Chapter 06

1084 Kata
Tangan dan kakiku terasa dingin. Memang aku tidak bersalah, namun ternyata nyaliku selemah itu. Mendapatkan sebuah image buruk adalah salah satu kelemahanku. Sejak kecil, aku selalu dibiasakan untuk menjadi anak yang ‘baik’; nilai sempurna, tidak melawan orang tua, bersikap baik pada semua orang, dan lain sebagainya. Maka dari itu, ketika ada sedikit saja hal buruk yang menyenggol namaku, rasanya semua image yang sudah kubangun selama ini bisa hancur dalam sesaat.   Aku benar-benar penasaran dengan siapa orang yang dimaksud dalam postingan tersebut. Sayangnya, belum ada yang bisa membuktikannya. Semakin malam, grup kelas sudah semakin sepi, namun aku masih terus menggulirkan layar berulang kali untuk mencari sebuah bukti yang mungkin saja terlewat. Dan… situasi seperti inilah yang paling kubenci. Perasaanku kacau hanya karena ketakutan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Akhirnya, aku tidak bisa tidur sampai pagi tiba.   Tok-tok-tok!   “Re, Rea!” panggil Seila dari balik pintu kamarku.   “Ya. Apa, Seil?” jawabku seraya meregangkan otot-otot tubuh. Rasanya aku baru terpejam beberapa menit.   “Ada yang nunggu di depan. Memangnya hape kamu mati, ya?” tanya Seila kemudian.   Sejenak aku berpikir sambil mengerjapkan mata. Pertama, aku tidak merasa memilki janji dengan seseorang. Kedua, hari ini jadwal kuliahku sore. Ketiga… aku lupa di mana meletakkan ponselku. Aku langsung bangkit dan mencari ponsel di bawah bantal atau pun selimut, namun tidak bisa kutemukan. Ternyata barang kecil itu sudah tergeletak di lantai dan aku pun bisa bernapas lega.   “Sorry, ternyata hapenya lowbatt. Memangnya ada siapa?” tanyaku setelah pintu kamar kubuka.   “Cowok keren yang kemaren itu. Kukira kalian udah janjian, soalnya tampilan dia gak kayak mau kuliah,” jawab Seila. Ia sudah berpakaian rapi dan membawa tas, sepertinya ada kelas pagi.   “Suruh dia tunggu dulu deh, aku mau cuci muka,” pintaku kemudian. Tidak mungkin aku menemui Aro dengan penampilan berantakan seperti ini.   Seila keluar sekalian berangkat ke kampus. Sebenarnya aku ingin mandi, namun tentu akan memakan banyak waktu. Kasihan juga kalau Aro harus menunggu lama. Akhirnya aku hanya mencuci wajah dan menyikat gigi. Setelah siap, aku langsung keluar tanpa memoles wajah dengan make-up.   “Kamu ngapain ke sini?” tanyaku tanpa berbasa-basi. Kantukku belum sepenuhnya hilang, mataku masih cukup berat untuk bisa terbuka.   “Kamu tidur jam berapa?” balas Aro dengan pertanyaan juga.   “Malah balik nanya,” cibirku seraya duduk di sofa yang kosong. “Ada urusan apa dateng ke sini pagi-pagi?”   “Kebetulan lewat, tadinya mau ajak sarapan bareng,” jawab Aro dengan santainya.   Padahal aku tidak pernah sarapan pagi—kecuali memang terpaksa. Aku terlalu sering tidur larut dan bangun siang, sehingga ketika bangun, waktu sarapan sudah tidak ada lagi karena sudah sangat mepet dengan jam perkuliahan. Laki-laki ini membuatku agak kesal. Bukan agak, tapi sangat! Dia sudah memotong jam tidurku secara tidak sengaja.   “Aku bisa sarapan sendiri. Mending sekarang kamu pulang!” usirku pelan. Aku ingin masuk ke dalam selimut lagi dan lanjut tidur.   “Mending sekarang kamu mandi deh! Aku pesen makanan aja, biar dianter ke sini,” ujar Aro seenaknya seraya mengambil ponsel dari saku. Memang dia pikir ini rumahnya?   Aku hanya diam dan menatapnya bingung. Sebenarnya dia ini spesies manusia yang seperti apa sih? Unik sekali. Mungkin inilah yang disebut keadilan. Dia kaya, wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, rambutnya bagus—but, wait! Kenapa kelebihannya banyak sekali? Ah, terserahlah! Di balik semua kelebihan yang melekat padanya, tidak bisa dipungkiri kalau pada kenyataannya dia memiliki sifat yang sangat aneh.   “Kamu suka pedes, kan?” tanyanya.   “Kamu gak bisa diusir secara halus, ya?” sindirku.   Ia menggeleng dan kemudian tersenyum tanpa melihat ke arahku—ia fokus menatap layar ponsel sambil menggulirkannya.   “Oh, iya. Kenapa aku chat gak terkirim? Apa hapemu rusak?” tanyanya tanpa mengacuhkan sindiranku.   Ketika ia menanyakan masalah ponsel, aku langsung teringat dengan kejadian semalam. Seketika mataku menjadi segar dan kantukku hilang seluruhnya.   “Anu... aku mau tanya,” ujarku.   “Hapemu rusak?” tebaknya.   “Bukan, sebentar!” Kemudian aku bangkit dan mengambil ponsel beserta kabel charger-nya, karena pasti dayanya belum terisi banyak.   Setelah kembali dari kamar, aku langsung menunjukkan hasil tangkapan layar yang membuatku gelisah semalaman. Ia memperhatikan gambar itu beberapa saat, lalu membuka ponselnya. Ternyata jumlah komentar dari postingan tersebut sudah lebih dari 300. Sungguh, postingan seperti ini benar-benar mencuri banyak perhatian.   “Jadi menurutmu, ini menyinggung kejadian kemaren?” tanya Aro, lalu aku menjawab dengan anggukan kepala.   Dia meletakkan ponselku di atas meja, lalu membuka sebuah aplikasi chat di ponselnya. Aku tidak berani mengintip karena itu adalah privasinya. Ia tampak serius berkirim pesan dengan seseorang dan sepertinya lawan bicaranya juga fast respon.   “Anak jurusan hukum,” ucap Aro kemudian.   “Hng? Maksudnya?” tanyaku bingung.    “Itu kasus dua hari yang lalu. Ada anak jurusan hukum yang ketangkep basah melakukan ‘itu’ di kelas,” jelasnya. Rasanya beban yang mengganjal di dadaku langsung terlepas.   “Dia anak jurusan hukum? Kok… bisa sih?” tanyaku lagi. Orang yang mempelajari hukum, tapi melanggar hukum. Lucu sekali.   “Kabarnya masih belum terlalu jelas, tapi denger-denger itu cuma settingan. Ada beberapa kelas yang dilengkapi CCTV, tapi cuma sebagai pajangan. Biasalah, anggaran kampus makin ke sini makin gak jelas dengan alasan pembangunan. Padahal kenyataannya dana itu banyak disalahgunakan sama pihak gak bertanggung jawab.” Aro menjelaskan semuanya secara detail dan membuat pandanganku padanya semakin ‘wah’.   “Jadi, mereka sengaja bikin skandal biar petinggi kampus bisa bergerak untuk nanganin keresahan mahasiswa?” tanyaku sesuai dengan kesimpulan yang bisa kuambil.   Aro mengangguk. Ia menjelaskan sedikit mengenai keburukan kampus yang sebenarnya bukan rahasia, namun semuanya terasa bias karena tak ada kelanjutan kasus yang jelas. Ada beberapa dana perbaikan fasilitas yang tidak turun sesuai dengan anggaran, dana untuk kejuaraan perwakilan mahasiswa yang bahkan tidak cair sama sekali—dan berakhir mahasiswa menggunakan dana pribadi, banyak dosen dan karyawan yang menyallahgunakan kekuasaan, dan masih banyak lagi. Masalah itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuk kalangan mahasiswa yang aktif di UKM.   Aku memang pernah mendengar tentang rumor tersebut, namun tidak kusangka kalau kasusnya jauh lebih banyak daripada yang kuketahui. Kampusku cukup terkenal di kota ini, tapi ternyata masalah-masalah seperti itu masih bisa menyentuhnya.   “Dan kamu kurang tidur karena semaleman mikirin masalah ini?” tanya Aro setelah ia selesai menjelaskan semuanya.   Aku tersenyum malu sambil menundukkan kepala. Betapa percaya dirinya aku, karena sudah mengakuisisi kasus yang memalukan seperti itu.   “Next time kalo kamu merasa gak nyaman kayak semalem, langsung hubungin aku aja!” ujarnya seraya mengucap puncak kepalaku. Seketika jantungku kembali berdebar tak karuan. Bisa-bisanya dia melakukan hal semanis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN