Ebas yang masih ada atas pangkuan Nala, menarik tengkuk Nala dengan lembut, mendekatkannya hingga napas mereka beradu. Matanya menatap dalam, penuh intensitas yang membuat Nala tak mampu mengalihkan pandangannya. “Kamu dengarkan aku baik-baik,” suaranya berat, sedikit serak, “Jangan pernah merasa tidak pantas untukku, Sayang. Karena kamu adalah satu-satunya yang aku butuhkan.” Nala menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat. Ebas tersenyum miring, Nala yang menunduk semakin menunduk karena Ebas menarik tengkuk Nala kembali, menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Awalnya hanya sentuhan ringan, seolah meyakinkan Nala akan kata-katanya. Tapi dalam hitungan detik, lumatan itu semakin dalam. Ebas menyusupkan satu tangan ke tengkuknya, menahannya agar tak bisa menghindar. Nala mengerang

