BAB 13

1065 Kata
Darrell menatap Mira yang menatapnya dengan terkejut. Jelas terkejut karna Ia menghampiri mantan kekasihnya itu tanpa mengatakan apa-apa. Darrell hanya merasa kesal dengan Aurel. Dan ia tak tau kenapa bisa datang ke tempat kerja Mira. Mira menyuruh Darrell duduk dan membuatkan Expresso kesukaan Darrell. Darrell meminumnya. “Tumben kesini?” Tanya Mira dengan tersenyum senang. “Cuma mau minum Kopi.” Jawab Darrell. “Aku dengar katanya kamu di jodohin? “ Tanya Mira. “Iya. “ Jawab Darrell singkat. “Selamat ya...” Ucap Mira. “Nggak cemburu?” Tanya Darrell. “Cemburu?” Ulang Mira. Darrell menganguk. Mira tersenyum. “Kamu ngarep biar aku cemburu?” Tanya Mira. Darrell menggeleng sebagai jawabannya. Ia tak mengaharapkan itu. “Emang kita bisa balikan?” Tanya Mira lagi. Darrell menatapnya. “Nggak kapok emang?” Tanya Darrell. Mira tertawa mendengar pertanyaan Darrell. Ia mengingat masa-masa pacarannya dengan Darrell yang hanya 4 bulan. Dan selama itu hanya Mira yang mencintai Darrell. Dan Darrell sama sekali tak mencintainya “Nggak.” Jawab Mira. “Kamu ngajak balikan?” Tanya Darrell dengan menatap Mira tepat di matanya. Mira menggeleng sebagai jawabannya. “Aku nunggu kamu aja ngajakin aku balikan.” Jawab Mira dengan tertawa. “Aku nggak suka balikan sama Mantan. Jadi, jangan berharap” Jawab Darrell dingin. Mira tersenyum kecil mendengarnya. Ini kedua kalinya ia mendengar perkataan tadi dari Darrell. Mira ingat beberapa tahun yang lalu. Hari itu Mira melihat Darrell dengan teman-temannya. Jelas Darrell adalah orang yang paling mencolok di antara teman-temannya. Dan sejak itu Mira sangat menyukai Darrell. Menyukai tampang Darrell yang sangat tampan bak lukisan. Banyak teman-temannya yang menyatakan perasaan ke Darrell tapi di tolak dengannya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri menembak Darrell selesai waktu upacara. Mira awalnya tak yakin jika Darrell akan menerimanya. Tapi, waktu Darrell berkata iya ia pikir ia hanya bermimpi. Ia tak yakin. Jika Darrell mau berpacaran dengannya. Mira senang sekali waktu itu, ia langsung memeluk Darrell erat. Darrell tak membalasnya. Tapi, itu saja sudah cukup untuk Mira. Mira pikir ia akan bahagia bisa pacaran dengan Darrell. Tapi, semua itu hanya khayalannya. Darrell tak pernah mengirimkannya pesan atau menelfonnya. Jangankan mengirimkannya pesan Darrell tak pernah punya inisiatif untuk mengajaknya jalan atau menjemput dan mengantarkannya pulang. Darrell tak punya semua inisiatif itu. Jadi, jika Mira ingin kencan atau minta antar jemput ia harus mengatakannya secara langsung jangan kode-kode karna Darrell tak akan peka. Mira menatap Darrell yang meminum expressonya dengan tenang. Ia ingat sekarang, jika Darrell bahkan tak pernah berkata jika ia mencintai atau menyayangi Mira. Sejak mereka pacaran setiap hari Mira harus menelfon Darrell meminta menjemputnya. Baru Darrell akan datang ke rumahnya menjemputnya. Pulang juga demikian. Jika Mira tak meminta Darrell tak akan mengantarnya. Jika Mira pikir lagi, ia memang tak memiliki kenangan indah bersama Darrell. Tapi tetap saja selama berpacaran dengan Darrell Mira bahagia. Darrell tak pernah melirik wanita lain. Yang ada para perempuan yang melirik Darrell. Mira tertawa kecil. Darrell langsung menoleh menatapnya. Kenapa Mira tiba-tiba tertawa. “Kenapa?” Tanya Darrell. “Ingat kenangan kita dulu.” Jawab Mira. “Emangnya ada yang bagus?” Tanya Darrell. Seingatnya tak ada kenangan yang bagus selama mereka pacaran. Darrell sering sekali tak memperdulikan Mira. Baru-baru ini ia memperdulikan Mira karena bersalah. Mira menampar Irenee lalu membully Irenee adik kembarnya. Darrell yang tersulut emosi langsung menampar Mira saat itu. Mangkanya sampai sekarang ia merasa bersalah dengan Mira. Irenee tak terima dengan perlakuan Mira dan gengnya. Ia membuat seluruh keluarga Mira dan temannya bangkrut. Sedangkan Darrell yang merasa bersalah kepada Mira karena menampar perempuan itu. Memberikan apartemen sebagai ganti rumah yang di sita. Dan menjatahnya uang tiap bulan sampai sekarang. Mira terbiasa hidup mewah sejak kecil mangkanya saat Mira dibuat bangkrut oleh kembarannya ia kasian. Hanya kasian dan empati. Bukan peduli. Ia hanya merasa perlu bertanggung jawab kepada kehidupan gadis itu. Dan lihatlah sekarang, Mira yang sombong dan suka menindas orang kecil kini terlihat 180° berbeda. Sekarang gadis itu lebih lembut dan pekerja keras. “Ada. Tapi, ada yang mau aku tanyain. Kenapa waktu itu kamu mau pacaran sama aku?” Tanya Mira. “Menarik. “ Jawab Darrell. Mira tertawa mendengarnya. Itu jawaban yang sama. Menurut Darrell waktu itu, Mira sangat menarik. Benar-benar menarik perhatiannya. Hanya dia satu-satunya perempuan yang berani mengajaknya pacaran selesai Upacara dan di tonton banyak orang. Selama ini para perempuan itu hanya berani mengajaknya berpacaran lewat surat atau pesan. Dan Mira satu-satunya perempuan gila yang berani menembaknya di tempat umum. Waktu itu yang di pikirkan Darrell adalah apa perempuan ini tak malu jika ia menolaknya nanti. Dan anehnya Darrell berkata iya. “Hanya itu?” tanya Mira. Darrell menganguk sebagai jawaban. “Bukan karna aku cantik?” Tanya Mira. Darrell menggeleng. “Ish... Kapan sih muji aku!” Kesal Mira. “Pernah dulu.” “Kapan?” Tuntut Mira. “Pesta di rumahnya Aril.” Mira terdiam mendengar jawaban Darrell. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu. Waktu itu ia merengek ke Darrell supaya di temani belanja. Akhirnya Darrell mengiyakan permintaan Mira mengantarnya belanja. Mira memilih beberapa baju lalu mencobanya. Ia menunjukannya kepada Darrell meminta komentar laki-laki itu. Tapi, setiap baju yang di kenakan Mira mendapat gerakan tangan Darrell yang menyuruh Mira kembali untuk mencoba gaun yang lain. Mira mendesah dengan respon yang di berikan Darrell. Tak ada satupun yang cocok menurut Darrell. Sampai akhirnya pilihannya jatuh kepada gaun bewarna pink abu abu berlengan panjang. Model baju yang sering digunakan bangsawan Eropa. Darrell menganguk setuju dengan baju yang di kenakan Mira. Baju itu sangat cocok di pakai Mira. Mirip boneka. Darrell akhirnya bangkit lalu membayar baju yang di kenakan Mira. Mira merangkul lengan Darrell mesra. Mengajaknya ke Salon. “Kau menyuruhku menunggumu?” Tanya Darrell. Mira menganguk mantap sebagai jawaban. “In your Dream!!” Jawab Darrell yang langsung melepaskan tangan Mira di lengannya. Ia tak suka di suruh menunggu terlebih menunggu perempuan Nyalon. “Padahal waktu itu aku berharap kamu mau nemenin aku ke Salon. Tapi kamu malah ninggalin aku di Mall.” Kata Mira. Darrell mengangkat satu alisnya. Mengingatnya. “Kenapa aku harus menunggumu?” Tanya Darrell akhirnya. Ia merasa tak mempunyai kewajiban untuk menunggui Mira di Salon. Yang penting ia sudah memberikan Black Card untuk Mira belanja. Mira mendecak. “Karna kita Pacaran.” “Jadi, kalau kita Pacaran aku harus mau menunggumu di Salon meskipun aku tak menyukainya?” Tanya Darrell lagi. Mira diam. Ia lalu berdiri. “Sono balik!! Nyebelin!!” Kesal Mira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN