Seperti yang sudah direncanakan, Nala, Mama Haris, dan Mama Wulan tiba di salah satu butik terkenal di Surabaya. Butik yang sudah lama menjadi langganan keluarga mereka, tempat di mana keanggunan dan kualitas menjadi prioritas utama. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, mereka langsung disambut hangat oleh seorang wanita muda yang mungkin usianya tak jauh beda dengan Nala. Senyumnya ramah, penuh antusiasme. "Tante Haris!" sapanya ceria. Mama Haris tersenyum lebar melihat gadis itu. "Hai, Ane. Sudah kamu siapkan, kan, yang Tante minta?" Seolah baru teringat sesuatu, Mama Haris langsung menepuk keningnya sendiri. "Ah, iya! Hampir lupa!" Ane hanya menggeleng sambil tersenyum, terbiasa dengan tingkah laku kakak dari ibunya itu. "Sini, Sayang." Mama Haris menggandeng tangan Nala dengan penu

