Chapter 14

1324 Kata
Candaan yang sangat tidak lucu. Sebenarnya dia memikirkan apa sampai-sampai terpikirkan hal seperti itu? Dari ekspresinya, dia sama sekali tidak terlihat sedang bercanda. Entahlah, aku tidak mengerti lagi dengan jalan pikirannya. “Aku masih betah kok tinggal di kontrakan. Lagian, jadwal kita gak selalu sama, kan?” Kurasa ini adalah alasan paling tepat yang bisa kugunakan untuk menolaknya. Ia mengangguk, lalu memberikan buku menu padaku. Kuperhatikan satu-persatu menu yang ada. Rasanya tidak ada menu yang spesial, seperti rumah makan pada umumnya saja. “Kalo yang gak ada yang kamu suka, kamu bisa request kok, aku juga biasanya gitu,” ujarnya kemudian. “Aku apa aja deh, bingung mau pesen apa.” Bukan karena jaga image, aku hanya bingung. Pasalnya aku tidak tahu makanan apa yang enak di rumah makan ini. Tidak mungkin juga aku memesan menu khusus seperti yang Aro katakan, aku bukan siapa-siapa di sini. “Ya udah, minumnya mau pesen apa?” tanya Aro lagi. “Air putih aja,” jawabku. Jarang sekali aku memesan minuman lain, terutama yang dingin dan manis. Bukan karena diet, tapi karena aku lebih suka air putih sebagai teman makan. Dan Aro pun bertanya kembali, “Air putih aja? Gak mau pesen jus atau apa gitu?” Aku menggeleng. “Gak usah. Biasanya juga aku cuma pesen air minum kok.” Aro tidak memaksa dan pelayan kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan kami—yang aku juga tidak tahu dipesankan apa oleh Aro. Mataku kembali mengedar ke sekeliling, nuansa biru pastel dan biru langit memenuhi ruangan. Bagiku yang menyukai warna biru, tentu tempat ini sangat memanjakanku. Kursi-meja dan juga bingkai-bingkai jendela konsisten menggunakan warna putih yang cantik. Jika dibandingkan dengan rumah makan yang ada di depan, rasanya memang terlihat sedikit kontras. Dari bagian yang bisa kuintip sedikit dari balik jendela, ruangan di sana menggunakan warna yang lebih berani—ada warna merah, kuning dan putih yang dipadu dengan begitu cantik. Aku jadi penasaran sebagus apa desain interiornya. Seharusnya tak jauh berbeda dari yang ada di sini. “Aku masih penasaran sama cewek yang di kampus tadi. Sebenernya kalian ada masalah apa?” Akhirnya Aro kembali menyelidiki masalah itu. Kupikir tidak ada salahnya kuceritakan, toh aku juga sudah ikhlas melepaskan apa yang bukan milikku. “Jangan ketawa, ya! Sebenernya dulu… aku sempet deket sama Kak Arga. Kukira udah lebih dari sekedar temen, bisa dibilang… aku udah yakin aja gitu kalo dia memang ada rasa sama aku, tapi ternyata enggak,” jelasku seraya tertawa miris. Sungguh memalukan. “Terus?” Aro tak bereaksi, namun ia terlihat sangat tertarik dengan ceritaku. “Ya… itu. Waktu aku lagi suka-sukanya, gak sengaja aku liat dia ngobrol sama Hana di ruang rapat—dan lumayan mesra. Awalnya aku berusaha positive thinking, karena Kak Arga memang orangnya ramah, tapi ternyata lagi-lagi aku salah sangka. Mereka beneran pacaran. Ya udah, aku mundur.” Aro diam sejenak dan tak memberikan respon. Aku tak bisa membaca ekspresinya—seperti marah, tapi juga tidak. “Sekarang kamu masih suka sama dia?” tanyanya lagi. Aku menggeleng tanpa ragu. “Udah enggak. Aku yakin aku udah gak ada rasa sama Kak Arga, cuma belum bisa lupa aja sama pengalaman memalukan kayak gitu. Bisa-bisanya aku ke-PD-an.” Lalu aku kembali menertawakan diri. “Aku gak akan ngelakuin apa yang dia lakuin kok. Bahkan dari awal aku udah ngasih kepastian sama kamu. Kalo masih ada yang bikin kamu gak yakin, bilang aja! Aku bakal lakuin apa pun,” ujarnya dengan sangat yakin. Aku pun mengungkapkan yang sejujurnya pada Aro. “Kamu gak ada kekurangan kok. Cuma aku aja yang belum siap buat berkomitmen lagi. Aku sadar, aku terlalu banyak kekurangan. Apa yang kamu liat, itu bukan apa-apa.” “Tapi aku udah merhatiin kamu lumayan lama, bahkan mungkin hampir satu tahun. Aku yakin kamu gak seburuk yang kamu pikirin,” elak Aro. Aku sangat mengerti akan hal itu, karena memang aku selalu memakai topeng. Hanya orang tertentu yang bisa mengetahui bagaimana diriku yang sebenarnya dan setelah mereka tahu… tidak banyak yang bisa menerima. Lalu ia memberikan opsi. “Gini aja deh; aku juga gak sesempurna yang orang kenal kok, masih banyak sisi yang orang gak tau dari aku; ramah sama cewek misalnya. Kamu pasti tau ‘kan kalo image-ku di mata anak-anak cewek itu gimana? Tapi ketika sama kamu, image itu langsung berubah.” “Karena kamu lagi deketin aku? Kan cowok memang gitu kalo lagi ngejar cewek,” sahutku kemudian. “Aku paham kenapa kamu jawab itu,” balasnya. Ya, lagi-lagi aku menilai seseorang dari sisi negative karena pengalaman buruk yang sering kuterima. “Sorry,” ujarku yang kini kembali merasa bersalah. “It’s ok. Kita cuma butuh waktu untuk bisa saling kenal satu sama lain. Kalo memang nantinya kamu gak bisa terima kekuranganku, gak masalah. Kamu boleh mundur.” Aku menatapnya tak percaya. Dengan mudahnya ia mengatakan itu, padahal sebelumnya ia ingin sekali mengikatku dengan kencang. Mungkinkah suasana hatinya sedang bermasalah saat ini? Sayangnya obrolan kami harus tertunda karena pesanan kami sudah datang. Aro memesankan ayam goreng tepung yang dibalut dengan saus pedas manis. Tampilannya sangat cantik dan terlihat enak, rasa laparku seketika naik 80%. “Kita makan dulu aja! Nanti dilanjut lagi,” ujar Aro yang sangat pengertian. Kami pun makan dengan tenang. Pilihannya tidak salah, aku sangat menyukainya. Tidak terlalu manis, pedasnya juga pas. Ada makanan pendamping di mangkuk kecil yang merupakan asinan buah. Aku belum pernah mencoba, tapi ternyata rasanya enak juga. Semoga saja semua ini terasa enak bukan karena aku tidak membayar, alias gratis. “Gimana, enak?” tanya Aro di tengah kami menikmati makanan. “Enak kok. Enak banget malah,” jawabku jujur. “Aku gak tau harus pesenin apa, kupikir menu ayam itu paling aman dan bisa diterima,” ujarnya. “Gak apa-apa. Pilihanmu udah tepat banget kok. Aku suka.” Ia pun tersenyum senang, lalu lanjut makan. Tanpa sadar, aku jadi terus memandanginya. Ia juga terlihat sangat menikmati makanannya. Dia memesan makanan yang sama denganku, tidak ada yang dibedakan selain minumannya, yaitu jus tomat. Setelah selesai makan, pelayan kembali datang dan mengambil piring kotor kami. Namun tanpa disangka, seorang pelayan kembali datang dan membawa dua mangkuk kecil yang isinya adalah ice cream. Aku menatap Aro dan menyiratkan ‘apa ini?’. “Untuk cuci mulut,” jawabnya. Bahaya! Kalau terlalu sering seperti ini, berat badanku bisa naik 10kg dalam sebulan. “Ini ice cream handmade loh! Resep buatan mamaku. Kamu harus coba!” ujarnya seraya menyendok ice cream-nya sedikit. “Oh ya? Keren banget!” Kemudian aku mencicipnya sedikit juga. Rasanya enak dan lembut, manisnya juga tidak terlalu kuat, sehingga orang bisa memakannya dalam jumlah banyak tanpa takut enek. “Ini enak banget sih, tapi rasanya agak familiar,” ujarku jujur. “Oh ya? Pernah beli di mana?” Aku berusaha mengingat, namun yang kuingat justru ice cream yang biasanya kubeli di minimarket. Aku pun mengurungkan niat untuk mengutarakannya. “Enggak deng! Cuma perasaanku aja. Asli deh, ini enak banget! Kayaknya aku bakal beli nanti kapan-kapan,” ujarku seraya kembali menyendok sedikit demi sedikit. “Kamu ada kulkas, kan? Nanti aku pesenin buat kamu.” “Eh, jangan!! Kamu udah terlalu banyak traktir aku. Next time aja aku bakal beli, jangan ditraktir lagi!” tolakku tegas. Aku tidak suka jika terlalu merepotkan. Aro hanya menanggapi dengan menggelengkan kepala dan tertawa kecil. Mangkukku sudah kosong, begitu juga dengan Aro. Kini ia sedang sibuk dengan ponselnya, sepertinya karena bosan menungguku menghabiskan ice cream. Setelah ini akan ada apa lagi, ya? Apa dia akan langsung mengantarku pulang? Atau pergi dulu ke suatu tempat? Langit tampaknya kembali mendung, padahal aku sudah senang karena tidak perlu kebasahan lagi. “Udah selesai?” tanya Aro seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Udah kok,” jawabku sambil mengangguk. “Mau ke atas, gak? Kali aja kamu penasaran sama ruangan apa aja yang ada di sini,” tawarnya. Tingkat kewaspadaanku langsung meningkat drastis. “Bukannya di atas itu cuma ada kamar, ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN