Langit yang semakin menggelap, membuat suasana di kamarku kian mencekat. Udara dingin yang semakin terasa, membuat bulu kudukku berdiri tegak.
Mimpi apa aku. Mengapa Olivia—jalang itu—sekarang sedang berada di hadapanku? Aku benar-benar tidak pernah menyangka hal ini.
Kehadiran Olivia seperti hantu yang sangat kuhindari. Perwujudan wanita itu serupa makhluk halus yang tidak seharusnya datang mendekat ke arahku.
Nyeri di hatiku belum lah sirna sepenuhnya. Seno—meski telah berupaya untuk menebus kesalahannya—tetap tidak bisa membuat amarahku memudar begitu cepat. Aku masih membutuhkan banyak waktu untuk memaafkannya, jika aku mampu.
"A—apa yang kau lakukan!"
"Kau tidak lihat? Aku sedang mengancammu. Ceraikan dia!"
Olivia menyunggingkan senyum licik yang bahkan tidak memandang dengan simpati ke arahku. Padahal, aku masih berada di rumah sakit dan sedang terluka.
Aura kekejaman yang amoral tampak melekat sempurna pada diri Olivia. Sedikit pun, tak ada rasa belas kasihan di hatinya. Wanita itu terlahir dengan berbagai kekejaman yang mendarah daging hingga ke sumsum tulang.
Olivia tidak pernah mengenal apa itu cinta dan kasih sayang dan hanya dibutakan obsesi dan dendam. Dua hal itu lah yang membentuk dirinya menjadi wanita kejam seperti ini. Wanita yang menghalalkan segalanya demi tercapainya tujuan yang ia inginkan.
"Apa untungnya bagimu?! Bukankah, Seno sudah memberikanmu apartemen mewah? Apa lagi yang kau inginkan?!" Aku meradang, mengingat, Olivia seharusnya sudah merasa cukup dengan segala yang diterimanya.
Aku tidak menuntut banyak. Aku hanya ingin Seno tetap berada di sisiku dan menjadi ayah yang baik untuk calon anak kami.
"Oho! Apartmen itu kan receh ya. Haha…" Olivia terpingkal, seakan mencemooh pemikiranku yang terlalu sederhana. "Makanya, jadi orang kaya tuh pinter dikit. Apartemen aja kok dibilang mahal, haha…"
"K—kau!"
Aku mendelik tak percaya. Aku begitu sakit hati ditertawakan oleh Olivia. Bagaimana mungkin wanita itu tidak menghargai hadiah mahal seperti itu. Apa yang sebenarnya diinginkan Olivia?
"Apa kau masih ingin mengungguliku? Jangan bermimpi!"
Aku balik mencemooh obsesi tak berdasar Olivia yang sejak dulu dideritanya.
Aku awalnya tidak menyadari obsesi gila Olivia, namun perlahan, aku mulai menggali sendiri potongan petunjuk yang selama ini merujuk pada kompetisi yang tidak kusadari.
Di kampus dulu, setelah memenangkan kontes kecantikan, Olivia tampak menjauh dariku. Ia tidak begitu menyadarinya, ternyata Olivia iri dengan prestasi yang kuraih.
Kompetisi tak kasat mata itu selalu tampak ketika Olivia berhasil merebut kepemilikanku. Misal, project dari dosen yang seharusnya untukku, tiba-tiba direbutnya.
Penelitian lain yang tampaknya remeh, dan diserahkan kepadaku, mendadak sudah berpindah penanggung jawab dan menjadi tugas mendadak untuk Olivia.
Aku mengira, semua itu hanya suatu kebetulan saja. Ternyata, aku baru menyadarinya ketika saat ini suamiku juga ikut direbut oleh Olivia yang dibutakan oleh obsesi gilanya itu.
Aku benar-benar baru menyadarinya.
Aku begitu polos dan bodoh, mengira semuanya tidak ada kaitannya.
"Kau baru sadar?" Olivia tidak tampak tersinggung. Seolah, ia mengakui bahwa merebut segala hal milik Lara adalah trophy kemenangan baginya. Namun, tentu saja, itu bukanlah tujuan akhirnya.
"Kau gila!" Aku tidak terima.
Perselingkuhan Seno dan Olivia yang diketahui olehku, memang benar membuatku hancur dan sengsara. Fakta bahwa Seno begitu memanjakan selingkuhannya itu dengan banyak harta, membuat hatiku sebagai istri sangat tersakiti.
Namun, obsesi gila Olivia semakin membuatku murka. Aku tidak mengira bahwa Seno telah masuk ke dalam perangkap wanita jahat itu.
Pandanganku terhadap insiden perselingkuhan ini menjadi berbeda. Aku tidak merasa bahwa Seno telah bersalah seutuhnya.
"Sudahlah! Jangan banyak mikir! Cepat! Ceraikan suamimu itu! Atau…"
"Atau apa?!" Aku menghardik. Aku tidak ingin dipermainkan oleh wanita jalang yang ada di hadapanku ini secara lebih mendalam.
Aku kini mengetahui segala muslihat Olivia yang ingin terus mengungguliku. Bahkan, dengan merebut Seno dari kedua tanganku.
"Foto-foto yang telah kau rusak itu akan menyebar. Aku masih punya banyak salinannya. Haha…"
"Apa?!"
Sebenci-bencinya aku terhadap Seno, tentu aku tidak ingin pria itu menderita dengan hal yang memalukan seperti ini.
Apalagi, Nenek Seno—satu-satunya wanita yang kucintai—tentu akan sangat malu dengan skandal yang bakal terjadi.
Aku tidak ingin membuat keluarga Adhijaya hancur. Ini semua demi Nenek dan juga calon puteranya di masa depan.
"Beraninya kau mengancamku!"
"Tenanglah, BU LARA! Hal itu tidak akan terjadi jika kau menceraikan Seno. Aku masih berbaik hati loh, memanggilmu dengan sebutan 'Ibu' karena aku tidak ingin berbicara kasar."
Olivia mengibaskan rambut sebahunya itu dengan angkuhnya. Sorot matanya mengintai gerak-gerikku agar kian terluka.
Melihat reaksiku yang terdiam tanpa berkata-kata, sepertinya, gertakan Olivia menuai hasil yang diharapakannya.
Benarkah Olivia serius akan menyebarkan foto bugil Seno dan menciptakan skandal? Bukankah, jika pria itu bangkrut dan produk perusahaan mereka terdampak akibat hal tersebut, Olivia juga akan kena getahnya? Aku mulai bimbang.
"Kok diam?"
"A—aku ..."
Aku bingung harus menjawab apa.
Benarkah aku harus menceraikan Seno hanya karena diancam olehnya?