Terdeteksi Mulai Bucin

1772 Kata
Rumaysha menatap bangunan yang ada di hadapannya. Ada rasa sedih harus meninggalkan tempat yang selama hampir 18 tahun ini dia tinggali. Semuanya dimulai dari sini, bahkan sejak dia belajar berjalan pertama kali, rumah inilah yang menjadi tempat Rumaysha menginjakkan kaki di momen pertamanya. Rumah ini juga menjadi saksi perjuangannya untuk tumbuh dari bayi kecil yang tak bisa apa-apa hingga jadi seorang gadis yang kini sudah memiliki gelar sebagai seorang istri. Kilasan kenangan tentang Rumaysha dan Zayn seolah terputar. Saat kecil dulu, area taman kecil ini akan jadi tempat favorit bagi Rumaysha dan Zayn untuk bermain. Entah itu mencabuti bunga milik Umma untuk dijadikan bahan masak-masakkan atau hal paling nakalnya, mereka mencomot ikan cupang milik papa lalu membakarnya. Ardan yang tengah memanaskan motor menoleh ke arah sang istri. Hari ini keduanya akan pindah ke rumah yang ditempati Ardan. Untuk barang-barang sudah dibawa ke sana. Rumaysha hanya tinggal membawa pakaian beserta barang-barangnya saja, sebab perlatan rumahnya masih lengkap. “Mau besok aja ke sananya?” tawar Ardan yang paham dengan perasaan istrinya. Rumaysha terkesiap, dia menggelengkan kepalanya. “Hari ini aja, Kak. Nanti kalau kangen rumah bisa main kok. Oh iya, mampir dulu buat belanja sayuran, ya?” Ardan menepuk puncak kepala istrinya, lalu memasangkan helmnya pada Rumaysha. “Ih, hidung aku jadi merah!” Ardan tertawa mendengar seruan Rumaysha. Sekarang hobinya bertambah, yaitu membuat Rumaysha merengek kesal. “Nanti sekalian belanja bulanan aja,” kata Ardan. “Bagus, ya, bucin aja terus!” sindir Zayn. Zayn ingin ikut ke rumah Ardan yang akan jadi rumah Rumaysha. Dari tadi masih dia pantau adik dan sahabatnya. Sebagian hatinya masih tidak rela Rumaysha sudah mempunyai suami, mengingat waktu dulu Rumaysha manjanya kepada Zayn. “Iri bilang, Bos!” ejek Ardan membuat Zayn mencibir. “Udah deh gak usah ribut, makin siang makin panas.” Rumaysha bergegas duduk di jok belakang motor Ardan dan duduk di ujung. Gadis itu terbiasa duduk di ujung jok apabila dibonceng, seolah menciptakan jarak dengan si pengendara. “May, kok duduknya jauh banget?” protes Ardan. “Halah, modus itu dia,” timpal Zayn memperkeruh suasana. Tidak mau ambil pusing, meski merasa canggung dan tidak terbiasa, Rumaysha memajukan tubuhnya. Hanya sedikit, sebab dia dan Ardan masih sangat berjarak. “Tangannya dong, May!” Rumaysha memejamkan matanya. Mau naik motor saja ribet sekali. “Kak, tinggal jalan aja. Gak harus aku meluk pinggang Kakak, ‘kan? Bukan apa-apa, gak enak aja kalau dilihat orang. Sekalipun kita udah halal, tapi aku gak biasa,” kata Rumaysha membuat Ardan terdiam. Merasa sedikit sedih dengan ucapan Rumaysha yang terdengar sedikit ketus, akhirnya Ardan hanya diam. Dia tidak bicara apa pun. Kalau boleh jujur, dia agak sesak mendengar ucapan Rumaysha. Namun, Ardan mencoba paham. Tentu bukan hal mudah untuk menerima orang baru dalam hidup. Mungkin Rumaysha juga begitu. Sepanjang jalan, keduanya saling mendiamkan satu sama lain. Diam-diam Rumaysha melirik ke arah spion yang menampilkan ekpresi datar Ardan. Gadis itu memejamkan matanya saat sadar kalau bicaranya sudah keterlaluan pada Ardan. Matanya seketika berkaca-kaca, apalagi sewaktu Ardan tetap membukakan helmnya. Zayn yang turut ikut, menatap keduanya dengan kening berkerut. Tumben amat itu dua orang diam-diaman. Biasanya juga ramai. Tak mau ikut campur, dia memilih berjalan mendahului mereka. Tadi dia mendadak kepikiran ingin beli semangka, melon, dan anggur hijau. Dipotong-potong, lalu diberi es batu juga s**u kental manis. Siang hari begini pasti rasanya segar sekali. “Kakak mau makan apa?” tanya Rumaysha dengan pelan. Dia berusaha keras menahan tangisnya yang hendak pecah. Dia memang cengeng. Kelemahannya adalah dibentak dan dicueki. Ardan menatapnya sekilas. “Ngikut kamu aja,” jawab Ardan singkat. Tidak mau larut dalam pikirannya yang rumit, Rumaysha memutuskan untuk membeli sayuran seperti kangkung, bayam, pokcoy, dan sawi putih. Dia juga membeli baso, sosis, tahu sutra, telur dan 2 wadah filet ayam. Mungkin untuk lain kali dia akan membeli sayuran di pasar langganan umma karena lebih hemat. Tidak hanya sayur, Rumaysha juga membeli bumbu seperti cabai, bawang, dan kunyit. Untuk menerapkan pola makan yang sehat, dia membeli dua jenis buah-buahan untuk memenuhi kebutuhan vitamin mereka berdua. “Sekalian beli beras sama keperluan lain,” kata Ardan. “Iya, Kak.” Maaf, lanjut Rumaysha dalam hati. “Ambil sereal juga, May.” Kekesalan Ardan menguap begitu saja saat melihat betapa telatennya Rumaysha mengurusi keperluan mereka. Dari mulai makanan hingga keperluan Ardan. “Berapa, Kak?” “Dua aja,” jawab Ardan. Mata Ardan menangkap deretan pembalut. Gadis itu mendorong troli ke tempat khusus pembalut. Rumaysha hanya mengekori Ardan. “Beli ini juga buat kebutuhan kamu, biar sekalian, May. Jangan malu-malu, santai,” kata Ardan seraya tersenyum kecil saat melihat pipi istrinya memerah. Rumaysha mengangguk sungkan. “Btw kamu kalau beli sampo sama keperluan mandi, suka yang gimana? Sekalian beli, aku suka wangi sampo kamu.” Kesedihan yang sempat singgah di hatinya seketika hilang karena ulah Ardan. Rumaysha bertekad ingin memperbaiki semuanya. Termasuk mood-nya yang begitu sensitif. “Eh, May, beli lipstik ini deh, aku suka warnanya,” tunjuk Ardan pada sebuah rak yang berisi deretan lipstik. Mata Rumaysha membulat. “Ih warna apaan, merah gitu. Gak mau!” Dulu kalau sebelum menikah, dia terbiasa hanya memakai lip tint. Untuk lip matte, dia kurang suka. “Kan dipakai cuma depan aku, gak apa-apalah,” ujar Ardan kelewat santai. “Yang ini aja, deh.” Rumaysha menunjuk sebuah lip cream berwarna lebih pucat. “Warnanya kurang menggoda, kayak bibir mayat ntar.” Rumaysha memukul bahu Ardan. “Emangnya aku apaan?!” “Ya udah, yang ini aja deh.” Oke setidaknya pilihan Ardan yang ini lebih mending. “Eh, ini ada rasanya gak sih? Coba tester, May, “ ujar Ardan sok polos membuat Rumaysha ingin sekali mencelupkan kepala suaminya itu ke air es supaya bisa berpikir jernih. Entah apa yang merasuki kepala Ardan sampai isi kepalanya jadi penuh debu alias ngeres! “Kak Ardan aja yang pakai,” kesal Rumaysha. “Bercanda, Sayang. Ambil aja yang ini sama yang merah ini. Buat stok,” kata Ardan asal. Pada akhirnya Rumaysha tidak bisa berbuat banyak selain menuruti permintaan Ardan. “Yang, beli samponya sekalian aja lima,” kata Ardan seenak jidat. “Kak Ardan nyuruh Umay jualan?” tanya Rumaysha polos. Oke, kali ini Ardan tak mampu menahan tawanya. “Ya ampun, enggaklah. Buat stok. Kalau abis jadi gampang gitu, wanginya aku suka banget.” “Gak boleh boros, beli aja seperlunya. Kalau habis ‘kan bisa beli lagi.” Setelah Rumaysha perhatikan, Ardan ini tipikal orang yang boros. Kalau beli apa-apa tidak pernah lihat harga. Parah sekali memang. Mungkin Rumaysha akan lebih mengatur pengeluaran mereka. “Iya juga sih, aku ngikut deh.” Rumaysha memasukkan satu botol sampo yang biasa dia beli. “Eh, kamu suka skincare-an ‘kan? Sekalian beli aja, eh sama itu deh beli body care juga.” Rumaysha menggelengkan kepalanya. “Masih banyak punya Umay juga, lagian Kak Ardan ‘kan kemarin udah kasih skincare di hantaran. Belum aku pakai sayang.” “Iya, Sayang?” goda Ardan. “Ih bukan gitu, maksud aku sayang belum dipakai,” kesal Rumaysha. “Ya udah, beli cemilan aja, yuk!” Nah kalau ini Rumaysha semangat. Semakin senang saat dia tahu ternyata selera camilan dia dan Ardan sama. Jadi lebih memudahkan dalam mencarinya. “Abang kamu kemana dah?” tanya Ardan yang baru sadar kalau Zayn tidak bersama mereka. “Eh ini ditelepon Abang,” kata Rumaysha lalu menyerahkan ponselnya pada Ardan. “Lama amat lo berdua, mau beli super market sekalian apa gimana?” protes Zayn ketika telepon mereka sudah terhubung. “Sabar dong. Tunggu, aing mau bayar dulu. Eh Zayn ntar kalau di motor aing gak muat, nitip separo, ya. Assalamu’alaikum!” Ardan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Untungnya ada kasir yang kosong, setidaknya mereka jadi tidak perlu lama mengantri. “Jadi Rp598.000,” kata petugas kasir itu membuat Rumaysha membulatkan matanya. Dengan santai Ardan mengeluarkan uang 600 ribu dari dompetnya. Ini masih terhitung hemat karena biasanya cowok itu menghabiskan hingga satu juta. “Mahal banget,” celetuk Rumaysha pada Ardan yang mendorong troli berisi tiga kantung belanjaan mereka. “Ya gak apa-apa. Kan buat keperluan satu bulan ke depan, insyaallah rezekinya pasti ada lagi,” kata Ardan sambil tersenyum. “May, kasih snack-nya satu ke anak kecil itu,” tunjuk Ardan pada anak kecil pengamen berbaju lusuh. Rumaysha mengangguk. Dia memberikan dua snack beserta sekotak s**u. Matanya melirik ke arah Ardan yang memasukkan satu kantung belanja ke dalam jok motor, sedangkan yang satunya lagi diletakkan di depan. “Yang satunya lagi pegang aja sama kamu, ya?” “Iya, Kak.” Rumaysha jadi ingat dengan kesalahannya yang sudah berbicara dengan nada kurang sopan pada Ardan. “Kak,” panggil Rumaysha. “Kenapa, May?” tanya Ardan sambil memakai helmnya. “Aku minta maaf, ya? Tadi aku sempet bicara dengan nada kasar sama Kakak.” Ardan tersenyum. “Gak apa-apa. Aku juga salah, gak seharusnya aku pamerin kemesraan kita. Mungkin bakal jadi note buat kita berdua. Kalau di tempat umum, ada baiknya ya biasa aja. Gak perlu pelukan, pegangan atau cium kening. Aku nikahi kamu karena pengin jaga kehormatan kamu, bukan malah merusaknya. Jadi tolong ingatkan aku kalau aku di luar batas, ya?” Ardan jadi ingat, dulu dia pernah datang ke kajian yang membahas hal ini. Sebagian orang, kurang baik dalam bergaul dengan istri. Terkadang mencium istrinya di depan banyak orang atau semacamnya. Ini tidak boleh. Kita berlindung kepada Allah dari dampak buruknya. Begitu fatwa dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim yang ustadz sebutkan. Bukan apa-apa, begini saja. Ini istrinya berhijab syar’i, jelas sangat menjaga diri dari laki-laki. Apa jadinya kalau orang melihat Rumaysha yang diperlakukan seperti itu oleh Ardan? Misalnya dicium atau dipeluk. Sekalipun Ardan suaminya, tetapi hal seperti itu rasanya kurang pantas untuk dipertontonkan. Cukup jadi konsumsi Ardan dan Rumaysha saja. Parahnya kalau sampai dilihat laki-laki ajnabi atau yang bukan mahrom. Tahu sendiri otak laki-laki seperti apa. Ardan tidak rida jika istrinya sampai dijadikan objek yang macam-macam. Naudzubillah! “Saling mengingatkan, ya. Ingatkan aku juga supaya enggak memposting tentang kita atau bahkan pamer kebaikan kamu.” Ardan mengangguk. “Siaaap! Kamu sih bawaanya bikin khilaf,” ujar Ardan membuat Rumaysha menatapnya datar. “Mulai!” “Bercanda, Sayang. Aku setuju sama kamu pokoknya. Gak perlu kita umbar soal kemesraan kita. Buat bahagia, kita gak butuh pengakuan orang lain dan ada hati yang harus kuta jaga. Lagian alasan aku bahagia kan simple. Cukup kamu di samping aku, udah dijamin aku bahagia seumur hidup,” kata Ardan mulai merayu. “Masih saya pantau, ya, Bapak.” Ardan tertawa lepas. Dia memasangkan helm pada Rumaysha. Setelahnya langsung menyalakan motor. “Lama amat lo berdua!” kesal Zayn yang menunggu di depan pintu parkiran. Oke, kasihan sekali si jomblo satu itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN