Membuntuti

1551 Kata
"Pagi, Sayang!" Sebuah pelukan yang dilakukan lengan kekar di perutnya membuat Ava berjingkat saat ia masih berkutat dengan alat masaknya. Senyum terukir kala ia mengetahui bahwa sang suami yang melakukannya. "Pagi," sapa Ava dengan nada lembut dan senyum manis. Perasaan senang atas pelukan pagi telah berubah rasa risi saat Rasya mulai menciumi pundak dan belakang telinga Ava. "Aw." Sebuah cubitan mendarat mulus di lengan Rasya. "Ada apa sih, Yang?" tanya Rasya dengan mengusap lengannya yang masih terasa sakit akibat cubitan semut Ava. Ava mematikan kompor sebelum ia membalikkan tubuh dengan berkacak pinggang. Satu tangannya yang masih memegang spatula terangkat. "Kamu ini tidak tahu tempat. Malu dilihati sama, Bibi." Ava berucap dengan melirik keberadaan pembantu mereka yang berada tidak jauh dari sana. Masih dengan menahan sakit, Rasya mengikuti arah lirikan Ava. Seperti tidak menghiraukan ucapan Ava, Rasya malah menampilkan smirk menggodanya. Perempuan dengan apron biru yang menyadarinya hanya memutar bola mata sembari menghempaskan tangannya lelah. Tanpa aba-aba. Rasya menarik Ava keras ke dalam pelukannya. Mengeratkan dan memerangkap sang istri dalam dekapan. Sang pembantu yang mengetahui kondisi saat ini bukanlah bagian dari dirinya mulai mengundurkan diri dengan kesadaran tanpa ingin mengganggu keromantisan kedua majikannya. "Kamu tahu?" tanya Rasya sembari menyapukan jari-jarinya di atas kulit putih pipi Ava. "Bagiku, saat ada aku dan kamu di suatu tempat, maka yang benar terjadi adalah memang hanya ada aku dan dirimu," ucapnya dengan menyentuh hidung Ava dengan telunjuknya. Rasya mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Ava. Menyatukan pucuk hidung keduanya dengan mesra. Ava yang sebelumnya berontak dalam pelukan Rasya, kini mulai turut menikmatinya. "Hanya kita. Tidak ada yang lain. I love you my wife," ucap Rasya dengan penuh manisnya. Kedua tangan Ava melingkari mesra leher suaminya. Sembari tersenyum manis ia berkata. "I love you to my husband." Mendengar ucapan sang istri, Rasya semakin terhanyut dengan mata cantik hazzle itu. Seperti biasa, pesona itu tidak dapat memudar di hadapan Rasya. Mengikis jarak dengan pelan, keduanya mulai menyatukan bibir mereka. Menyalurkan rasa cinta yang mereka miliki terhadap satu sama lainnya. Keduanya melepas pagutan mereka saat napas tidak lagi mampu menyeimbangi pergulatan bibir mereka. Dengan masih mengatur napas, keduanya tertawa. "Segeralah bersiap. Aku akan membuatkan sarapan untukmu." Ava memperingati Rasya dengan sedikit keras kali ini. "Ah. Baiklah my Queen. Terima kasih untuk morning kissnya." Mata Ava membulat saat Rasya kembali mencuri ciuman kilas di bibirnya sebelum berlari ke arah kamar. Ava hanya mampu menggeleng melihat tingkah Rasya pagi ini. Ah, itu manis sekali bagi Ava. Kembali menyalakan kompor, Ava mulai melanjutkan kegiatan yang sebelumnya terganggu akibat ulah sang suami. *** Kafka memasang wajah datar seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa dalam hatinya ia mengabsen seluruh nama binatang yang ada dan mengumpat sejadi-jadinya atas keadaan saat ini. Bagaimana tidak? Saat masih bergelut nyaman di atas ranjang di apartemen Ziqry akibat rasa lelah karena olahraganya semalam, mamanya tiba-tiba saja menghubungi dan memaksa untuk mendatangi suatu alamat. Rumah seseorang yang mampu membuat Kafka ingin melenyapkan orang lain jika saja membunuh itu dilegalkan di negara ini. Dan di sinilah ia saat ini. Duduk berdua dengan wanita yang tidak sama sekali diinginkan. "Kau ingin memesan apa, Kaf?" Suara wanita yang dibuat terkesan seksi dan manja mengalun di telinga Kafka. Suara itu malah terdengar menjijikkan di telinga Kafka. Masih dengan muka datar dan tatapan jengah, ia berucap tanpa ekspresi, "Coffee." Jawabannya singkat dan jelas. "Hanya itu?" tanya wanita itu memastikan. Kafka hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang ia genggam. "Kamu lihat apa sih, Kaf? Kayaknya ponsel kamu lebih menarik daripada aku." Setelah pelayan restoran berlalu dari hadapan keduanya, suara Zizi yang masih dibuat-buat terdengar kembali. Ya. Saat ini Kafka berada di sebuah restoran bersama dengan Zizi. Wanita yang selalu digandrungkan Baginda Ratu untuk menjadi calon istrinya. Oh ayolah. Jika saja mamanya tidak memecahkan gendang telinganya pagi tadi, mungkin Kafka sekarang masih bisa bersenang-senang. Tanpa menjawab pertanyaan Zizi, Kafka terus memfokuskan pandangan pada ponsel. Tidak ada niatan sedikit pun menghiraukan keberadaan perempuan di hadapannya. Hal itu berhasil membuat Zizi merasa geram akan sikap Kafka. Sebenarnya, apa yang saat ini Kafka lakukan dengan benda pipih itu? "Kaf, aku di sini loh, Kaf!" Suara Zizi terdengar kembali. Merasa jengah, Kafka pun mengalihkan pandangannya. Saat itu pula Kafka menampilkan senyum menawan, tulus tanpa dibuat-buat. Namun, cukup mampu membuat Zizi turut menampakkan senyum termanisnya karena merasa berhasil menarik perhatian Kafka. Akan tetapi, dugaan Zizi salah. Jika Zizi berpikir Kafka tengah tersenyum kepadanya, ia telah salah sangka. Suatu pemandangan indah yang tidak sengaja Kafka lihat di luar restoranlah yang membuat senyumnya terukir. Hm, sepertinya, Kafka harus mencari cara agar ia bisa terlepas dari hal ini. Tidak lama, pelayan telah datang membawakan pesanan mereka. Tanpa ingin membuang waktu, Kafka mulai menikmati apa yang telah ia pesan. Satu dua tegukan ia mulai ingin menjalankan rencananya. "Aku akan ke toilet sebentar," ucap Kafka masih tanpa ekspresi. "Silakan. Tapi jangan lama-lama." Kembali. Tanpa ada jawaban dan kata, Kafka pergi meninggalkan Zizi begitu saja dengan senyum kemenangan. Kafka berjalan ke arah toilet. Ahh, salah. Sebelum ia mencapai pintu toilet, Kafka membelokkan langkah ke arah dapur. Menghadang seseorang yang beberapa saat lalu mengantarkan pesanan ke meja miliknya. Si pelayan yang dihadang hanya dapat menatap diam penuh kekaguman pada sosok tinggi tegap yang ada di depannya. Kafka berdehem untuk menyadarkan pelayan yang hanya diam menatapnya tanpa kata, dan itu berhasil. Rona merah di yang timbul membuat pelayan itu menunduk menahan malu. Hal itu malah membuat Kafka menatapnya jengah. Oh, salahkah Kafka yang mempunyai wajah rupawan? Yang membuat semua wanita menjadi salah tingkah saat berada di dekatnya? Bukannya senang, Kafka malah mendesah frustrasi. Semua wanita selalu seperti itu. Tetapi kenapa hal itu tidak terjadi pada wanita yang ia cintai? Wanita yang menjadi ratu hatinya? Wanita yang menjadi tambatan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Ava? Atau, karismanya akan luntur jika hanya di hadapan Ava? Ah sudahlah. Kafka kembali ke permasalahan semula. Melihat si pelayan yang masih menunduk, Kafka mau tidak mau harus mengeluarkan suara emasnya kembali. Membuat si pelayan mendongak. "Eh, Tu—Tu—Tuan. Apa yang Tuan laku—kan di sini? Ini bukan tempat umum," ucap si pelayan dengan terbata saat melihat keberadaan Kafka di area yang memang privasi bagi restoran tempatnya bekerja. "Saya membutuhkan bantuanmu," ucap Kafka dengan wajah datar yang masih terlihat tampan. Mendengar penuturan dari lelaki di hadapannya, pelayan itu hanya mampu mengerjapkan mata beberapa kali. Lagi-lagi membuat Kafka berdecak malas. "Bisa tunjukkan padaku pintu belakang?" Mendengar ucapan Kafka kali ini, si pelayan menunjukkan wajah tidak suka seketika. Pikiran-pikiran buruk memenuhi otaknya. Masih bisa diingat saat ia mengantarkan pesanan lelaki di hadapannya ini, di meja yang sama ada seorang wanita. "Tampan. Tapi tidak bertanggung jawab," ucapnya lirih. Mendengar gerutuan pelayan di hadapannya membuat Kafka memutar bola mata jengah. "Saya bukan orang yang tidak bertanggung jawab," ucap Kafka tegas yang mampu membuat nyali si pelayan kembali menciut. Seperti tahu isi pikiran si pelayan, Kafka berucap dengan nada datar dan mampu membuat si pelayan meneguk ludahnya. Kafka meraih sesuatu dari kantung celana. Sebuah dompet dari merek terkenal telah Kafka genggam. Dikeluarkannya beberapa lembar uang berwarna merah. "Ini," ucap Kafka menyerahkan uang yang ada di tangannya pada si pelayan. "I—in—ni apa, Tuan?" tanyanya dengan perasaan takut. Baru ia ingat. Restoran tempatnya bekerja bukanlah restoran biasa. Pengunjungnya pun juga pasti bukan orang biasa. Dan otomatis, pria di hadapannya pun pasti bukan orang biasa. Oh tidak. Orang kaya dengan kekuasaannya. Perasaan buruk pun menakutinya. "Jangan salah paham lagi. Ini untuk membayar pesanan tadi." Pelayan itu hanya mampu memandang uang yang kini ada di tangannya. "Ini terlalu banyak, Tuan." "Sisanya untuk kamu. Tapi, kamu harus bantu saya?" Pelayan itu kembali menatap Kafka tidak mengerti. "Bantu saya lepas dari wanita itu," tunjuk Kafka pada Zizi. "Saya ingin keluar dari restoran ini tanpa sepengetahuan dia. Dengan melalui pintu belakang. Bisa tunjukkan pintu belakang restoran ini pada saya?" Tanpa menunggu dua kali pelayan itu pun mengangguk antusias. Tidak peduli ia yang merasa penasaran mengapa pria di hadapannya ini ingin menghindari wanita cantik yang sebelumnya bersama dengannya. Ah, itu privasi mereka. Dia tidak ada urusan. Dengan melangkah pasti, pelayan itu pun menunjukkan arah pada Kafka. Saat kaki Kafka telah menginjak area luar restoran, ia mengembuskan napas lega. Segeralah ia menuju ke mobil untuk mendapatkan pemandangan indah yang sempat ia lihat saat masih berada di dalam restoran sebelumnya. Untunglah Kafka memarkirkan mobilnya pada tempat yang jauh dari pandangan Zizi. Dengan begitu, ia bisa pergi dari sini tanpa harus diketahui wanita itu. Masalah mamanya? Ah. Biarlah. Itu urusan nanti. Saat ini, urusan hatilah yang utama. *** Suara pena yang berdentum dengan paduan meja membuat suasana sunyi sedikit berisik. Si empu pembuat gerakan pena dengan menopang dagu, sembari sesekali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan ia menghela napas kasar lelah. Hampir satu jam ia duduk di salah satu sudut restoran yang memang sebelumnya telah di reservasi. Akan tetapi, keterlambatan seseorang yang telah membuat janji dengannya membuat ia merasa tidak dihargai. Oke. Rasa sabarnya telah habis. Sepuluh menit lagi yang ditunggu tidak kunjung juga datang, ia akan mengakhiri segalanya. Memutuskan untuk menunggu kembali. Sepuluh menit telah usai. Mengakhiri untuk melihat jam tangannya kembali, ia menghela napas dalam. "Oke. Aku lelah. Sebaiknya aku pulang. Tidak profesional sekali," gerutunya dengan mulai meletakkan beberapa lembar uang sebagai pembayaran minuman yang sempat ia minum. Baru saja ingin berdiri. Suara halus menghentikan kegiatannya. "Maaf saya terlambat," Ucap suara itu. Saat mendongak, lagi-lagi ia dibuat terkejut. "Kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN