Qilla menarik napas berulang kali. Gadis itu nampak gelisah. Qia yang menyadari kalau ada sesuatu yang tak beres dengan sang putri. Menarik masuk Qilla menuju kamarnya dengan Zayn. "Ikut Bubu, yuk, Teh!" Qilla menurut saja. "Teteh kenapa?" Qia mengusap punggung putrinya. Dia mendapati perubahan pada putrinya sejak kedatangannya. Qilla lebih banyak diam dan banyak melamun. Dan tiba-tiba saja putrinya ini memeluknya. Qilla hanya menggelengkan kepalanya. Dia amat sangat merindukan pelukan hangat ini. Pelukan dari ibunya. Sungguh, beban di pundak Qilla terasa lebih ringan. "Teteh kangen Bubu," lirih Qilla. Qia melepaskan pelukannya. Dia mengusap pipi Qilla yang basah karena air mata. Lalu tersenyum kecil pada sang putri. "Berat ya, Teh?" tanya Qia begitu lirih membuat tangisan Qilla pecah.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


