Saat Arlin bangun udara masih sangat dingin. Meski begitu dia tetap beranjak. Niatnya adalah ke pasar untuk mendapatkan bahan makanan segar.
Untuk sementara anak-anak dia titipkan kepada Indah yang juga telah bangun. Bukan untuk shalat subuh atau menjalankan aktifitas produktif lainnya, tapi menonton drama korea. Rasanya drama korea bukan saja rutinitas Indah, melainkan suplemen penyemangat hidupnya.
"Ndah, gue pergi."
"Yo, hati-hati."
Suaranya masih sama seperti tarzan. Untungnya pintu kamar Indah masih tertutup, jadi suara tersebut tidak merambat ke ruang TV.
"Lo nontonnya di depan kamar gue dong. Takutnya Adam bangun dan butuh sesuatu."
"Iya deh."
Indah meraih headphone, menyambungkan pada laptopnya sehingga tidak lagi ada suara-suara berisik. Setelah itu dia keluar bersama Alrin dan berpisah di ruang TV.
Arlin mengunci pintu. Tidak masalah karena ada pintu belakang yang bisa dibuka Indah kalau ingin keluar tiba-tiba.
Tadinya dia berniat berangkat bersama Sean sebagai pertanda hubungan keduanya yang membaik. Tapi alih-alih melihat Sean dia justru menemukan mobil Andrew yang terparkir di halamannya. Jendela kaca terbuka, memperlihatkan sosok Andrew yang telah rapi dengan jas biru tua.
"Apa yang anda lakukan di sini?"
Andrew terperanjat dari tabletnya. Semakin terperanjat pula karena menemukan Arlin telah rapi dengan sweater rajut biru tua dan celana hitam panjang. Rambutnya bahkan telah dikuncir rapi, menunjukkan si pemiliknya memang bersiap-siap untuk sesuatu. Yang mana semakin diperjelas oleh riasan di wajah Arlin yang sempurna.
"Kenapa kamu memakai riasan begitu?" Andrew mendorong pintu dengan lonjakan kesal. Langsung membayangkan betapa banyak pria yang akan melirik Arlin karena hal tersebut.
"Kenapa tidak?" tanya Arlin balik. "Ini wajah saya. Sebuah kebebasan jika saya ingin mendandaninya."
Api panas dalam d**a Andrew menyusut perlahan. Dia tidak memiliki kendali. Sekalipun telah memiliki hubungan dengan Arlin, urusan penampilan juga tidak dapat sepenuhnya dia atur sebab Arlin si pemilik tubuh.
"Kamu mau kemana?"
"Ke pasar."
Terlalu pagi, tapi Andrew tidak bisa mendebatnya. Dia takut Arlin semakin marah, terlebih kesalahannya semalam belum resmi mendapatkan maaf.
"Ayo biar aku antar."
Inginnya sih menolak, namun sepertinya pagi ini Alrin memang ditakdirkan bersama Andrew sebab Sean mengirim pesan bahwa dia tidak dapat menjemput.
"Baiklah."
Arlin masuk ke samping kemudi. Nolan yang ada di sampingnya mengulas senyum.
"Pagi, Bu."
"Pagi, Pak."
Andrew yang melihat itu dari kaca mempercepat langkah menuju pintu kemudi.
"Keluar."
"Tapi pak.."
Tidak ada lagi toleransi. Andrew menarik Nolan keluar. Setelah itu dia masuk menggantikan dan menutup pintu sebelum Nolan sempat berkata.
"Kenapa Pak Nolan tidak diajak?" tanya Arlin di sela-sela perjalanan mereka.
"Tentu tidak boleh. Kita jarang memilki waktu berdua. Jadi ketika kesempatan ini datang tidak mungkin saya akan membiarkan pengganggu mengacau."
"Saya tidak menyukai anda." Arlin pikir ini yang harus kembali dia perjelas. Demi kesadaran Andrew dan kebebasan dirinya. "Daripada anda membuang waktu mungkin ada baiknya anda membuka hati pada perempuan lain."
"Semenjak saya mengizinkan nama kamu masuk, saya berjanji hanya akan menuruti dan mempercayai kamu. Tapi sebuah pengecualian untuk mendorong saya pada perempuan lain."
Jawaban yang disertai senyum manis tersebut tidak mampu Arlin tolak. Alhasil dia menjaga bibirnya tetap rapat hingga sampai di pasar.
Masih pukul empat tapi keadaannya sudah ramai. Andrew jadi kewalahan menjaga Arlin bergesekan dengan pria lain. Arlin pula merasa risih karena para perempuan mengerubungi mereka, tepatnya untuk mendekatkan diri pada Andrew.
"Ap.." Suara Arlin tertahan karena tangan Andrew yang baru melingkari pinggangnya mengerat. Di drama-drama biasanya si perempuan akan merasa berdebar-debar, tapi Arlin justru sesak. Mungkin karena pelukan Andrew juga bukan seperti di drama-drama, namun seperti ular yang mencengrkam mangsanya.
"Kamu tidak lihat," bisik Andrew. "Pria-pria itu menatap kamu seolah ingin menerkam."
Tatapan begitu sesekali memang Arlin sadari mengikuti dirinya, namun dia tidak mengambil serius sebab mengontrol tanggapan orang lain adalah kemustahilan.
"Coba kamu tidak memakai make up," dumel Andrew. "Ini semua pasti tidak akan terjadi."
"Nanti saya jelek," sambut Arlin mencoba logis.
Cubitan di pipi menjadi awal balasan Andrew. Kedekatan wajah mereka menyebabkan langkah Arlin mundur. Takut sungguh akan ketampanan dan aroma tubuh Andrew yang mana sama-sama godaan kuat.
"Kamu itu lebih cantik tanpa make up."
Ditepisnya tangan Andrew pergi. Tidak karena kalimatnya, namun sekali lagi penegasan untuk ketampanan dan aroma Andrew yang menggoda. Dia sudah menolak, tidak boleh terjatuh bagaimanapun terpesonanya.
Andrew mendorong bibir ke telinga Arlin. "Ini yang terakhir. Jika kamu memakai makeup lagi, terutama untuk.." Telunjuk Andrew jatuh di bibir Arlin. "Lipstik semerona ini. Maka saya akan mencium kamu paksa."
Telinga Arlin terasa memanas. Dia jadi menjauh cepat untuk menyelamatkan diri.
Pak Andrew sialan! Kenapa dia bisa memberikan efek seperti itu?
***
"Mau sosis atau bakso?"
Arlin dan ketiga tuan muda Thompson baru menyelesaikan jogging mereka. Sebagai hadiah, Arlin mentraktir anak-anak tersebut.
"Bakso," seru Adam paling riang.
"Mau pakai kecap?"
Kepala Adam mengangguk. Suga dan Saga kemudian ikut mengatakan pesanan mereka, dilanjutkan oleh Arlin.
"Itu Si Arlin sering banget sama anak-anak Pak Thompson. Hubungannya apa sih?"
Saga menolehkan lehernya segera pada sekelompok ibu-ibu yang tengah duduk di melingkar di bangku taman.
"Apa lagi? Pasti ingin menjadi istri Pak Thompson. Dia mendekatinya lewat putra-putra Pak Thompson. Menjijikkan sekali."
"Kenapa memangnya kalau mama memanfaatkan kami untuk mendekati papa?" Suga mendekat dan berkacak pinggang. "Apa itu membuat ekonomi rumah tangga ibu-ibu sekalian jatuh? Atau mungkin membuat kalian jatuh sakit?"
"Suga," tegur Arlin. Di hati kecilnya dia setuju akan pembelaan yang Suga berikan, namun itu masalahnya. Suga tidak boleh ikut campur atau dia akan menjadi korban serangan ibu-ibu tersebut.
"Biasalah anak orang kaya. Semena-mena dan gak punya etika karena kekuasaan orangtuanya."
Saga menepuk bahu Suga. "Biasalah, ibu-ibu. Udah tua, merasa paling benar seperti Tuhan tapi tidak terima kalau dibalas. Udah, jangan lo tanggapin."
Tidak mau menambah peperangan. Arlin mengajak ketiganya pergi ke sisi taman yang lain. Adam yang tidak mengerti kejadian tadi masih menikmati kebahagiaannya dengan bermain perosotan.
Suga dan Saga pula duduk di sisi Arlin. Sama-sama berwajah masam.
"Kok jadi masam begini sih?"
"Aku cuma heran, Ma. Kenapa mereka bisa dengan mudah mengatakan aku seperti ini dan itu? Mereka bukan Tuhan yang selalu tahu kegiatan aku 24 jam. Mereka tidak tahu diri aku luar dan dalam. Mereka hanya melihat lapisan luar saja, tapi kenapa..."
Saga menghempas punggung pada sandaran kursi. Tidak menemukan lagi kelanjutan dari kalimat kekesalannya.
"Itu sesuatu yang lumrah, Saga. Manusia saling merasa paling tahu. Dibalik itu sebenarnya mereka hanya ingin menutupi kekurangan yang tidak dapat diobati. Dia mengatakan kamu anak orang kaya yang semena-mena karena dia merasa kesal anaknya tidak bisa sedemikian rupa. Jadi dia mencari celah dan menusuk kamu untuk merasa lebih baik karena tidak menjadi satu-satunya yang memiliki nasib begitu."
"Ada seorang adik kelas. Dia tidak memiliki orangtua, tinggal bersama neneknya yang keras. Meskipun aku tidak pernah mencari masalah dengan dia, dia selalu menyudutkan bahwa aku ada anak manja. Apa itu maksudnya..."
"Benar, " sambut Arlin. "Dia merasa kecewa tidak mendapatkan posisi kamu. Lalu karena rasa sakitnya tidak bisa ditahan, dia ingin kamu juga merasakan yang sama. Sebab hanya begitu saja dia mampu meredakan sedikit lukanya. Pada dasarnya orang-orang yang suka menghujat dan mencari kesalahan orang lain itu sebenarnya hanya menambah luka batin mereka. Jadi jangan terkejut kebanyakan orang yang seperti itu adalah orang yang buruk. Semua yang mereka berikan, kembali pada diri mereka sendiri."
"Apa ada cara menghentikannya?"
"Mereka harus sadar sendiri bahwa yang mereka lakukan malah menambah rasa sakit, bukan menyembuhkan. Kalau kita menasehati, itu masih tidak dapat menjadi solusi."
Arlin menepuk bahu Sagara. "Sudah jangan dipikirkan lagi."
Dia mengangguk setuju seraya membawa satu tusuk bakso ke mulut.
"Tapi mulut mereka terlampau keterlaluan," celetuk Suga. "Aku melawan karena tidak mau mama sakit hati."
"Suga, ini lingkaran saya. Kamu tidak perlu terlalu campur begitu."
Suga menggeleng. "Tidak, masalah mama adalah masalah aku."
Tidak ada lagi yang ingin Arlin katakan karena dia telah cukup melihat wajah Suga yang kembali cerah.
***
Pukul lima sore mobil Andrew terparkir sempurna di halaman rumah Arlin. Dia siap menjemput anak-anaknya untuk pulang. Tidak tahu kalau anak-anaknya sendiri bagaimana. Dari story w******p milik Suga dia terus membagikan kesenangan bersama Arlin. Dari mulai joging ke taman, membuat kue, makan ice cream bahkan hingga merujak. Mereka sungguh bersenang-senang tanpanya.
"Assalamualaikum."
Andrew mengetuk pintu tiga kali. Kesunyian membuat dia pesimis bahwa Arlin ada di rumah.
Di ketukan kesepuluh pintu baru terbuka. Itu pun bukan Arlin, melainkan Indah. Sesaat keduanya terjebak dalam keheningan. Indah dengan kekagumannya dan Andrew pula dengan tanda tanya. Dimana Arlinnya?
Indah berdehem pelan. "Itu.. Arlin dan anak-anak tertidur."
"Tertidur?"
Indah membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan Andrew ikut masuk ke dalam. Tidak perlu jauh, keempat orang yang dia cari tertidur di ruang keluarga. Arlin memeluk Adam di atas karpet, sementara Saga di lantai keramik. Yang parah adalah Suga, dia sampai hampir di dekat pintu ke dapur.
Andrew memijat pelipisnya akan anak keduanya tersebut. Tidurnya tidak bisa asthetic padahal di rumah orang. Sungguh mencemari statusnya saja. Mungkin lain kali dia perlu memasukkan anak itu dalam kelas tidur asthetic.
Melihat pria di dekatnya tampak kebingungan atau entahlah. Indah tidak terlalu mengerti, tapi yang pasti dia yakin bahwa Arlin harus segera dibangunkan.
"Ar.." Indah menepuk-nepuk pipi Arlin. "Bangun dong."
Arlin melenguh pelan. Bukannya membuka mata malah mengeratkan pelukan pada Adam.
"Astagfirullah, Ar. Bisa-bisanya lo kebo di depan pria ganteng begini."
Kedua tangan Indah lanjut menepuk pipi Arlin. Tadinya pelan, namun lama kelamaan semakin kuat. Andrew jadi tidak yakin Indah ingin membangun Arlin sebab yang di depan matanya justru terlihat seperti penganiayaan.
"Indah.."
Panggilan Andrew menghentikan kegiatan Indah. "Iya, Pak?"
"Biarkan saja. Saya akan menunggu di ruang tamu."
Kepergian Andrew ke ruang tamu membuat Indah mengelus d**a. Percayalah, meskipun Andrew tampan tapi auranya mengintimidasi. Padahal kalau kepada Arlin dia begitu hangat.
"Jelas beda atuh neng, Arlin perempuan yang dia suka. Lah gue mah cuma debu yang kebetulan ada di dekat Arlin."
Indah menyeret kaki ke dapur. Di depan adalah Tuan Andrew Thompson, pengusaha sukses dan terhormat. Setidaknya secangkir teh harus disajikan sebagai keramahan. Syukur-syukur kalau dia mendapat balasan nantinya. Jika tidak pun yang penting dia tidak membuat pria itu kesal.
"Assalamualaikum."
Andrew mengangkat pandangan dari ponselnya. Suara yang familiar dan tidak diinginkan.
"Ar.."
Pintu masih terbuka, jadi sosok Sean langsung tertangkap oleh mata Andrew. Sama sepertinya, masih rapi dengan jas kerja.
"Ngapain lo di sini?" Kepala Sean celingukan. Sosok ataupun suara Arlin tidak ada. Ayolah, tidak mungkin yang iya-iya.
Alih-alih menjawab Andrew malah memfokuskan pandangan pada plastik yang dipegang oleh Sean.
"Sate untuk kesayangan gue," ujar Sean mengerti.
Tanpa diminta dia bergabung di sofa berbeda. Meletakkan plastik di tangannya menuju meja.
"Kesayangan dikasih makan sate saja?"
Kalimat tersebut tidak akan bermasalah jika Andrew tidak membuatnya menjanjak disertai decihan mengejek. Kan Sean jadi merasa panas. Mentang-mentang dia berasal dari kasta atas selalu mengukur ketulusan pun dengan nominal.
Atau mungkin bukan itu yang membuat hatinya panas, melainkan perasaan tidak percaya diri yang tersentil karena masih belum mampu memberikan Arlin lebih.
"Bagi anda mungkin sate ini tidak cukup untuk mengungkapkan perhatian. Itu karena anda adalah seorang yang lahir dengan sendok emas di mulut dan hidup dalam lumbung uang. Berbeda jauh dengan saya dan Arlin yang sama-sama rakyat biasa. Beginilah cara kami memberikan perhatian. Tidak perlu nominal, tapi cukup mengerti bahwa yang diberikan tersebut berharga bagi si penerima."
Dua lingkaran tergambar di benak Andrew. Satu miliknya dirinya sendiri dan satu lagi milik Arlin plus Sean. Meskipun dia tahu bahwa lingkaran yang melingkari Arlin adalah status rendah, namun dia mampu merasa kesal dibuatnya sebab Sean berada di tempat yang sama. Yang mana memberikan kesimpulan bahwa dia dari tempat berbeda, tidak sama dan tidak pantas bersama.
"Saya tidak mengatakan nominal harus menjadi tolok ukur untuk mengungkapkan perhatian."
Itu benar-benar demikian satu detik yang lalu. Dia berpikir bahwa Sean terlalu aneh mengatakan Arlin kesayangannya namun malah memberikan makanan berupa sate. Benar, dia selalu menganggap penting nominal sebagai tolak ukur. Bukan pikiran solid dari kepribadiannya, namun ringkasan dari pengalamannya.
Pemberian mahal adalah ungkapan ketulusan seseorang baginya. Sebab kemahalan tersebut memberikan jaminan kepastian. Baik keseriusan niat hingga harga dia di mata si pemberi.
Berdekatan dengan Arlin tampaknya merubah ringkasannya tersebut. Dia membuktikan sendiri lewat masakan Arlin. Tidak perlu bahan-bahan premium ataupun dimasak dengan teknik mewah, cukup Arlin yang memasak saja dia sudah mampu merasakan ketulusannya.
Lalu menjadi teremas hatinya karena Sean mampu paham lebih dulu. Itu adalah bukti jelas keseriusan perasaannya dan hubungan dekatnya bersama Arlin.
"Anda memang tidak mengatakannya, tapi tanda tanya di akhir kata dan decihan anda menjelaskannya."
Andrew akui sebagai pria Sean cukup peka akan apa yang dihadapinya. Menjadikannya satu lagi indikator yang perlu dia tambahan pada dirinya agar Arlin tidak berpaling.
"Tanda tanya itu hanya untuk alasan anda membeli sate. Bukan pada hal lain."
"Benarkah?" Sean tidak akan mempercayainya. Dia jelas-jelas menangkap ejekan dalam kalimat Andrew tadi. Karena kini Andrew justru memutarbalikkan fakta, maka jangan salahkan dia yang akan menumpahkan minyak panas sebagai balasan. "Saya kira anda benar-benar serius pada Arlin, tapi ternyata makanan kesukaannya saja tidak tahu."
Hatinya seperti dipukul palu besar. Makanan kesukaan Arlin? Dia bahkan tidak pernah berpikir akan itu.
Pantas saja Arlin tidak menyukai aku, ternyata aku juga tidak mampu mengerti dirinya.
"Ekehm."
Andrew membasahi tenggorokannya sesat dengan meneguk saliva. Dalam waktu singkat tersebut kepalanya juga berusaha keras mencari balasan. Beruntung dia selalu fleksibel akan perubahan.
"Saya baru tahu kalau keseriusan ternyata juga diukur dari pengetahuan makanan kesukaan pasangan."
"Karena anda baru tahu saya dengan senang hati akan menjelaskan." Sean tersenyum tipis. Ingin mendorongku jatuh? Hoho tidak semudah itu, Tuan Besar. "Keseriusan itu seperti sebuah lingkaran. Anda tidak bisa menguranginya sedikitpun. Jika itu terjadi, semisal anda hanya memiliki setengah lingkaran saja. Itu tidak dapat dikatakan sebagai keseriusan, melainkan ketidakseriusan."
"Kau ternyata pandai membual juga. Pantas saja banyak pekerjaan tidak terselesaikan."
Percayalah itu tidak sama seperti isi hati dan kepalanya. Keduanya membenarkan kalimat Sean dan menekan dia kepojok. Menyedihkan bukan? Dia terpojokkan oleh dirinya sendiri.
"Pekerjaan tidak terselesaikan ya?" Sean berpura-pura mengelus dagunya. "Apa maksud anda keberhasilan saya pada tender bulan lalu?"
Sean adalah bagian dari divisi sumber daya manusia. Hanya karyawan biasa, namun tidak menutupi bahwa dia telah memberikan suntikan untuk keberhasilan Andrew.
"Kamu hanya salah satunya, tidak perlu begitu sombong."
"Saya tidak sombong. Hanya mengatakan kebenarannya."
"Saya tidak membutuhkan kebenaran itu!"
Tekanan dari tatapan dan suara Andrew membuat Sean tertawa. "Hoho sepertinya anda marah karena kalah."
"Aku tidak kalah dan kita juga tidak membuat pertandingan sama sekali."
Indah di tengah-tengah sisi meja menarik nafas. Tadinya seru juga menontoni perdebatan keduanya, namun lambat laun malah berpotensi menjadi ledakan besar yang menakutkan.
"Excuse me."
Mata Sean berputar malas akan kehadiran Indah. Lain lagi dengan Andrew, dia tampak tidak peduli sama sekali.
"Tehnya kok cuma satu?" protes Sean. "Gue kan juga tamu."
"Tamu gak diundang," koreksi Indah. Matanya berbinar kemudian mendapati plastik di meja.
"Jangan kegeeran lo. Ini untuk Arlin."
Sean menjauhkan plastik dari jangkauan Indah, membuat wajah perempuan tersebut langsung masam seperti lemon. "Awas lo, gue aduin sama Arlin."
Indah benar-benar membangunkan Alrin untuk mengadu. Suara tarzannya membuat Sean dan Andrew sama-sama berpikir bahwa Indah membutuhkan kandang khusus.