadaan kami berdua, seolah obrolan kami tempo hari memberikan jawaban yang sudah jelas. Manik matanya melihatku dan Aro bergantian dan langkah yang terhenti tanpa aba-aba itu membuatnya ditinggal oleh ketiga temannya yang lain.   “Kalian… beneran?” tanya Kendric. Meski kalimat itu tidak lengkap, namun aku tahu apa maksudnya.   Belum sempat aku membuka mulut, Aro sudah lebih dulu menanggapi pertanyaan Kendric, “Yah, keliatannya gimana? Weekend ada acara, gak?”    Kendric menggeleng dan wajahnya masih belum terlihat biasa. “Gak ada. Kenapa?”   “Aku mau ajak Rea nonton, tapi kayaknya dia gak mau nonton kalo gak sama temennya.” Aro mengadu bak bocah SD kemarin sore.   Kendric menatapku bingung. Ia tak mengatakan apa-apa, namun sorot matanya seolah menuntutku untuk memberikan penjelasan. Aku pun mendengus kesal dan tersenyum datar.   “Gak usah dianggep!” jawabku seraya meninggalkan mereka berdua di sana.   Entah setelahnya mereka lanjut membahas hubunganku dengan Aro atau tidak, aku tidak menoleh sama sekali. Tapi sepertinya tak ada obrolan lain, sebab Aro kini sudah berada di sebelahku. Kakinya terlalu panjang sehingga bisa menyusulku dengan cepat tanpa perlu berlari. Kami berjalan bersama, namun tak saling bicara. Aku bisa merasakan kalau ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kami. Dan berjalan di sebelahnya seperti ini, membuatku merasa seperti kentang–sangat tidak serasi.   Sampai tibalah kami di depan kelasku, ruang 4 lantai 2. Sebelum masuk ke kelas, dia menyentuh siku tangan kananku dengan telunjuknya dan aku pun menoleh. Dia menyodorkan sekaleng minuman bersoda padaku.   “Buat kamu, biar gak ngantuk,” ucapnya.   Aku menatapnya tak percaya. Sampai kapan dia berusaha untuk merebut hatiku seperti ini? Dan lagi, aku tidak begitu suka dengan minuman bersoda. Meskipun begitu, aku tidak sampai hati untuk menolaknya.   “Makasih. Tapi lain kali, gak usah, ya!” jawabku seraya menerima kaleng minuman itu.   Dia tersenyum dan mengangguk. Menyebalkan sekali! Senyuman itu membuatku gila, seketika aku pun menoleh ke arah lain karena tak ingin terlihat tersipu lagi dihadapannya.   “Kamu yakin mau masuk kelas? Sekarang baru jam istirahat, masih harus nunggu 20 menit lagi,” tanyanya sembari melirik jam di pergelangan tangan kanan.   “Iya, aku yakin. Gak lama lagi juga ada yang dateng kok, gak usah khawatir.”   Biasanya memang seperti itu. Tak jarang aku menghabiskan waktu istirahat di kelas karena tidak terlalu suka berada di kerumunan. Kebetulan salah satu cafetaria sedang dalam perbaikan, sehingga jumlah pengunjung di cafetaria utama semakin padat.   “Gimana kalo aku temenin sampe ada yang dateng?” Aro menawarkan diri.   “Gak usah. Aku udah biasa kok. Gih, balik ke kelasmu!” usirku.   Bukannya pergi, ia justru mendahuluiku dan membuka pintu kelas. “Eh, mau ngapain?” tanyaku seraya mengikuti langkahnya.   “Pengen liat aja. Ternyata kelasnya sedikit lebih sempit,” ujarnya sambil berdiri di tengah kelas.   Aku tidak menjawab. Sudah bukan rahasia kalau jurusan sastra itu jurusan yang istimewa di kampus ini. Sehingga ukuran kelas yang berbeda juga bukan hal yang aneh.   “Kamu duduk di mana biasanya?” tanyanya lagi.   “Nomor dua dari depan,” jawabku. Jam kali ini adalah mata kuliah statistika, bangku barisan depan harus menjadi pilihan. Karena jika duduk di belakang, aku tidak akan bisa fokus; terhalang dengan mahasiswa lain yang senang bercanda.   Aro mengangguk dan tidak bertanya lagi, lalu duduk di salah satu kursi di barisan nomor dua. Aku tidak mengerti apa yang sedang ia pikirkan, namun aku merasa tidak nyaman. Berada di ruangan tertutup dengan seorang mahasiswa laki-laki yang bahkan berasal dari jurusan lain, tentu bisa menimbulkan banyak pertanyaan serta pikiran buruk bagi orang yang melihat.   Dan hal yang aku khawatirkan pun terjadi. Baru saja aku hendak mengusir Aro keluar dari kelas, tiba-tiba seseorang datang dan membuka pintu. Kompak kami pun menoleh. Tak hanya aku, orang itu juga tak kalah terkejut, lalu melihat aku dan Aro secara bergantian.   ‘Sial! Kenapa harus manusia ini?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN