Chapter 12

1277 Kata
Aku tak bisa menolak karena jam masuk juga sudah hampir tiba. Kami berjalan di bawah payung yang sama, bahkan dia merangkul bahuku. Alasannya supaya tidak ada yang kebasahan karena payung yang ia bawa juga tidak begitu besar. Aku sudah seperti robot saking kakunya, pikiran dan hatiku juga berdebat sendiri. Kami berhenti di depan gedung yang sudah terlindung dengan atap. Aro menepuk sedikit gagang payungnya—agar airnya bisa menetes, lalu ditutup dan kembali dibungkus, agar tidak membasahi tasnya. Mataku tak bisa berpaling, semakin dilihat, ia semakin tampan. Bahkan beberapa orang yang lewat pun tak bisa tidak melihatnya—meski hanya sebentar. “Lantai berapa?” tanya Aro dan membuyarkan lamunanku. “Oh, empat,” jawabku yang langsung mengalihkan pandangan. “Ayo, aku anter!” ujarnya kemudian. “Kan gedungmu gak di sini,” balasku sedikit bingung. “Gampang. Sama-sama lantai 4 kok, lebih gampang nyebrang dari pada muter-muter lewat sini. Malah basah semua.” Benar juga. Hujan masih turun dengan deras. Menyebrang lewat lorong antar gedung di lantai tiga memang lebih efisien dan lebih aman dari air hujan. Akhirnya kami naik bersama ke lantai atas. Aku berusaha untuk menebalkan muka, dan lebih banyak menunduk—berharap teman sekelasku tidak melihat kejadian ini. Ketika sampai di lantai tiga, aku sedikit berdebat dengan Aro. Aku menyuruhnya agar langsung pergi ke gedungnya sendiri, namun ia memaksa untuk mengantarku sampai ke depan kelas. Dan pada saat itu juga, muncullan Kak Arga dan menyapaku dengan santainya. “Rea?” Aku langsung menoleh dan langsung mengambil sikap. “Hai, Kak!” balasku. Aku tahu Aro sedang menatap sinis Kak Arga, namun aku juga tidak tahu harus bertindak bagaimana. “Kok gak masuk ke kelas? Apa memang udah selesai?” tanya Kak Arga kemudian. “Ini mau masuk ke kelas kok,” jawabku. Kemudian aku menoleh ke arah Aro dan berbisik, “Gih, ke gedungmu sendiri!” Bukannya pergi, Aro justru memegang tanganku. Aku menatapnya tak mengerti, namun ia justru tersenyum dan balas menatapku. “Katanya mau masuk kelas, kan? Ayo masuk!” ujarnya seraya menarik tanganku dan naik ke tangga berikutnya. Aku sedikit kelabakan dan langsung pamit pada Kak Arga. “Maaf, Kak. Aku duluan, ya!” ujarku sambil berjalan mengimbangi langkah Aro. “Oke! Semangat!” balasnya sambil terus menatapku. Pasti ia berpikir yang tidak-tidak. Aku yakin itu. Sebisa mungkin aku melepaskan tangan darinya dan ketika sampai di lantai 4, dia melepaskan tanganku. Sebelum itu, ia menarik tubuhku dan membuat kami saling berhadapan. “Tadi siapa?” tanyanya. Tak ada nada kemarahan, namun tidak lembut juga. “Kakak tingkat, kenalan waktu di kepanitiaan,” jawabku jujur. “Beneran cuma kakak tingkat? Kayaknya cara dia liat kamu gak begitu.” “Oh iya? Memang kayak gimana? Perasaan sama aja tuh,” elakku. Karena tidak mungkin Kak Arga memiliki perasaan padaku, toh hanya aku yang pernah berharap padanya. Dia tidak menganggap keberadaanku. Aro mundur selangkah dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana, namun manik matanya masih terus menatapku. “Atau… kamu yang ngeliat dia dengan cara yang berbeda?” tanyanya kemudian. Skakmat! Kutelan saliva dengan paksa dan mengalihkan pandangan darinya. “Jangan ngomong asal deh, ya!” dalihku. “Udah hampir masuk, aku duluan, ya! Bye!” Aku langsung meninggalkannya sebelum tanganku ditahan lagi. Aku tidak bisa berbohong lebih banyak, meski sebenarnya sudah lama aku ingin membuang ingatan ini. Tidak seharusnya aku mengharapkan seseorang yang bahkan sudah memiliki pasangan. Ketika sampai di kelas, ternyata masih banyak teman-teman yang belum datang. Wajar saja karena sampai detik ini masih belum terlihat tanda-tanda akan berhentinya hujan. Kurapatkan kursiku ke tembok, lalu mengambil ponsel dari dalam tas. Jika terlalu lama berdiam seperti ini, rasanya aku bisa ketiduran. Beberapa temanku memilih tidur di bangku belakang, sedangkan yang lain sama sepertiku—mengutak-atik ponsel. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari Aro. Ia memintaku untuk menunggunya di lobby gedung utama jurusanku. Kali ini aku juga tidak bisa menolak, jaketku masih tertinggal di dalam mobilnya. Kukira dia akan membahas tentang Kak Arga, ternyata tidak. Aku merasa lega. Iseng, aku membuka website kampus dan mengecek jadwal perkuliahan milik kelas Aro. Betapa terkejutnya, ternyata jadwal masuk Aro masih satu jam mata kuliah lagi. Dia sengaja berangkat lebih awal demi mengantarku. ‘Tapi kenapa dia diem aja? Dan lagi… apa dia juga cek jadwalku kayak yang aku lakuin sekarang, ya? Kalo bener gitu….’ “Hei, cepet amat sih udah di kelas aja!” ujar Jasmine yang langsung duduk di sebelahku seraya menggesekkan kedua tangannya untuk mendapatkan kehangatan. “Iya, takut telat karena gak reda-reda,” jawabku sedikit berbohong. Lamunanku tentang Aro kembali buyar. “Oh iya, denger-denger, pasangan yang jadi bahan perbincangan panas waktu itu akhirnya buka suara,” ujar Jasmine memulai pergosipan. “Terus-terus?” Aku langsung meletakkan ponsel di atas meja dan menunggu jawaban Jasmine. “Kurang lebih mirip sama yang kamu kasih tau ke kami sih. Mereka bener karena mau menyampaikan aspirasi, tapi sayangnya cara mereka terlalu ekstrem. Jadi tetep harus dapet hukuman, gak bisa dengan kata maaf aja,” Aku mengangguk pelan, apa yang Jasmine katakan benar adanya. “Terus, gimana?” “Kena poin sih, entah selain itu apa. Tapi hebat banget deh mereka bisa ngorbanin diri demi nyampein aspirasi begitu. Padahal kampus sendiri belum tentu kasih apresiasi ke mereka. Makin dihujat yang ada.” Aku menyetujui itu, terkadang kampus itu benar-benar memuakkan—khususnya untuk kami yang mengetahui keburukan di dalam kampus itu seperti apa. Mereka juga sangat hebat karena bisa menyembunyikan semua itu dengan rapat. Namun obrolan kami akhirnya terhenti ketika ponsel Jasmine berdering. Ketika ia membuka pesannya, terlihat kedua alisnya bertaut, lalu melihatku dari atas sampai bawah. “Kenapa ngeliatin aku segitunya?” tanyaku, lirikan matanya mencurigakan. “Kamu… tadi berangkat sama siapa?” tanyanya menyelidik. “Sendiri lah! Memangnya kenapa?” Firasatku berkata buruk, aku tetap tidak bisa mengatakan yang sejujurnya untuk sekarang. Kemudian Jasmine memperlihatkan isi dari pesannya yang merupakan sebuah foto—yang mana di dalam foto itu memperlihatkan aku dengan Aro yang sedang menggunakan payung bersama. Seketika aku langsung menutup mataku dan mengalihkan pandangan. ‘Astaga! Kenapa bisa ada yang ngefoto segala sih? Kalo gini caranya ‘kan aku gak bisa ngelak lagi,’ batinku kesal. “Hayo ngaku! Ini bukan pertama kalinya loh kalian kepergok berangkat bareng,” ujar Jasmine menggodaku. “Itu kebetulan kok! Jangan mikir yang enggak-enggak!” dalihku lagi. “Lagian, siapa yang ngefotoin? Kok bisa kamu dapet foto itu?” Jasmine mengambil kembali ponselnya dan memandangi foto itu lagi. “Ada grup khusus bahas cowok keren di kampus ini. Masa kamu gak tau?” “Grup macem apa itu? Terus kalian sering share foto-foto sembarangan kayak gitu?” Jasmine mengangguk tanpa merasa bersalah sedikit pun. Padahal mengambil foto diam-diam dan menyebarkannya seperti itu tidak sopan, melanggar privasi orang lain. “Ini grup bukan rahasia lagi, tahu! Bahkan di ingstagram ada juga. Woah! Setelah ini kamu bakal makin hits, Re!” serunya penuh semangat. “Sembarangan! Aku gak akan ngebiarin fotoku tersebar bebas kayak gitu!” tandasku kesal. “Hih! Lagian ‘kan kamu sama Aro. Harusnya tuh kamu seneng, kamu udah ditandai dan gak akan ada yang berani ganggu kamu lagi.” Jika dilihat dari sisi tersebut, memang benar. Tidak banyak yang berani mengganggu dengan privilege yang Aro miliki. Namun nampaknya dengan foto-foto yang tersebar itu, rasanya mustahil jika Aro tidak mengetahuinya. Mengapa dia diam saja? Sepertinya ia memiliki jiwa yang sedikit narsistik. “Jadi, kamu udah jadian sama Aro, ya?” tanya Jasmine yang masih penasaran. “Enggak! Kami cuma sekedar kenal. Pokoknya jangan tanya yang enggak-enggak!” tandasku tegas. Jasmine mengangguk pelan. “Oke-oke. Aku bakal coba percaya,” jawabnya. “…tapi kayaknya gak bakal bisa percaya sih,” tambahnya lagi seraya tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN