Dengan gerakan pelan, Rasya membuka pintu yang ada di depannya. Memasukkan sedikit kepalanya untuk mengintip keadaan di dalam ruangan. Terlihat wanita cantik dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya tengah mengamati layar laptop dengan serius. Tidak menunjukkan ia menyadari hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
Dengan gerakan pelan, Rasya mulai mendekati keberadaan wanita itu. Berusaha untuk tidak diketahui keberadaannya.
Berhasil.
Kini Rasya telah berada tepat di belakang wanita cantik itu. Dengan senyum kemenangan, Rasya memeluk tubuh mungil wanita di hadapannya. Menumpukkan kepalanya pada ceruk leher wanita itu.
Menghirup dan menghisap dalam aroma yang terkuat dari tubuh indah di dekapannya. "Hello my wife."
Wanita cantik yang tidak lain adalah Ava itu tersenyum. Menengok sedikit ke arah keberadaan wajah sang suami. Kecupan kilat Ava daratkan pada pipi Rasya. "Kok cuma di situ?" Pertanyaan Rasya membuat Ava melipat keningnya.
"Di sini juga dong, Sayang." Tunjuk Rasya pada bibirnya. Tanpa ragu pun Ava memberikannya.
Namun sayang, niatan ciuman kilat itu berubah menjadi lumatan kala Rasya menahan tengkuk Ava. Memperdalam ciuman mereka. Saat Ava tidak lagi mampu untuk mengatur napasnya, barulah ia melepaskan bibir tipis itu.
"Curang," ucap Ava manja dengan mencubit perut Rasya yang membuat suaminya itu tertawa. "Kok kamu di sini?"
"Salah kalau aku ingin menemui istri tercintaku sendiri?" tanya Rasya dengan tatapan menggoda.
"Gombal." Rasya terkekeh.
"Sayang. Aku bawakan makanan untuk kita makan siang." Rasya mengangkat kantong plastik yang ia bawa.
"Ahhh. So sweet!" Ava mulai mengambil alih kantong plastik dari tangan suaminya. Mengambil beberapa piring untuk tempat mereka makanan.
Perlakuan sederhana dari Rasya inilah yang selalu berhasil membuat Ava jatuh lebih dalam pada sosok pria itu. Perlakuannya menggambarkan kehidupan keduanya cukup bahagia hanya dengan kebersamaan mereka.
Andai saja Tuhan menitipkan buah hati di tengah-tengah mereka. Tentulah kebahagiaan mereka akan bertambah.
"Aku langsung pulang, ya. Aku ingin istirahat," ucap Rasya saat keduanya telah menyelesaikan makan siang mereka.
"Ya ... maaf aku tidak bisa pulang sekarang. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Ava penuh sesal pada Rasya.
Tangan Rasya terulur untuk membelai sayang kepala Ava. "Tidak apa, Sayang. Aku tunggu saja kamu di rumah. Menunggu kamu dengan santai di atas tempat tidur kita." Kata-kata Rasya selalu menjurus pada hal-hal yang berbau ranjang.
Sontak saja lagi-lagi ia harus mendapatkan cubitan dari Ava. Untunglah mereka saat ini hanya berdua. "Kata-kata kamu selalu tidak jauh dari itu."
"Tapi kamu suka, kan?" Godaan Rasya mampu membuat Ava bersemu merah. Selalu, seperti itu.
"Sudahlah. Sana pulang!" Usirnya dengan mendorong pelan tubuh Rasya. "Tunggu dulu, Sayang. Berilah aku kecupan sebelum pulang."
Ava memutar bola matanya malas, tetapi Ava selalu menurutinya. Karena ia pun suka dengan kelembutan bibir Rasya saat menari melumat bibirnya.
"Bay, Sayang. Aku tunggu kamu pulang di atas ranjang," ucap Rasya serak setelah melepas ciuman mereka.
Tidak ingin lepas kontrol dan mengganggu pekerjaan istrinya, Rasya pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan Ava. Meninggalkan Ava yang masih tersenyum dengan memegang bibirnya yang baru saja dilumat olehnya.
***
Rasya mengendarai mobilnya dengan senyum merekah. Keadaan cuaca yang menurunkan air asin membuat ia semakin bersemangat. Ahh, bahkan cuaca pun mendukung niatnya menunggu sang istri.
Saat ini mungkin ia merasa kedinginan karena hujan yang turun. Membuatnya tidak sabar untuk kedatangan Ava di rumah.
Aduh Rasya. Masih lama. Bahkan dirimu saja belum sampai di rumah.
Saat asyik berkendara, ia menangkap dua sosok yang terlihat seperti sedang berseteru di seberang jalan. Seorang laki-laki dan perempuan. Rasya rasa, ia mengenal salah satunya.
Saat dirinya memastikan pandangan, Rasya pun yakin akan siapa yang dilihat. Pandangan Rasya semakin membulat saat seseorang yang ia kenal mendapat perlakuan yang menurutnya kurang pantas.
Merasa apa yang ia lihat sudah keterlaluan, Rasya pun memberanikan diri untuk keluar dari mobilnya. Berlari menuju dua orang di seberang jalan itu.
Saat sampai di dekat keduanya, tangan Rasya refleks menahan tangan sang lelaki yang baru saja terangkat seperti ingin melakukan hal yang sesaat lalu baru saja ia lakukan.
"Banci. Anda tidak malu melakukan kekerasan pada seorang wanita," ucap Rasya keras di tengah guyuran hujan.
"Nggak usah ikut campur, lo," ucap lelaki itu dengan marah. Perkelahian antara keduanya pun tak terelakkan. Beruntunglah Rasya yang lebih bisa mendominasi hingga ia mampu membuat lelaki itu mundur.
"Kamu tidak papa, Sya?" Ya. Wanita tadi adalah Tasya. Dan laki-laki tadi adalah orang yang sama yang sebelumnya menjemput Tasya saat Tasya akan melakukan makan siang dengan dirinya.
Tasya hanya mampu menggelengkan kepalanya. "Aku antar kamu pulang!" Rasya mulai menuntun Tasya yang tubuhnya mulai menggigil. Ia menatap iba wanita di sampingnya ini.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di apartemen milik Tasya. Pelan, Rasya pun menuntun kembali Tasya untuk sampai di apartemennya yang berada di lantai sembilan.
"Masuklah, Sya. Baju kamu basah. Akan aku ambilkan baju ganti untukmu," ucap Tasya saat mereka berada di depan apartemennya.
"Baiklah," ucap Rasya. Ia mengikuti Tasya memasuki apartemen.
Di saat Rasya menunggu di ruang tamu, Tasya mengambilkan baju ganti milik kakaknya untuk dipakai Rasya. Keduanya pun mulai mengganti baju basah mereka di tempat terpisah.
Saat Rasya keluar dari kamar ganti ia mendapati dua gelas yang sudah terletak di atas meja. Sepertinya minuman hangat. Terlihat dengan kepulan asap yang keluar dari gelasnya. Mungkin Tasya yang menyiapkannya.
Merasa tubuhnya memang kedinginan, Rasya pun meraih salah satu gelas itu dan mulai meminumnya. Atensi Rasya berubah saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Terlihat Tasya yang berjalan mendekat kepadanya dengan sebuah kotak p3k di tangannya.
"Maaf, Sya. Gara-gara aku kamu jadi seperti ini," ucap Tasya saat ia duduk di samping Rasya.
"Tidak apa. Aku hanya tidak suka saja melihat laki-laki yang kasar sama wanita."
Tasya mulai membuka kotak p3k yang ia bawa. "Sini aku obati." Ia menyapukan kapas yang baru saja ia bubuhi dengan alkohol. Membersihkan luka Rasya yang terbentuk akibat ulah dari lelaki yang tak lain adalah tunangannya.
Saat itulah pandangan keduanya bertemu. Rasya memang tidak pernah memungkiri kecantikan dari Tasya. Pandangannya jatuh pada sudut bibir Tasya yang terlihat memar. Tangannya terulur untuk menyentuh luka itu.
"Sshh." Rintihan Tasya terdengar saat lukanya tersentuh oleh Rasya.
"Sakitkah?" Tanya Rasya saat melihat reaksi dari Tasya.
Wanita itu pun hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Rasya.
Entah setan apa. Sesuatu keberanian itu muncul dari keduanya. Pandangan mata yang tiba-tiba terasa dalam membuat keduanya bak terhipnotis. Jarak mulai terkikis. Deru napas mulai sama-sama terasa. Hingga kehangatan mulai benar-benar tercipta kala dua benda kenyal keduanya menyatu.
Pergerakan pelan dilakukan untuk menghindari rasa sakit yang mungkin saja tercipta akibat luka yang sebelumnya ada. Saling memberi kekuatan dan kehangatan dalam kelembutan decapan dari derasnya hawa dingin hujan dari luar.